TRIBUNNEWS.COM - Dalam kehidupan, seseorang bisa saja memiliki banyak kelebihan misalnya ilmu yang luas, prestasi, harta, kecantikan, jabatan, maupun kemampuan tertentu.
Namun, semua itu seharusnya tidak membuat hati merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Islam justru mengajarkan tawadhu, yaitu sikap rendah hati dengan menyadari setiap nikmat berasal dari Allah SWT.
Allah berfirman, “Dan janganlah kamu berjalan di bumi dengan sombong” (QS. Al-Isra’: 37).
Rasulullah SAW juga mengingatkan umatnya agar tidak sombong karena Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang sombong.
“Tidak akan masuk neraka seseorang yang di dalam hatinya terdapat iman seberat biji sawi, dan tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi.” (HR. Muslim no. 91b)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa seorang Muslim dianjurkan untuk terus bermuhasabah sekaligus memanjatkan doa agar Allah menjaga hati dari kesombongan dan menumbuhkan sifat tawadhu dalam diri.
Allāhumma ahyinī miskīnan, wa amitnī miskīnan, wahsyurnī fī zumratil-masākīn.
Artinya: "Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan khusyu dan rendah hati, dan matikanlah aku dalam keadaan khusyu dan rendah hati, dan kumpulkanlah aku (pada hari kiamat) dalam rombongan orang-orang yang khusyu dan rendah hati." (HR. Ibnu Majah)
Baca juga: Doa agar Allah SWT Menutupi Aib dan Kesalahan Masa Lalu
Tawadhu bukan berarti merendahkan diri atau menganggap diri tidak memiliki kelebihan.
Dalam Islam, tawadhu adalah kesadaran bahwa segala nikmat, ilmu, kemampuan, harta, dan kedudukan yang dimiliki merupakan karunia Allah.
Karena itu, seseorang yang tawadhu tidak menjadikan kelebihannya sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Berikut beberapa ikhtiar yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan sikap tawadhu dalam kehidupan sehari-hari:
Langkah pertama untuk menjadi pribadi yang tawadhu adalah menyadari bahwa tidak ada kelebihan yang sepenuhnya berasal dari kemampuan diri sendiri.
Kecerdasan, kesehatan, harta, kecantikan, jabatan, maupun keberhasilan merupakan nikmat yang Allah titipkan. Kesadaran ini membantu seseorang terhindar dari perasaan bahwa dirinya lebih hebat daripada orang lain.
Allah berfirman yang artinya: “Dan segala nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (QS. An-Nahl: 53)
Ketika menyadari sumber segala nikmat, seseorang akan lebih mudah bersyukur daripada membanggakan diri.
Tawadhu tumbuh ketika seseorang berhenti sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain.
Prestasi yang tinggi, ilmu yang luas, atau ibadah yang banyak tidak seharusnya membuat seseorang merasa paling baik.
Sebab, manusia tidak pernah mengetahui bagaimana akhir kehidupan dirinya maupun orang lain.
Allah berfirman yang artinya: “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)
Ayat ini mengajarkan agar kita tidak mudah memberikan penilaian tinggi kepada diri sendiri, karena Allah lebih mengetahui kualitas ketakwaan setiap manusia.
Orang yang tawadhu tidak merasa dirinya selalu benar. Ia bersedia mendengarkan nasihat, mengakui kesalahan, dan menerima kebenaran meskipun disampaikan oleh orang yang lebih muda, memiliki kedudukan lebih rendah, atau memiliki kemampuan yang berbeda.
Sikap ini sejalan dengan gambaran hamba Allah dalam ayat Al-Qur'an:
“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati...” (QS. Al-Furqan: 63)
Rendah hati bukan hanya terlihat dari cara berbicara, tetapi juga dari kesediaan untuk mengakui bahwa orang lain bisa memiliki pengetahuan dan kebenaran yang belum kita ketahui.
Tawadhu juga berarti tidak mengukur harga diri seseorang berdasarkan kekayaan, jabatan, pendidikan, popularitas, atau status sosial. Jangan hanya bersikap ramah kepada orang yang memiliki kedudukan, tetapi mengabaikan mereka yang sederhana.
Allah menggambarkan sikap orang beriman dalam ayat berikut:
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu dari kalangan orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu'ara: 215)
Kerendahan hati membuat seseorang mampu memperlakukan orang lain dengan hormat tanpa merasa dirinya lebih tinggi.
Salah satu latihan tawadhu adalah belajar memberikan ruang kepada orang lain.
Misalnya, mendengarkan ketika orang lain berbicara, tidak selalu ingin menjadi pusat perhatian, membantu ketika dibutuhkan, serta tidak keberatan jika orang lain mendapatkan pujian atau kesempatan lebih dahulu.
Sikap ini dapat menjadi latihan untuk mengurangi ego. Kita belajar bahwa dunia tidak selalu harus berputar di sekitar diri sendiri dan bahwa keberhasilan orang lain tidak mengurangi nilai diri kita.
Allah berfirman yang artinya: “Mereka mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan.” (QS. Al-Hasyr: 9)
Tidak ada manusia yang sempurna. Karena itu, salah satu cara menumbuhkan tawadhu adalah rutin melakukan introspeksi. Ingatlah bahwa di balik kelebihan yang kita miliki terdapat banyak kekurangan yang mungkin tidak diketahui orang lain.
Kesadaran tersebut membuat seseorang tidak mudah membanggakan diri. Ia menyadari bahwa masih banyak hal yang harus dipelajari, diperbaiki, dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)
Hadis ini menunjukkan bahwa tawadhu bukan tanda kehinaan. Justru, seseorang yang meninggalkan kesombongan karena Allah akan mendapatkan kemuliaan dari-Nya.
Salah satu latihan tawadhu yang indah adalah mengubah cara kita memandang orang lain. Ketika melihat seseorang yang lebih muda, jangan langsung merasa lebih baik darinya.
Bisa jadi ia memiliki lebih sedikit kesalahan. Ketika bertemu orang yang lebih tua, ingatlah bahwa ia mungkin telah lebih dahulu melakukan amal kebaikan.
Demikian pula ketika bertemu orang yang ilmunya lebih tinggi, jadikan ia sebagai kesempatan untuk belajar, bukan sebagai ancaman terhadap harga diri.
Allah berfirman yang artinya: “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)
Dengan cara pandang seperti ini, kita akan lebih mudah menemukan kebaikan pada diri orang lain daripada sibuk mencari kekurangannya.
Semakin banyak ilmu yang dimiliki seharusnya semakin besar pula kesadaran bahwa masih banyak hal yang belum diketahui.
Ilmu bukan alasan untuk memamerkan kepandaian atau mempermalukan orang yang belum memahami sesuatu.
Allah berfirman yang artinya: “Di atas setiap orang yang berpengetahuan ada yang lebih mengetahui.” (QS. Yusuf: 76)
Karena itu, orang berilmu seharusnya semakin lembut dalam berbicara, terbuka terhadap nasihat, dan menggunakan ilmunya untuk membantu orang lain.
Tawadhu juga dapat dilatih dengan tidak selalu mencari pengakuan dari manusia.
Tidak semua kebaikan harus diketahui orang lain, tidak semua pencapaian harus diumumkan, dan tidak semua keberhasilan harus dipamerkan.
Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seseorang bertawadhu karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)
Ketika tujuan utama kita adalah mencari ridha Allah, pujian manusia tidak lagi menjadi ukuran utama. Kita dapat berbuat baik meskipun tidak mendapatkan tepuk tangan atau pengakuan.
Tawadhu bukan hanya persoalan perilaku yang tampak dari luar, tetapi juga keadaan hati.
Seseorang mungkin terlihat sederhana di hadapan manusia, tetapi di dalam hatinya masih merasa paling hebat.
Karena itu, kita perlu terus bermuhasabah dan memohon pertolongan Allah agar diberi hati yang rendah hati.
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarah.” (HR. Muslim)
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)