TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gunung Anak Krakatau(GAK) yang lokasinya berada di Selat Sunda tepatnya di Lampung Selatan, Provinsi Lampung Kembali erupsi. Pantauan Tribun dari PVMBG Kementerian ESDM erupsi yang ke-12 kalinya terjadi pada Senin(17/8/2026) pada pukul 18.02 WIB.
Baca juga: ASDP: Penyeberangan Merak-Bakauheni Tetap Normal di Tengah Erupsi Gunung Anak Krakatau
Tinggi kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal condong ke arah timur laut. Erupsi tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 42 mm dan durasi kurang lebih 26 detik.
Sebelumnya Gunung Anak Krakatau (GAK) erupsi yang ke-11 kalinya pada pukul 15.15 WIB di hari yang sama dengan tinggi kolom abu teramati kurang lebih 400 meter di atas puncak(kurang lebih 557 meter di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal condong ke arah timur.
Erupsi tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 48 mm dan durasi 2 menit 12 detik. Gunung api yang berada di wilayah Kabupaten Lampung Selatan tersebut tercatat mengalami 12 kali erupsi sejak Minggu(16/8/2026) hingga Senin (17/8/2026) sore.
Erupsi pertama pada Senin terjadi pukul 01.30 WIB dengan amplitudo maksimum 57 mm dan durasi 36 detik. Erupsi berikutnya terjadi pada pukul 02.13 WIB, 03.04 WIB, 03.29 WIB, 04.05 WIB, 04.20 WIB, dan 06.26 WIB.
Dari rangkaian tersebut, erupsi pukul 06.26 WIB paling menonjol secara visual. Kolom abu teramati mencapai sekitar 400 meter di atas puncak atau sekitar 557 meter di atas permukaan laut. Aktivitas erupsi juga terjadi pada Minggu (16/8/2026).
"Dalam sehari, GAK tercatat mengalami delapan kali erupsi, yakni pada pukul 09.12 WIB, 14.32 WIB, 17.06 WIB, 20.09 WIB, 22.11 WIB, 22.19 WIB, 22.36 WIB, dan 23.16 WIB," ujar Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Suwarno.
Tiga erupsi pada Minggu terpantau secara visual. Pada pukul 09.12 WIB, kolom abu mencapai sekitar 200 meter di atas puncak atau sekitar 357 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas sedang hingga tebal mengarah ke barat daya dan barat. Erupsi tersebut memiliki amplitudo maksimum 43 mm dengan durasi 59 detik.
Kemudian, pada pukul 14.32 WIB, kolom abu mencapai sekitar 250 meter di atas puncak atau sekitar 407 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal mengarah ke barat dan barat laut.
Erupsi berikutnya pada pukul 17.06 WIB menghasilkan kolom abu sekitar 300 meter di atas puncak atau sekitar 457 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna hitam dengan intensitas tebal mengarah ke barat dan barat laut.
Baca juga: Sorotan Kasus Dugaan Korupsi PLN-Asabri-Krakatau Steel: 12 Lokasi Digeledah, Rumah Jampidsus Dijaga
Pada Jumat (14/8/2026), GAK tercatat mengalami dua kali erupsi, yakni pukul 08.24 WIB dan 14.40 WIB. Kedua erupsi tersebut tidak teramati secara visual.
Erupsi pukul 08.24 WIB memiliki amplitudo maksimum 42 mm dengan durasi 89 detik, sedangkan erupsi pukul 14.40 WIB memiliki amplitudo maksimum 52 mm dengan durasi 43 detik.
Dengan masih tingginya aktivitas vulkanik tersebut, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.
Masyarakat, wisatawan, dan nelayan yang beraktivitas di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau diminta tetap waspada dan tidak mendekati gunung api maupun melakukan aktivitas di dalam radius yang telah ditetapkan oleh otoritas vulkanologi.
Baca juga: Status Gunung Anak Krakatau Level III, Nelayan Tetap Melaut
Masyarakat juga diimbau terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui informasi resmi dari pihak berwenang untuk mengantisipasi potensi bahaya akibat peningkatan aktivitas vulkanik.