Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Petrus Chrisantus Gonsales
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Pagi yang masih ranum, belum dibelai sang surya. Aco (40) masih mengais rezeki di tengah laut. Berharap ada ikan yang terpancing di mata kailnya.
Mendapatkan beberapa ekor ikan sudah cukup bagi Aco. Selain untuk dijual mendapatkan rezeki bagi kebutuhan ekonomi rumah tangga, adapun yang disisakan menjadi lauk pauk.
Sabtu (15/8/2025) semesta sama sekali tidak memberikan isyarat akan murka. Perahu motor milik Aco mengarungi lautan menuju ke Wuring, tempat tinggalnya.
Wuring merupakah salah satu daerah pesisir yang ada di Maumere, tepatnya di Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat.
Baca juga: Malam-Malam Panjang di Tenda Darurat, Warga Dhawe Nagekeo NTT Menanti Rumah Kembali
Saat gempa pada 12 Desember 1992 silam, Wuring merupakan salah satu tempat yang sangat terdampak akibat Tsunami.
Kembali kepada Aco, di tengah laut, ia merasakan arus air laut yang deras menarik perahu motornya.
Ia melihat arus air laut sedang menunjukan adanya pasang surut. Namun saat perahunya sudah mau menepi di pantai Wuring, ia melihat warga lari berhamburan.
"Saya lihat banyak orang lari. Ada juga yang turun lagi ke kapal mereka," kenang Aco pada peristiwa beberapa hari yang lalu.
Setiba di darat, Aco berlari menuju rumah, mencari istrinya Hadiayah dan kedua anak mereka lalu lari menjauh dari pantai bersama warga lainnya untuk menyelamatkan diri.
Kenang Aco, sesaat setelah gempa, air laut surut jauh sekali. Setelah itu laut kembali naik dengan cepat. Bersyukurnya tidak terjadi Tsunami besar.
Ditemui TribunFlores.com di halaman DPC PDI Perjuangan Sikka, Jalan Wairklau Maumere, Senin (17/8/2026), Aco mengaku sejak malam pertama berada di situ.
"Saya biasanya pagi pergi lihat rumah, habis balik lagi kesini. Karena masih takut," kata Aco.
Gempa Flores berpusat di Mbay, Nagekeo dengan kekuatan Magnitudo 7,7. Getarannya dirasakan hampir di seluruh wilayah Flores. (moa)