Warga Dhawe NTT Tak Berani Pulang, “Kami Minta Bantuan Makanan”
Acos Abdul Qodir August 17, 2026 11:20 PM

TRIBUNNEWS.COM - Warga Kelurahan Dhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih bertahan di tenda darurat tiga hari setelah gempa bumi Magnitudo 7,7 mengguncang Flores, Sabtu (15/8/2026).

Mereka belum berani kembali ke rumah karena sejumlah bangunan mengalami kerusakan. Di tengah ketakutan akan gempa susulan, warga mengaku masih menunggu pendataan kerusakan dan bantuan makanan.

Kelurahan Dhawe berada di Pulau Flores, sedangkan Kota Kupang, ibu kota NTT, berada di Pulau Timor. Jarak garis lurus keduanya sekitar 380 kilometer, sementara akses menuju Dhawe dari Kupang membutuhkan perjalanan antarpulau dan dilanjutkan melalui jalur darat.

Tidur di Tenda, Menunggu Makanan

Hingga Senin (17/8/2026), sebagian warga Dhawe memilih bertahan di lapangan terbuka dan badan jalan. Mereka mendirikan tenda secara mandiri karena khawatir berada di dalam rumah yang rusak.

Kondisi pengungsian juga belum sepenuhnya pulih. Jaringan komunikasi dilaporkan terganggu dan listrik padam.

Warga mengatakan mereka masih cemas karena merasakan guncangan susulan. Informasi mengenai kondisi gempa dan kemungkinan guncangan berikutnya juga disebut belum cukup mereka dapatkan.

Agus, warga RT 02 Kelurahan Dhawe, mengatakan warga masih menunggu pemerintah datang melihat kondisi mereka secara langsung.

“Sejak gempa awal sampai saat ini belum ada pihak pemerintah yang turun ke lapangan dan memberikan bantuan,” ujar Agus, Senin (17/8/2026).

Ia mengatakan warga membutuhkan kebutuhan dasar, terutama makanan.

“Kami minta kalau ada bantuan makanan, bisa diberikan kepada kami,” ujarnya.

Baca juga: BGN Minta Dapur MBG Bantu Warga Terdampak Gempa NTT

Keluhan serupa disampaikan Hendrika Bai.

Ia mengatakan sejumlah rumah di Kelurahan Dhawe mengalami kerusakan berat dan meminta wilayah tersebut turut menjadi perhatian dalam penanganan pascagempa.

“Jangan hanya di kota menjadi pusat perhatian pemerintah. Kami di Kelurahan Dhawe juga terdampak. Banyak rumah yang rusak,” kata Hendrika.

Warga kemudian memilih bertahan di luar rumah. Sebagian tidur beralaskan terpal di lapangan, sementara lainnya berada di badan jalan.

Menunggu Pendataan dan Bantuan

Warga berharap pemerintah segera mendata kerusakan di Dhawe dan memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi, mulai dari makanan, tempat berteduh, layanan kesehatan, hingga informasi pascagempa.

Di sisi lain, pemerintah pusat telah mengirim bantuan ke NTT. Presiden Prabowo Subianto memberangkatkan Bantuan Presiden berupa 50.000 paket sembako ke Maumere pada Sabtu (15/8/2026) untuk disalurkan bertahap ke wilayah terdampak.

Pemerintah juga menugaskan sejumlah pejabat serta mengerahkan kementerian dan lembaga terkait untuk penanganan gempa.

Namun, bantuan yang telah dikirim ke NTT tidak otomatis berarti seluruh titik pengungsian telah menerimanya. Keluhan warga Dhawe mengenai belum menerima makanan merujuk pada kondisi distribusi di lokasi tersebut yang mereka sampaikan pada Senin (17/8/2026).

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi pada Senin juga menyebut Prabowo masih mempertimbangkan kunjungan langsung ke NTT.

68 Meninggal, Data Terus Diperbarui

Gempa Magnitudo 7,7 mengguncang NTT pada Sabtu (15/8/2026). BNPB pada Senin sore melaporkan 68 orang meninggal dan 213 orang luka-luka.

Sementara pemutakhiran BNPB hingga Minggu (16/8/2026) pukul 00.00 WIB mencatat 9.290 warga mengungsi, sekitar 500 di antaranya berada di Nagekeo. Waktu pemutakhiran kedua data tersebut berbeda.

Data kerusakan BNPB sebelumnya mencatat 914 rumah rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan di sejumlah wilayah terdampak.

Di Nagekeo, data BPBD NTT per 16 Agustus mencatat 2.056 warga mengungsi, satu meninggal, dan 10 luka-luka. Kerusakan meliputi 116 rumah rusak berat, enam rusak sedang, dan 42 rusak ringan.

Baca juga: Kisah Korban Selamat Gempa NTT: Terselamatkan oleh Tas hingga Tidur di Gua

Dhawe Masih Bertahan

Bagi warga Dhawe, persoalan pascagempa bukan hanya kerusakan rumah. Mereka masih takut pulang, kekurangan kebutuhan dasar, dan menunggu pendataan kerusakan.

Sambil bertahan di tenda, mereka berharap bantuan menjangkau lokasi tersebut.

“Kami minta kalau ada bantuan makanan, bisa diberikan kepada kami.”

Tiga hari setelah gempa, warga Dhawe masih bertahan di tenda dan menunggu distribusi bantuan menjangkau lokasi mereka. (Tribunnews.com/TribunFlores.com/Albert Aquinaldo)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.