Liputan6.com, Jakarta - Ruben Amorim kembali menjadi sorotan meski AC Milan baru saja menang 4-2 atas Manchester United pada laga uji coba di Wroclaw, Polandia. Koresponden talkSPORT, Alex Crook, memprediksi sang pelatih tidak akan bertahan hingga enam bulan di AC Milan.
Pernyataan itu disampaikan Crook di talkSPORT. Ia menilai performa awal Milan pada pramusim dan rekam jejak Amorim ketika menangani Manchester United menjadi indikator yang mengkhawatirkan.
Kritik Crook juga menyinggung pendekatan taktik serta ucapan Amorim yang disebutnya identik dengan masa sulit di Old Trafford.

AC Milan memenangi laga uji coba kontra Manchester United dengan skor 4-2 di Wroclaw. Hasil tersebut menjadi kemenangan pertama Milan pada rangkaian pramusim setelah sebelumnya gagal meraih kemenangan dalam pertandingan-pertandingan uji coba yang dijalani.
Namun, kemenangan itu tidak mengubah pandangan Crook. Ia menilai tekanan tetap besar dan meragukan masa depan Amorim di kursi pelatih Rossoneri.
"Dia tidak akan bertahan enam bulan di Milan karena dia tidak cukup bagus," kata Alex Crook, yang mengaitkan penilaiannya dengan periode Amorim di Manchester United.
Manchester United membayar 9,2 juta paun untuk menebus Amorim dari Sporting Lisbon saat menunjuknya pada November 2024. Ekspektasi saat itu sangat besar mengingat reputasinya di Portugal. Masa kerjanya di Old Trafford berlangsung 14 bulan sebelum berakhir pada Januari 2026.
Selama menangani United, Amorim meraih 24 kemenangan dari 63 pertandingan di semua kompetisi. Persentase kemenangannya tercatat 38,1 persen, yang disebut sebagai yang terburuk di antara manajer United sejak Sir Alex Ferguson meninggalkan klub pada 2013.
Pada musim pertamanya, United finis di posisi ke-16 Premier League, posisi terendah klub dalam sejarah mereka di kompetisi tersebut. United juga kalah dari Tottenham Hotspur pada final Liga Europa.
Memasuki paruh pertama musim berikutnya, United berada di peringkat ketujuh saat Amorim dipecat pada Januari 2026. Michael Carrick kemudian mengambil alih dan menutup musim dengan finis di posisi ketiga.
Crook menyoroti keputusan Amorim mempertahankan sistem tiga bek, termasuk saat AC Milan menghadapi Chelsea pada laga persahabatan di Jakarta, Indonesia.
"Menarik melihat dia memainkan tiga bek dalam laga persahabatan melawan Chelsea. Macan tutul tidak pernah mengubah coraknya," kata Alex Crook di talkSPORT.
Ia juga mempersoalkan pernyataan Amorim setelah pertandingan tersebut. Menurut Crook, pelatih Milan itu menggunakan istilah yang sama seperti saat awal menangani Manchester United, yaitu meminta tim dan pendukung untuk "menderita".
"Dia menggunakan kata itu ketika pertama kali datang ke Manchester United. Dia memperingatkan penggemar Manchester United bahwa mereka harus menderita," ujar Crook.
Ia lantas merujuk rentetan momen buruk United pada era Amorim, termasuk tersingkir dari Piala Liga oleh Grimsby dan kekalahan pada final Liga Europa.
"Selamat. Kami memang menderita saat menyaksikan sepak bola buruk kalian. Tersingkir dari Piala Liga oleh Grimsby. Final Liga Europa yang sangat buruk itu," cetusnya.
Crook juga tidak ragu melabeli Amorim sebagai manajer terburuk United sejak era Ferguson berakhir.
"Manchester United sudah memiliki banyak manajer sejak Sir Alex Ferguson meninggalkan klub, dan orang ini merupakan manajer terburuk yang pernah mereka miliki," ujar Crook.
Ia mencontohkan laga melawan Everton pada November lalu. United kalah 0-1 meskipun Everton bermain dengan 10 pemain. Menurut Crook, Amorim tetap enggan mengubah sistem dan bahkan memasukkan Mason Mount sebagai wing-back.
"Saya mengatakan tentang pertandingan melawan Everton itu. Everton bermain dengan 10 pemain dan memiliki dua penyerang yang tidak pernah mencetak gol, tetapi dia memasukkan Mason Mount sebagai wing-back karena tidak ingin mengubah sistem," lanjutnya.
Rekan siaran Crook, Sam Matterface, mengajukan pandangan berbeda. Ia mengingatkan bahwa Manchester United menutup musim lalu dengan 71 poin dan menyebut sekitar 30 poin di antaranya diraih saat Amorim masih menjabat.
Crook langsung menanggapi singkat penjelasan tersebut.
"Bagus. Berapa banyak lagi yang sebenarnya bisa MU dapatkan?" balas Crook.
Matterface kemudian berbicara tentang pendekatan Michael Carrick setelah mengambil alih kursi manajer, menilai Carrick memahami posisi dan tuntutan yang menyertai jabatan tersebut.
"Dia memahaminya. Dia tahu di mana seharusnya Manchester United berada," kata Sam Matterface.
Ia menambahkan bahwa fokus Carrick adalah menjaga peningkatan performa, meskipun hal itu membuat standar pembanding semakin tinggi dari musim ke musim.
"Anda harus terus berusaha berkembang sepanjang waktu. Itu tentunya juga membawa tekanan. Dia menempatkan dirinya di bawah tekanan karena harus berusaha menyamai atau melampaui apa yang terjadi musim lalu," ujar Matterface.
Di akhir perdebatan, Crook menyindir sikap Amorim ketika masih di United dan menggambarkannya seperti seseorang yang "memenangkan undian" untuk mendapatkan pekerjaan tersebut.