TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN - Air mata haru pecah setelah tugas pengibaran Bendera Merah Putih dalam upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, berlangsung sukses, Senin (17/8/2026)
33 anggota Paskibraka terdiri dari 17 putri dan 16 putra yang mengemban tugas berbeda, berhasil menjalankan perannya dalam prosesi pengibaran Sang Merah Putih di langit Tarakan.
Kelima anggota Paskibraka tersebut yakni Widya Kaila Ali sebagai pembawa baki, M. Fazril sebagai pembentang, Kyko Marvino sebagai Komandan Pasukan 17, Fatir sebagai Komandan Pasukan 8, serta Multasyam sebagai penggerek bendera.
Di antara mereka, ada Kyko Marvino dan Multasyam tampak terlihat berupaya mengusap sisa air mata saat hendak diwawancarai TribunKaltara.com.
Keduanya menangis bangga bisa menuntaskan tugas yang tak bisa didapatkan semua orang.
Kyko mengungkapkan hari ini ia bertugas sebagai Komandan Pleton Pasukan 17.
"Saya terharu karena bisa berhasil menjalankan tugas sebagai Danton Pasukan 17," urai Kyko.
Baca juga: HUT ke-81 RI, Wali Kota Tarakan Khairul Imbau Warga Jaga Persatuan, Pengangguran Masih jadi PR
Danton Pasukan 17 bertugas memberikan aba-aba kepada seluruh personel, kemudian harus bisa mengatur tempo dan mengatur lurusan setiap barisan.
"Menurut saya sudah biasa dan karena sudah berlatih dan yakin bisa. Ada rasa gugup juga tapi bisa dilewati. Nangisnya tadi karena nangis lega, bangga juga," ungkapnya.
Kyko Marvino lahir di Blitar 18 Mei 2009. Anak ketiga dari empat bersaudara. Ia bercita-cita menjadi abdi negara.
"Mau bergabung di TNI AL," ujarnya.
Selain Kyko, ada Multasyam juga tampak berurai, tak kuasa menahan tangis harunya. Baginya, keberhasilan menaikkan bendera hingga sampai ke puncak menjadi pengalaman yang sangat berarti.
"Saya merasa terharu bisa menaikkan bendera sampai atas dan membanggakan sekolah, serta pelatih dan orangtua saya," ujarnya.
Tugas sebagai penggerek bendera sangat berat. Ja mengaku tugas tersebut sempat terasa sulit ketika pertama kali menjalani latihan.
"Saya terus melatih dan alhamdulillah bisa," katanya.
Tantangan utama baginya adalah memastikan gerakan pengibaran sesuai dengan tempo lagu.
"Karena harus dipaskan di atas," ujar Multasyam.
Latihan berulang akhirnya membuat tugas tersebut dapat dilaksanakan dengan baik.
Tangis yang muncul setelah tugas selesai pun kembali menjadi luapan rasa haru dan lega.
Pengalaman tersebut merupakan kali pertama yang dirasakannya sebagai anggota Paskibraka.
Sebelumnya, Multasyam baru bergabung dengan Paskibraka ketika masuk SMA.
Keinginannya bergabung pun datang dari dalam diri sendiri.
Motivasinya sederhana namun penuh makna, yakni ingin membanggakan sekolah dan orang tuanya.
"Ingin membanggakan sekolah saya dan orangtua," kata remaja yang lahir di Tarakan, 4 Maret 2010.
Multasyam merupakan siswa SMA Negeri 3 Tarakan. Ia merupakan anak terakhir dari empat bersaudara.
Ayahnya bernama Nardi dan ibunya Hamdana. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia bercita-cita menjadi polisi.
"Siap, ingin menjadi polisi," ujarnya.
Widya Kayla Ali menjadi anggota yang dipercaya sebagai pembawa baki Bendera Merah Putih.
Siswi SMA Negeri 1 Tarakan kelas 11 itu mengaku bangga sekaligus terharu setelah berhasil menjalankan tugas bersama rekan-rekannya.
"Pertama-tama saya merasa bangga pada diri saya sendiri karena bisa sampai titik ini. Terus saya merasa terharu," ujar Widya.
Meski sempat terdapat sedikit kesalahan, Widya menyebut hal tersebut dapat diatasi sehingga prosesi tetap berjalan.
Sebelum menjalankan tugas, Widya mengaku tidak melakukan persiapan khusus dari rumah.
Ia juga tak merasa deg-degan meski mengetahui dirinya akan tampil dalam upacara besar tersebut.
Widya tidur sekitar pukul 21.00 WITA dan terbangun pukul 01.30 WITA. Setelah itu, ia langsung mempersiapkan pakaian sebelum berangkat menuju lokasi.
Ia tiba di lokasi sebelum pukul 07.00 WITA dengan kondisi sudah sarapan dan siap bertugas.
Setelah seluruh prosesi pengibaran selesai, rasa bangga semakin terasa.
"Ya bangga banget. Karena bisa mengibarkan bendera Merah Putih," tutur Widya.
Widya merupakan anak pertama dari pasangan Alimuddin dan Nurmila. Ia lahir di Makassar pada 16 Juni 2010.
Setelah menyelesaikan pendidikan SMA nanti, Widya bercita-cita melanjutkan pendidikan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).
"Insya Allah saya akan mendaftar menjadi IPDN," katanya yang ingin dekat dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Tugas berikutnya dijalankan Fazril sebagai pembentang Bendera Merah Putih.
Bagi Fazril, menjadi pembentang bukan sekadar tugas yang diberikan kepadanya.
Sejak awal, posisi tersebut memang menjadi incarannya.
"Perasaan saya hari ini, bangga karena bisa mengibarkan sang merah putih. Terlepas dari itu, ada bimbingan dari para pelatih dan juga Kakak-Kakak purna kami yang senantiasa meluangkan waktunya untuk melatih kami," ujar Fazril.
"Jadi, terlepas itu juga, ini cita-cita saya sendiri untuk menjadi sang pembentang. Karena dari awal memang incarannya pembentang," lanjutnya.
Penunjukan dirinya sebagai pembentang tidak langsung diumumkan sejak awal. Fazril masih harus mengikuti proses seleksi.
"Pengumumannya waktu itu belum ditentukan, tapi saya diseleksi lagi untuk jadi pembentang," katanya.
Saat akhirnya ditunjuk, rasa bangga dan percaya dirinya meningkat.
"Yang pertama saya bangga dan percaya diri saya juga meningkat. Karena alhamdulillah saya dipilih sebagai pembentang. Mungkin karena saya punya potensi," ujar remaja kelahiran Tarakan, 23 Oktober 2009.
Fazril mengaku rasa gugup tetap ada ketika memegang bendera sebelum dibentangkan.
"Rasa gugup pastinya ada, cuman kita harus tetap profesional agar bisa menjalankan tugas kita dengan baik," katanya.
Namun, seluruh tugas dapat dijalankan sesuai latihan.
Fazril merupakan siswa SMK Negeri 2 Tarakan kelas 11 Teknik Alat Berat 1.
Ia adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Ayahnya, almarhum Beni Riansyah, sedangkan ibunya bernama Teti Surianti.
Fazril memiliki cita-cita menjadi bagian dari abdi negara, khususnya Angkatan Laut.
"Cita-cita saya ingin menjadi bagian dari abdi negara, mungkin masuk di Angkatan Laut," ucapnya.
Selain penggerek, pembentang ada juga komandan pasukan 8. Ada Fathir Al Qodir, siswa SMA Swasta Hang Tuah Tarakan.
Fathir adalah teman satu kelas dari M Zainal, anggota Paskibraka tingkat nasional yang saat ini bertugas di Istana.
Fathir mengaku tidak merasa gugup ketika menjalankan tugas sebagai Komandan Pasukan 8.
Namun, ia justru sempat overthinking karena memikirkan aba-aba dan intonasi yang harus disampaikan.
"Kalau dibilang gugup sih enggak, tapi sempat overthinking," ujar Fathir.
Sebagai Komandan Pasukan 8, ia memiliki tugas memberikan sejumlah aba-aba dalam rangkaian pengibaran.
"Komandan Pasukan 8 tugasnya itu pada saat haluan di tengah itu, dia memberikan aba-aba berhenti. Pada pengibaran bendera, dia melakukan aba-aba langkah tegap maju, lantas bendera, dan juga melaksanakan kegiatan pembentangan bendera. Bendera saat dinaikkan, ada aba-aba selesai membentangkan," jelasnya.
Menurutnya tantangan terbesar berada pada aba-aba dan intonasi.
"Karena memikirkan aba-abanya sama intonasinya itu susah. Sulit ya. Karena dulu saya memang enggak pernah jadi pasukan Komandan Pasukan 8," katanya.
Meski begitu, seluruh tugas dapat dilaksanakan sesuai latihan. Fathir pun merasa sangat bangga setelah berhasil menjalankan tugas.
Ia sudah bergabung dengan ekstrakurikuler Paskibraka sejak SMP.
Fathir lahir di Tarakan pada 17 September 2009 dan merupakan anak tunggal dari pasangan Furqon Azis Sirozi dan Erna Suriyanti.
"Insya Allah saya ingin jadi Angkatan Laut. Kalau pun gugur, bisa jadi PNS, masuk IPDN," pungkasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah