Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Robert Ropo
TRIBUNFLORES.COM, BORONG - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, NTT, pada Sabtu (15/8/2026) pagi, masih menyisakan cerita pilu bagi para korban.
Hironimus Jelatu, warga Kampung Rabeng, Dusun Golo Wunis, Desa Ngampang Mas, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, menuturkan saat gempa terjadi, Hironimus sedang mengikuti acara adat kenduri kematian di Kampung Mukun, Kecamatan Kota Komba Utara.
Sementara itu, istri dan anak-anaknya berada di rumah.
Baca juga: Gempa Flores Rusak Rumah Warga, 11 KK di Hokor Sikka Mengungsi ke Tenda Darurat dari Bambu
Saat itu, hati Hironimus tidak tenang karena khawatir terjadi sesuatu terhadap istri dan anak-anaknya di rumah.
Beruntung, istrinya sudah terbangun dan segera berusaha menyelamatkan anak-anak mereka dengan membawa mereka keluar dari rumah.
"Untung saja istri sudah bangun. Ketika terjadi guncangan gempa, dia langsung menarik anak-anak. Satu anak digendong dan mereka berlari keluar rumah sehingga semuanya selamat," tuturnya kepada TRIBUNFLORES.COM, Selasa (18/8/2026).
Hironimus mengaku saat itu pikirannya tidak tenang dan ingin segera pulang untuk memastikan kondisi keluarganya. Namun, ia juga khawatir terjadi longsor di sepanjang perjalanan.
"Saya memang tidak tenang dan ingin langsung pulang. Namun, saya juga takut kalau terjadi longsor di jalan. Serba dilematis dan pikiran saya saat itu tidak karuan," ungkapnya.
Selain rasa trauma, gempa tersebut juga menyebabkan Hironimus mengalami kerugian besar yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp70 juta.
Rumah permanen miliknya yang berukuran 6 x 9 meter mengalami kerusakan berat. Seluruh dinding rumah retak dan sebagian di antaranya terancam roboh. Untuk sementara, bagian rumah yang mengalami kerusakan ditahan menggunakan papan kayu agar tidak roboh.
Terkait kondisi rumahnya, Hironimus mengatakan kerusakan tersebut sudah didata oleh Sekretaris Desa setempat. Namun, hingga saat ini, ia belum menerima bantuan dari pemerintah.
"Saya mohon semoga ada bantuan dari pemerintah untuk membangun kembali rumah kami. Saat ini kami masih trauma dan memilih tidur di luar rumah. Kami membangun posko mandiri karena khawatir untuk kembali masuk ke rumah," ungkapnya. (rob)