BANGKAPOS.COM, BANGKA - Laut di hadapan Desa Kumbung, Kecamatan Lepar, Kabupaten Bangka Selatan, tampak tenang. Rumah-rumah kayu berdiri rapat di tepian air, sementara sejumlah perahu warna-warni bergoyang mengikuti gelombang.
Pemandangan itu seperti menyimpan jejak kehidupan masyarakat yang sejak dahulu menjadikan laut sebagai rumah sekaligus sumber penghidupan.
Di tempat inilah Suku Sawang atau Suku Sekak, yang dikenal pula sebagai Suku Laut, pernah hidup dalam jumlah besar.
Mereka berpindah dari satu perairan ke perairan lain mengikuti musim, membaca arah angin dan gelombang untuk menentukan tempat berlabuh.
Kini, jejak komunitas itu semakin tipis.
Perjalanan dari Toboali menuju Kumbung memakan waktu sekitar dua jam.
Dari Pelabuhan Sadai, perjalanan dilanjutkan dengan speedboat menuju Pelabuhan Penutuk di Pulau Lepar.
Setelah menyeberang sekitar lima hingga 10 menit, perjalanan diteruskan sekitar 20 kilometer melalui jalan darat.
Perkebunan sawit, lada, karet, bukit, dan bongkahan batu menjadi pemandangan sepanjang perjalanan.
Di salah satu rumah di Kumbung, Matyani baru pulang berkebun.
Kupluk hitam masih menempel di kepalanya, sedangkan sebilah parang tergantung di pinggang.
Ia merupakan tokoh adat Suku Sawang Kumbung dan memperkirakan dirinya sebagai keturunan generasi kedelapan atau kesembilan.
“Kalau tidak salah saya keturunan kedelapan atau kesembilan,” kata Matyani saat diwawancarai Bangkapos.com, Rabu (11/8/2026).
Menurut cerita para tetua, keberadaan Suku Sawang di Kumbung telah tercatat sejak 1932.
Sebelum menetap, leluhur mereka menjalani kehidupan berpindah-pindah di sejumlah wilayah perairan Riau dan Kepulauan Riau-Lingga.
Mereka kemudian menuju Kepulauan Bangka Belitung, dari Belinyu ke Pulau Semujur, sebagian menyebar ke Pulau Pongok, sebelum akhirnya menetap di Kumbung.
“Memang begitulah Suku Sawang, tiap tahunnya memang mengejar musim, mengikut arah musim,” tutur Matyani.
Bagi mereka, angin bukan sekadar fenomena alam. Arah angin menjadi petunjuk kapan harus berpindah.
Ketika angin barat datang dan laut mulai bergolak, mereka mencari perairan yang lebih teduh. Pengetahuan itu diwariskan antargenerasi melalui pengalaman hidup di laut.
“Memang mayoritas mata pencaharian Suku Sawang ini adalah nelayan. Mata pencahariannya tetap di laut,” kata Matyani.
Namun, kehidupan tersebut perlahan berubah. Sejak 1989, masyarakat Suku Sawang di Kumbung mulai membangun rumah di daratan.
Perahu tetap digunakan, tetapi kehidupan tidak lagi sepenuhnya berlangsung di atas air.
Sebagian keturunan mereka masih menjadi nelayan, sementara lainnya beralih menjadi petani.
Perubahan itu kemudian diikuti penyusutan jumlah komunitas.
Sebagian warga pindah ke daerah lain, antara lain Dusun Kedimpal, Desa Baskara Bakti, Kecamatan Namang, Bangka Tengah.
Pekerjaan dan penghasilan menjadi salah satu alasan perpindahan.
Perkawinan dengan masyarakat di luar komunitas juga membuat jumlah keturunan yang dianggap sebagai Suku Sawang asli semakin sedikit.
Matyani menyebut kini hanya sekitar dua kepala keluarga yang masih bertahan di Kumbung.
“Regenerasi Suku Sawang di Desa Kumbung saat ini sudah tidak ada lagi,” katanya.
Kepala Desa Kumbung Sutarpan membenarkan kondisi tersebut.
Menurut dia, saat ini tidak lagi terdapat masyarakat yang benar-benar asli Suku Sawang di desanya. Yang tersisa hanya sekitar dua hingga tiga kepala keluarga keturunan Suku Sawang.
“Cuma berkurangnya Suku Sawang di Desa Kumbung faktornya banyak, ada yang karena status kawin dengan orang luar, yang kedua dari segi mata pencaharian,” kata Sutarpan, Rabu (12/8/2026).
Keturunan Suku Sawang kini berbaur dengan masyarakat Kumbung. Mereka hadir dalam tahlilan, pesta, dan berbagai kegiatan sosial desa.
“Kalau sekarang suka kumpul, suka nimbrung di keramaian, baik itu misal ada yang tahlilan kematian maupun ada yang pesta,” ujar Sutarpan.
Di tengah percampuran itu, bahasa Sawang masih menjadi salah satu penanda identitas.
Bahasa tersebut digunakan ketika anggota keluarga berkomunikasi di rumah, sedangkan bahasa Melayu lebih dominan ketika berinteraksi dengan masyarakat luas.
“Kalau kita dengan masyarakat yang luar, pakai bahasa kampung, bahasa Melayu, kecuali kita sama dengan keluarga, baru kita pakai bahasa Sawang,” kata Matyani.
Namun, ketika jumlah orangnya terus menyusut, bukan hanya bahasa yang berada di persimpangan.
Tradisi leluhur mereka pun mulai kehilangan ruang untuk diwariskan. Salah satunya Muang Jong atau Buang Jong, ritual yang selama generations menjadi bagian penting kehidupan Suku Sawang sebagai masyarakat nelayan.
Tradisi itu menjadi bentuk sedekah laut sekaligus permohonan keselamatan bagi mereka yang menggantungkan hidup kepada laut.
Ketika orang-orangnya semakin sedikit dan tersebar, ritual yang membutuhkan keterlibatan banyak anggota komunitas pun semakin sulit dipertahankan.
Dalam dua tahun terakhir, Muang Jong bahkan tidak lagi digelar di Kumbung. (u1)