Suku Sawang Bangka Belitung Bukan Sekadar Diteliti
Fitriadi August 18, 2026 11:27 AM

BANGKAPOS.COM, BELITUNG - Penulis Sejarah dari Belitung, Wahyu Kurniawan mengatakan, persoalan masyarakat Suku Sawang tidak akan selesai kalau hanya berhenti pada penelitian dan dokumentasi budaya.

Mereka sudah menjadi objek penelitian sejak zaman kolonial Belanda. Tapi sampai sekarang, kehidupan masyarakatnya belum banyak berubah.

Kata Wahyu Kurniawan, Suku Sawang sudah tercatat dalam laporan-laporan kolonial sejak abad ke-19.

Sampai hari ini mereka terus diteliti, baik dari sisi kebudayaan, ekonomi maupun antropologi. 

"Tapi pertanyaannya, apakah berbagai penelitian itu sudah benar-benar memberikan perubahan bagi kehidupan mereka? Ternyata belum signifikan," ujar Wahyu Kurniawan saat diwawancara Bangkapos.com.

Baca juga: Suku Sawang Bangka Selatan Tergerus Zaman

"Kalau kita melihat catatan sejarah kolonial, masyarakat Suku Sawang atau orang laut pernah dikaitkan dengan aktivitas perompakan yang didalangi elite pribumi," kata Wahyu.

Dokumentasi foto bersama saat masyarakat Suku Sawang menampilkan kesenian Campak Dalong dalam sebuah kegiatan.
Dokumentasi foto bersama saat masyarakat Suku Sawang menampilkan kesenian Campak Dalong dalam sebuah kegiatan. ((Bangkapos/Arya Bima Mahendra))

Hal itu, kata Wahyu, menunjukkan bahwa sejak dahulu posisi mereka memang rentan dieksploitasi oleh kelompok yang memiliki kekuasaan, modal, maupun akses pendidikan.

Masyarakat Suku Sawang lebih banyak mengandalkan kemampuan fisik dan pengetahuan tradisional untuk menjalani kehidupan di laut.

Baca juga: Campak Dalung Sisa Peninggalan Suku Sawang di Bangka

Kemampuan itu kemudian dimanfaatkan berbagai pihak, termasuk ketika industri pertambangan timah berkembang di Belitung.

"Mereka menjadi buruh dan pengangkut barang di pelabuhan-pelabuhan timah. Perempuan-perempuannya juga bekerja sebagai penjahit karung timah," kata Wahyu.

Grafis keberadaan warga Suku Sawang di Desa Kumbung Kecamatan Lepar Kabupaten Bangka Selatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Populasi warga Suku Sawang terus berkurang.
Grafis keberadaan warga Suku Sawang di Desa Kumbung Kecamatan Lepar Kabupaten Bangka Selatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Populasi warga Suku Sawang terus berkurang. (Notebook LM/Sigit)

Kemudian zaman berubah. Kehidupan masyarakat Suku Sawang perlahan bergeser dari laut ke daratan.

Tetapi, kata Wahyu, perpindahan itu ternyata tidak otomatis membawa perubahan kesejahteraan.

Selama puluhan tahun mereka terus menjadi bahan kajian akademisi maupun pemerintah.

Tetapi hasil penelitian itu belum banyak yang diterjemahkan menjadi program pembangunan yang benar-benar bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat Suku Sawang.

"Secara pribadi saya merasa terusik karena saya juga menjadi bagian dari orang-orang yang menulis tentang mereka, tetapi belum mampu memberikan perubahan yang signifikan bagi kehidupan masyarakat Suku Sawang," kata Wahyu.

Wahyu mengatakan Pemerintah sebenarnya sudah memberikan perhatian. Tetapi menurut saya, perhatian itu harus diperkuat melalui kebijakan yang lebih konkret.

Kalau pemerintah dan kalangan akademisi benar-benar serius ingin mengangkat harkat dan martabat masyarakat Suku Sawang, jangan berhenti pada pencatatan atau penelitian.

"Penelitian harus dilanjutkan dengan perencanaan pembangunan. Pembangunan itu bukan hanya soal fisik," kata Wahyu.

Sumber daya manusianya juga harus dibangun, pendidikannya ditingkatkan, kapasitasnya diperkuat, termasuk sarana dan prasarana yang memang mereka butuhkan.

Karena perubahan kehidupan itu pula, kita sekarang mulai melihat hilangnya sejumlah pengetahuan tradisional masyarakat Suku Sawang.

Salah satunya kemampuan membuat perahu. Dulu membuat perahu merupakan bagian penting dari kehidupan orang laut.

Sekarang mereka sudah tidak lagi mampu membuat perahu sendiri. Perahu yang digunakan kebanyakan merupakan bantuan atau dibuat oleh pengrajin kapal.

Pengetahuan tradisional itu perlahan hilang karena kehidupan mereka sudah banyak berubah menjadi buruh.

"Karena itu, saya kira persoalan Suku Sawang jangan hanya dilihat sebagai persoalan pelestarian budaya," kata Wahyu.

Wahyu menambahkan, Suku Sawang sedang menghadapi persoalan sosial yang jauh lebih kompleks.

Kalau kita lihat perjalanan sejarahnya, masyarakat Suku Sawang belum pernah benar-benar berada dalam posisi yang menguntungkan.

Pada masa kerajaan mereka dikaitkan dengan aktivitas bajak laut.

Pada masa kolonial mereka masuk dalam sistem perburuhan. Setelah masa kemerdekaan, posisi mereka justru semakin tidak jelas.

"Karena itu saya melihat masyarakat Suku Sawang saat ini sedang menuju titik nadir," ujarnya.

Kehidupan mereka belum menunjukkan perubahan yang lebih baik dibandingkan era-era sebelumnya.

Pembangunan masyarakat Suku Sawang juga tidak bisa disamakan begitu saja dengan masyarakat pada umumnya.

"Menurut saya, pembangunan harus dimulai dari mental dan karakter, kemudian pendidikan, peningkatan kapasitas, serta penyediaan sarana yang benar-benar mereka butuhkan.

Tujuannya sederhana, supaya masyarakat Suku Sawang memiliki kesempatan yang sama dengan masyarakat lainnya," kata Wahyu Kurniawan. (dol)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.