Salah satunya, satu orang meninggal dunia dalam kecelakaan beruntun yang melibatkan mobil tangki dan beberapa sepeda motor di Jalan Ahmad Yani Km 30, Landasanulin, Banjarbaru, Sabtu (15/8/2026) sekitar pukul 22.30 Wita.
Baca juga: Sukses Kibarkan Bendera, Paskibraka asal Kalsel I Nyoman Harya Dapat Ucapan Selamat dari Raffi Ahmad
Baca juga: Gempa Kembali Guncang NTT Selasa 18 Agustus 2026, Berkekuatan M 4,1 dengan Pusat Getaran di Ruteng
Satu orang meninggal dunia dalam kecelakaan beruntun yang melibatkan mobil tangki dan beberapa sepeda motor di Jalan Ahmad Yani Km 30, Landasanulin, Banjarbaru, Sabtu (15/8/2026) sekitar pukul 22.30 Wita.
Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasatlantas) Polres Banjarbaru, AKP Tio Septian, mengatakan, kejadian ini berawal ketika mobil melaju dari arah Banjarmasin menuju Banjarbaru.
Saat itu, beberapa pengendara sepeda motor hendak melakukan putar balik di u-turn dan terlibat kecelakaan dengan mobil yang melaju di belakang dari arah yang sama.
“Untuk kronologi singkatnya itu jadi dari kendaraan ini (mobil) melintas dari Banjarmasin menuju arah Banjarbaru, dan pada saat di titik lokasi itu, terjadilah kecelakaan pas di depan U-turn Stikes.
Dari sejumlah korban pemotor yang dilarikan ke rumah sakit, satu di antaranya dinyatakan meninggal dunia.
“Satu meninggal dunia pada saat itu sudah menjalani perawatan di rumah sakit, dan yang lainnya hanya mengalami luka-luka ringan dan pada hari itu juga sudah kembali ke rumah masing-masing,” kata AKP Tio.
Ia juga menyebut, kasus kecelakaan ini masih didalami oleh Satlantas Polres Banjarbaru.
Petugas juga telah mengamankan sopir tangki untuk diperiksa lebih lanjut.
“Untuk saat ini proses sudah kita tangani, sedang kita tangani, untuk dari pengemudi sudah kami amankan dan kami periksa lebih lanjut,” jelasnya.
Kecelakaan jelang tengah malam itu tepat di putar balik atau u-turn depan Masjid Nurul Muhajirin, Kecamatan Landasanulin, Kota Banjarbaru.
Para korban banyak dari pengendara sepeda motor yang sedang mengantre untuk berputar arah di u-turn.
Kejadian ini sempat membuat geger warga dan pengendara lain, sebab melihat banyaknya korban yang tergeletak bersama sepeda motor di jalan.
Satu per satu relawan berdatangan menggunakan mobil untuk melakukan evakuasi para korban ke rumah sakit setempat.
Sekitar 10 korban dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Namun, satu korban yang mengalami luka parah dinyatakan meninggal dunia setelah tiba di rumah sakit.
Pameran perumahan yang digelar DPD REI Kalsel pada 12-16 Agustus 2026 di Duta Mall Banjarmasin telah berakhir pada Minggu (16/8/2026) malam dengan mencatatkan banyak transaksi.
H Irwansyah ketua panitia, mengucapkan terima kasih kepada banyak pihak yang sudah mendukung dan terlibat pada pameran ini.
"Alhamdulillah dalam lima hari pameran, total transaksi Rp 47,690,454,320 atau Rp 47 miliar lebih," ujarnya saat laporan pada penutupan.
Irwansyah pun bersyukur dalam kondisi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja ini masih bisa mencatatkan penjualan yang baik.
"Terima kasih kepada para perbankan, para peserta, sponsor dari BP Tapera, Mandiri, BRI, BNI, Bank Kalsel, Bank Kalsel Syariah, BTN, BSN, BSI, FORTRESS, Telkomsel, media partner Banjarmasin Post dan semua pihak," katanya.
Di pameran ini, tandasnya, memberikan kemudahan bagi masyarakat yang membutuhkan hunian, antara lain bebas biaya, tanpa DP, serta cashback dan juga garansi konstruksi rumah.
Ketua DPD REI Kalsel, H Ahyat Sarbini, pada sambutan penutupan, mengucap Alhamdulillah, REI adalah satu-satunya asosiasi yang Istiqomah melaksanakan pameran.
"Ini bentuk kepedulian asosiasi terhadap anggota dan juga bagian promosi organisasi, bagi yang mau belajar bisnis perumahan silakan bergabung di REI Kalsel," katanya.
Dia menegaskan, para pengembang yang bernaung di REI Kalsel saling kolaborasi dan bersatu untuk tumbuh kembang bersama dan menjaga pertumbuhan ekonomi.
"Selama dua dekade konsisten menggelar pameran, menandakan bahwa REI adalah mitra strategis yang terpercaya. Mari kita habiskan kuota perumahan dan dukung perekonomian banua," ujarnya.
Dikatakan Ahyat, pihaknya dalam waktu dekat juga akan mengadakan pelatihan untuk menciptakan kader REI berintegritas. "Tunggu saja informasinya. Sampai jumpa di REI Expo ke-21 pada 2027 nanti," ucapnya.
Kasus dugaan kekerasan terhadap sejumlah santri di Pondok Pesantren Modern Al-Furqan Muhammadiyah Banjarmasin berakhir damai melalui mediasi antara masing-masing dari keluarga korban dan santri yang terlibat.
Mediasi digelar pada Minggu (16/8/2026), dengan menghadirkan orang tua dan santri kelas 11 dan 12 yang terlibat. Pertemuan juga dihadiri pimpinan pondok dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Al-Furqan.
Kepala Asrama Ponpes Al-Furqan, Ustaz Chusnul Akib mengatakan, masing-masing pihak diberi kesempatan menyampaikan aspirasi dan masukan dalam mediasi tersebut.
Keluarga santri kelas 12 kemudian menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban. Kedua pihak akhirnya sepakat berdamai dan menandatangani sejumlah kesepakatan perbaikan yang disaksikan pimpinan pondok dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah.
“Alhamdulillah bisa terselesaikan dengan damai secara kekeluargaan,” ujar Akib, Senin (17/8/2026).
Meski berakhir damai, pihak pondok tetap memberikan sanksi kepada santri kelas 12 yang terlibat. Mereka diberikan Surat Peringatan (SP) 2 dan diwajibkan menandatangani surat perjanjian untuk tidak mengulangi pelanggaran.
Jika kembali melakukan pelanggaran, sanksi akan ditingkatkan menjadi SP3 berupa dikeluarkan dari asrama.
Selain itu, pondok untuk sementara membekukan organisasi mudhabir dan mudhabiro yang selama ini melibatkan santri kelas 11 dan 12 dalam membantu kegiatan dan pengawasan santri.
Sebagai gantinya, pendampingan santri akan dilakukan langsung oleh ustaz dan ustazah.
“Untuk sementara kita bekukan, jadi tidak ada lagi keorganisasian mudhabir-mudhabiro. Sebagai penggantinya adalah ustaz langsung yang menjalankan semua kegiatan,” katanya.
Menurut Akib, mudhabir dan mudhabiro selama ini membantu berbagai aktivitas santri, mulai dari pendampingan bahasa Arab dan Inggris, kegiatan di masjid hingga pengawasan aktivitas sehari-hari di asrama.
Ia menyebut hubungan antara santri kelas 11 dan 12 selama ini berjalan baik, karena mereka menjalani aktivitas bersama selama berada di pesantren.
“Selama ini Alhamdulillah aman, tidak ada masalah,” katanya.
Akib menambahkan, perubahan sistem pendampingan tersebut menjadi bagian dari evaluasi pondok setelah terjadinya persoalan antara santri kelas 11 dan 12.
Sebelumnya, persoalan bermula dari kejadian di asrama pada Sabtu malam (8/8/2026) yang melibatkan santri kelas 11 dan kelas 12. Sejumlah santri kelas 11 diduga mengalami kekerasan oleh kakak tingkatnya.
Salah satu santri dilaporkan mengalami cedera dan sempat mendapat penanganan medis. Informasi mengenai kejadian tersebut kemudian diketahui orang tua dan pihak pondok.
Pihak pondok selanjutnya melakukan pendalaman dan berkomunikasi dengan keluarga santri. Lalu, mediasi antara keluarga korban dan keluarga santri kelas 12 digelar pada Minggu (16/8/2026). (banjarmasinpost.co.id)