TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBU RAYA - Kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan Barat kembali memburuk akibat asap yang ditimbulkan dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Kalimantan Barat, Sutikno, mengatakan kondisi kualitas udara di beberapa daerah perlu mendapat perhatian masyarakat.
Hal tersebut disampaikannya berdasarkan pemantauan kondisi udara pada Selasa 18 Agustus 2026 pagi.
"Kualitas udara di Kalbar umumnya memang masih berpotensi tidak sehat. Khususnya Sintang, Mempawah dan Kubu Raya," kata Sutikno.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut tidak terlepas dari masih terjadinya karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.
"Karena memang masih banyak karhutla," ujarnya.
Baca juga: Daftar Daerah Terancam Cuaca Ekstrem Besok 11 Agustus 2026 dari BMKG, Kalbar Termasuk?
Berdasarkan data pemantauan pada Selasa pagi, Kabupaten Sintang dan Mempawah tercatat berada pada kategori kualitas udara tidak sehat.
Sementara itu, kondisi yang lebih mengkhawatirkan terjadi di Kabupaten Kubu Raya yang masuk dalam kategori berbahaya.
Sutikno menyebut konsentrasi partikulat di Kubu Raya mencapai 284,1 µg/m⊃3;.
"Kubu Raya kategori berbahaya dan mencapai angka 284,1 µg/m⊃3;," jelasnya.
Tingginya konsentrasi partikulat tersebut menunjukkan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika melakukan aktivitas di luar ruangan.
Sebagai gambaran, kualitas udara dengan indeks atau konsentrasi partikulat yang rendah menunjukkan kondisi udara yang relatif lebih baik. Namun, semakin tinggi konsentrasi partikulat, semakin besar pula potensi dampaknya terhadap kesehatan.
Kondisi udara baik umumnya berada pada rentang 0-50 µg/m⊃3;. Pada kondisi ini, kualitas udara relatif aman bagi aktivitas masyarakat.
Selanjutnya, rentang 51-100 µg/m⊃3; masuk kategori sedang. Pada kondisi tersebut, kualitas udara masih relatif dapat diterima, meskipun kelompok tertentu yang sangat sensitif dapat mulai merasakan dampaknya.
Sementara itu, konsentrasi 101-150 µg/m⊃3; menunjukkan kondisi tidak sehat bagi kelompok sensitif. Anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan perlu lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk.
Adapun angka 284,1 µg/m⊃3; yang tercatat di Kubu Raya menunjukkan kondisi yang jauh lebih buruk sehingga masyarakat perlu membatasi paparan terhadap udara luar, terutama ketika konsentrasi asap sedang tinggi.
Kondisi kualitas udara tersebut menjadi perhatian karena paparan asap karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya pada kelompok rentan.
Masyarakat di wilayah yang terdampak asap diimbau memperhatikan kondisi udara sebelum melakukan aktivitas di luar rumah.
Selain itu, masyarakat dapat mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara sedang memburuk dan menghindari aktivitas yang dapat memperburuk kualitas udara.
Kewaspadaan terutama perlu ditingkatkan oleh anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki keluhan atau gangguan pada saluran pernapasan.
Kondisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat.
Masyarakat diharapkan ikut menjaga lingkungan serta segera melaporkan apabila menemukan titik atau kejadian yang berpotensi menimbulkan kebakaran lahan.