Sosok Margono Djojohadikusumo Pria Banyumas Kakek Prabowo Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
TRIBUNJATENG.COM - Sosok Margono Djojohadikusumo, kakek Presiden Prabowo Subianto yang diusulkan menjadi Pahlawan Nasional oleh Pemprov Jawa Tengah.
Semasa hidupnya, ia banyak berjuang untuk membangun negara.
Peninggalannya pun masih terlihat sampai sekarang. Margono merupakan pendidi Bank Negara Indonesia (BNI)
Baca juga: Sosok KH Sholeh Darat Ulama Besar Guru Pendiri NU dan Muhammadiyah, Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Raden Mas Margono Djojohadikusumo lahir di Banyumas pada 16 Mei 1894 dan wafat pada 25 Juli 1978.
Ayahnya merupakan bagian dari kaum bangsawan Jawa, dan pernah bertugas dalam pemerintahan distrik serta pengadilan di lingkungan birokrasi kolonial.
Keluarganya merupakan keturunan seorang bangsawan yang pernah berjuang melawan Belanda selama Perang Jawa.
Selain itu, silsilahnya juga dapat ditelusuri kembali kepada R. Joko Kaiman, yang dikenal sebagai pendiri Banyumas sekaligus bupati pertamanya.
Margono menggambarkan keluarganya sebagai kaum aristokrat yang "miskin", dan mencatat bahwa meskipun ia merupakan anak keenam, semua kakak kandungnya meninggal saat masih kanak-kanak.
Menurut Margono, ia tidak pernah menziarahi makam leluhurnya karena sang leluhur telah menolak mengakui siapa pun dari keturunannya yang bekerja untuk pihak Belanda.
Ia mulai bersekolah di sebuah Europeesche Lagere School (sekolah dasar kolonial) pada tahun 1901, dan setelah lulus pada tahun 1907, ia melanjutkan studinya di sebuah Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA; sekolah pegawai negeri bagi pribumi Indonesia) di Magelang hingga tahun 1911.[3]
Dirikan BNI
Setelah lulus dari OSVIA, Margono menjadi pegawai negeri sipil di departemen kepolisian.
Kemudian, ia bergabung dengan Dinas Kredit Rakyat Belanda ("Volkscredietwezen") pada tahun 1917, mengikuti kursus di Batavia untuk menjadi inspektur adjutan pada tahun 1921.
Ia ditugaskan ke Madiun dan Malang sebelum ditempatkan sebagai inspektur di Batavia pada tahun 1927.
Saat bekerja di lembaga kredit, Margono sempat ditugaskan ke Eropa di Kementerian Koloni di Den Haag antara tahun 1937 dan 1938.
Margono menghadiri Kongres Koperasi pada tahun 1938 sebagai bagian dari penugasan ini, mewakili Hindia Belanda.
Selama pendudukan Jepang, Margono bekerja di kementerian dalam negeri pemerintah pendudukan, di departemen koperasi.
Ia juga diangkat menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan.
Menyusul proklamasi kemerdekaan Indonesia, Margono diangkat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung pada tanggal 25 September 1945 hingga ia mengundurkan diri dua bulan kemudian.
Karena ingin membentuk bank nasional Indonesia, Margono awalnya mendekati Wakil Menteri Keuangan Surachman Tjokroadisurjo dengan proposal untuk membentuk bank tersebut.
Namun, Tjokroadisurjo menolaknya, lebih memilih menasionalisasi bank sentral kolonial De Javasche Bank daripada menciptakan bank baru.
Margono kemudian menemui Wakil Presiden Mohammad Hatta, yang menyetujui dan menandatangani proposalnya.
Margono kemudian melakukan perjalanan ke berbagai kota di Jawa untuk mengumpulkan dana bagi bank baru tersebut, dan juga mendapatkan uang dari dana publik yang mendukung kemerdekaan Indonesia.
Ia merekrut staf untuk bank baru tersebut, dan mendirikan kantor di Jakarta sebelum pindah ke Yogyakarta karena meningkatnya kehadiran Belanda di Jakarta.
Bank tersebut resmi berdiri sebagai Bank Negara Indonesia (BNI) pada tanggal 5 Juli 1946, dan Margono menjadi presiden pertamanya.
Margono sempat dipenjara oleh pasukan Belanda setelah Operasi Kraai pada tahun 1948.
Setelah dibebaskan, ia berpartisipasi sebagai bagian dari delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar hingga ia digantikan oleh putranya, Sumitro Djojohadikusumo.
Di Indonesia yang merdeka, Margono diangkat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sementara dari Partai Indonesia Raya.
Ia juga menjabat sebagai presiden Bank Industri Negara sejak didirikan pada tahun 1951 hingga ia digantikan sebagai presiden BNI dan bank industri tersebut pada Oktober 1953.
Margono meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 25 Juli 1978, dan kemudian dimakamkan di makam keluarga Djojohadikusumo di Kabupaten Banyumas.
Sebuah gedung di Universitas Gadjah Mada (UGM) dinamai menurut namanya, karena keputusan penamaan tersebut disepakati oleh para anggota fakultas dan cucu Margono, Hashim Djojohadikusumo.
Gedung ini digunakan oleh Fakultas Humaniora di UGM. Namanya juga digunakan sebagai nama jalan di Jakarta.
Menurut Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Jawa Tengah (Jateng) Imam Maskur, Margono merupakan satu dari dua tokoh yang diajukan Jateng kepada pemerintah pusat.
Selain Margono, Pemprov Jateng juga mengusulkan KH Sholeh Darat dari Kota Semarang.
KH Sholeh Darat merupakan ulama besar yang dikenal memiliki peran dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa.
"Ya tahun ini ada dua nama yang diusulkan sebagai pahlawan nasional, yaitu Kiai Sholeh Darat dan Margono Djojohadikusumo, mbahnya Pak Prabowo," kata Imam, dilansir dari TribunJateng, Minggu (16/8/2026).
Imam menerangkan, Pemprov Jateng telah melakukan kajian terhadap dua calon pahlawan nasional sebelum nama mereka disampaikan kepada pemerintah pusat.
Kajian itu dilakukan oleh tim yang dibentuk Gubernur Jateng Ahmad Luthfi.
Hasil pengkajian menyatakan KH Sholeh Darat dan Margono layak diajukan sebagai calon pahlawan nasional.
"Pengkajian dari daerah lalu kami usulkan ke pusat," imbuh Imam.
Dengan demikian, tahapan selanjutnya berada di pemerintah pusat untuk dilakukan penilaian.
Kedua tokoh masih memiliki peluang memperoleh gelar pahlawan nasional apabila seluruh proses dapat dilalui sesuai ketentuan.
Belum Diizinkan Pihak Keluarga
Margono mengakui, pengajuan Margono Djojohadikusumo masih menghadapi kendala.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Jawa Tengah Imam Maskur mengatakan, pihak keluarga belum mengajukan tokoh asal Banyumas ini untuk memperoleh gelar Pahlawan Nasional.
"Keluarga Presiden, belum mau diajukan," ujarnya dilansir dari TribunJateng, Senin (17/8/2026).
Meski pihak keluarga belum memberikan lampu hijau terkait pengusulan Margono sebagai pahlawan nasional, proses pengajuan tetap berjalan.
Sebelumnya, pengusulan Margono sebagai Pahlawan Nasional juga pernah dilakukan pada 2025.
Yayasan Merah Putih Peduli menyinggung sosok Raden Mas Margono Djojohadikusumo sebagai calon pahlawan nasional dalam "Seminar Nasional dan Bedah Buku" yang berlangsung di Universitas Pertahanan (Unhan), Sentul, Bogor, pada Sabtu (15/2/2025). (tribun jateng/kompas.com)