Rokok Jadi Pengeluaran Terbesar Kedua Warga Miskin di Lampung, DPRD: Perlu Perkuat Edukasi
Teguh Prasetyo August 18, 2026 01:19 PM

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Tingginya pengeluaran untuk membeli rokok, khususnya di kalangan masyarakat miskin di Lampung, mendapat sorotan dari anggota Komisi III DPRD Lampung Heni Susilo. Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menilai, pemerintah perlu memperkuat edukasi kepada masyarakat.

Berdasarkan data pola konsumsi penduduk Lampung 2025, rata-rata pengeluaran penduduk Lampung untuk rokok mencapai Rp98.242 per kapita per bulan. Angka tersebut setara 7,93 persen dari total rata-rata pengeluaran yang mencapai Rp1.239.613 per kapita per bulan.

Menurut Heni, fenomena tersebut juga berkaitan dengan kondisi ekonomi, pola konsumsi, hingga dampaknya terhadap kesejahteraan keluarga. "Iya, ini data yang mungkin juga bisa kita lihat di lapangan bagaimana rokok ini tersaji hampir di seluruh lini terkecil warung," kata Heni, Senin (10/8/2026).

Ia mengatakan, persoalan konsumsi rokok pada masyarakat miskin membutuhkan perhatian yang lebih komprehensif. Heni mengingatkan agar persoalan tersebut tidak disikapi dengan pendekatan yang justru menyalahkan masyarakat miskin.

"Ini bukan semata permasalahan pilihan individu saja, tetapi juga berkaitan dengan kondisi ekonomi, pola konsumsi, dan dampaknya terhadap kesejahteraan keluarga," ujarnya.

Karena itu, menurut Heni, pemerintah perlu memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya merokok. Selain edukasi, upaya mengurangi ketergantungan terhadap rokok juga harus dibarengi dengan penguatan program perlindungan sosial dan peningkatan pendapatan masyarakat.

Program tersebut dinilai penting agar masyarakat memiliki kualitas hidup yang lebih baik sekaligus mampu memenuhi kebutuhan pokok keluarga secara lebih optimal.

"Ya, butuh edukasi juga tentang bahaya merokok, juga dengan memastikan program perlindungan sosial dan peningkatan pendapatan yang benar-benar mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat," imbuh dia.

Heni menegaskan, pemerintah memiliki peran penting dalam menangani persoalan tersebut. Pemerintah tidak hanya perlu memberikan edukasi, tetapi juga memperkuat layanan kesehatan serta membuka akses terhadap pekerjaan dan sumber pendapatan yang lebih baik.

Dengan demikian, masyarakat diharapkan memiliki lingkungan yang mendukung untuk secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap rokok.

"Yang paling penting, pemerintah harus hadir dengan memberikan edukasi, memperkuat layanan kesehatan, membuka akses terhadap pekerjaan dan pendapatan yang lebih baik, serta menciptakan lingkungan yang mendukung masyarakat untuk mengurangi ketergantungan terhadap rokok," imbuhnya. 

Rokok Kretek Filter

Sementara itu, berdasarkan data pola konsumsi penduduk Lampung 2025, rata-rata pengeluaran penduduk Lampung untuk rokok mencapai Rp98.242 per kapita per bulan. Angka tersebut setara 7,93 persen dari total rata-rata pengeluaran yang mencapai Rp1.239.613 per kapita per bulan.

Sementara pengeluaran kelompok makanan mencapai Rp663.740 per kapita per bulan atau 53,54 persen dari total pengeluaran. Adapun kelompok bukan makanan mencapai Rp575.873 atau 46,46 persen.

Rokok kretek filter menjadi komoditas terbesar kedua dalam pembentukan Garis Kemiskinan Provinsi Lampung pada Maret 2026 setelah beras. Posisinya hanya berada di bawah beras. Di wilayah perkotaan, rokok kretek filter memberikan kontribusi 12,79 persen terhadap pembentukan garis kemiskinan. Sementara di perdesaan, kontribusinya mencapai 11,39 persen.

Adapun beras menyumbang 19,83 persen di perkotaan dan 24,33 persen di perdesaan. Besarnya posisi rokok tersebut juga terlihat dari pola konsumsi masyarakat Lampung. Berdasarkan data pola konsumsi penduduk Lampung 2025, rata-rata pengeluaran untuk rokok mencapai Rp98.242 per kapita per bulan.

Nilai tersebut setara 7,93 persen dari total rata-rata pengeluaran penduduk Lampung yang mencapai Rp1.239.613 per kapita per bulan. Dengan kata lain, pengeluaran rokok menyumbang sekitar Rp7,93 dari setiap Rp100 rata-rata pengeluaran penduduk Lampung.

Sementara itu, rata-rata pengeluaran untuk kelompok makanan mencapai Rp663.740 per kapita per bulan atau 53,54 persen dari total pengeluaran. Adapun kelompok bukan makanan mencapai Rp575.873 per kapita per bulan atau 46,46 persen.

Pesibar Tertinggi

Besarnya pengeluaran rokok tidak sama di setiap daerah. Pesisir Barat mencatat angka tertinggi, yakni Rp149.907 per kapita per bulan atau 11,86 persen dari total pengeluaran. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di antara 15 kabupaten/kota di Lampung.

Lampung Barat berada di posisi berikutnya dengan pengeluaran rokok Rp123.491 per kapita per bulan atau 9 persen. Kemudian disusul Tulangbawang Rp110.576 (9,47 persen), Pesawaran mencapai Rp104.592 (8,86 persen), Way Kanan Rp100.465 (8,32 persen), Lampung Selatan Rp98.729 (8,3 persen), dan Lampung Tengah Rp96.708 (8,49 persen).

Selanjutnya Tanggamus Rp96.228 (9,41 persen), Lampung Timur Rp94.007 (8,94 persen), Mesuji Rp92.894 (8,78 persen), Tulangbawang Barat Rp89.839 (8,48 persen), Pringsewu Rp87.345 (7,58 persen) dan Lampung Utara Rp86.242 (8,24 persen). Untuk wilayah perkotaan, rata-rata pengeluaran rokok penduduk Bandar Lampung mencapai Rp95.835 (5,15 persen) dan Metro Rp95.694 (5,52 persen).

Sepertiga Penduduk

Tingginya pengeluaran rokok tersebut berada dalam konteks jumlah perokok yang juga cukup besar di Lampung. Berdasarkan Susenas Maret 2025 yang dimuat dalam Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Lampung 2025, sebanyak 32,61 persen penduduk usia 15 tahun ke atas tercatat merokok tembakau setiap hari.

Sebanyak 1,63 persen lainnya merokok tembakau tetapi tidak setiap hari. Jika kedua kelompok tersebut digabungkan, sebanyak 34,24 persen penduduk usia 15 tahun ke atas di Lampung tercatat merokok tembakau.

Sementara penggunaan rokok elektronik jauh lebih rendah. BPS mencatat 0,36 persen penduduk usia 15 tahun ke atas menggunakan rokok elektronik setiap hari dan 0,31 persen menggunakannya tidak setiap hari.

Berdasarkan kabupaten/kota, persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang merokok tembakau setiap hari tertinggi tercatat di Pesisir Barat sebesar 38,45 persen. Kemudian Lampung Barat 37,98 persen dan Tulangbawang 37,09 persen. Sebaliknya, persentase terendah tercatat di Bandar Lampung sebesar 27,22 persen dan Metro sebesar 27,52 persen.

Lampaui Kebutuhan

Kembali pada garis kemiskinan, posisi rokok kretek filter menjadi menonjol karena kontribusinya lebih besar dibandingkan sejumlah kebutuhan pangan maupun bukan makanan. Di perkotaan, telur ayam ras menyumbang 4,86 persen terhadap pembentukan garis kemiskinan. Kemudian tempe 2,65 persen, roti 2,52 persen, kopi 2,51 persen, dan bawang merah 2,27 persen.

Di perdesaan, telur ayam ras berkontribusi 4,46 persen, kopi 2,59 persen, bawang merah 2,50 persen, roti 2,39 persen, dan tempe 2,19 persen. Dengan kontribusi 12,79 persen di perkotaan dan 11,39 persen di perdesaan, rokok kretek filter berada jauh di atas masing-masing komoditas tersebut. Kontribusinya juga lebih besar dibandingkan beberapa kebutuhan bukan makanan.

Komponen perumahan menyumbang 7,75 persen di perkotaan dan 8 persen di perdesaan. Kemudian bensin berkontribusi 3,28 persen di perkotaan dan 3,44 persen di perdesaan. Listrik masing-masing sebesar 3,08 persen dan 2,26 persen. Sementara pendidikan menyumbang 2,11 persen di perkotaan dan 1,31 persen di perdesaan.

Besarnya kontribusi tersebut perlu dilihat dalam konteks garis kemiskinan secara keseluruhan. Pada Maret 2026, garis kemiskinan tercatat sebesar Rp657.467 per kapita per bulan. Nilainya mencapai Rp708.693 per kapita per bulan di perkotaan dan Rp631.717 per kapita per bulan di perdesaan.

Garis gemiskinan merupakan batas nilai pengeluaran minimum yang digunakan BPS untuk menentukan status kemiskinan penduduk. Penghitungannya mencakup kebutuhan makanan dan bukan makanan.

Secara keseluruhan, kelompok makanan masih mendominasi struktur garis kemiskinan di Lampung dengan kontribusi 75,23 persen. Sementara kelompok bukan makanan menyumbang 24,77 persen.

(tribunlampung.co.id/dominius desmantri/hurri agusto)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.