Belajar French Horn Otodidak, Gadis Semarang Ini Sukses Tampil Bersama Orkestra Gita Bahana Nusantara
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Siapa sangka, belajar French Horn secara otodidak di tengah kesibukan kuliah justru mengantarkan Abigail Amankila Adyomi tampil di Istana Negara dalam Upacara Kenegaraan Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia di Istana Merdeka, Senin (17/8/2026) kemarin.
Gadis 20 tahun asal Semarang itu terpilih menjadi salah satu anggota Orkestra Gita Bahana Nusantara 2026.
Gadis 20 tahun yang akrab disapa Kila itu menjadi satu-satunya peserta asal Semarang yang terpilih sebagai anggota Orkestra Gita Bahana Nusantara (GBN) 2026.
Baca juga: Sosok Margono Djojohadikusumo Pria Banyumas Kakek Prabowo yang Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Bersama 63 anggota lainnya, Kila turut mengiringi paduan suara dalam upacara sakral itu.
Kesempatan tersebut diakuinya menjadi pengalaman yang sangat berarti.
"Kesannya senang sekali bisa bergabung di Gita Bahana Nusantara 2026, karena ini adalah kesempatan satu kali seumur hidup yang sangat membanggakan dan tentunya terharu juga karena ikut menjadi bagian penting dalam peringatan HUT RI di Istana Merdeka," kata Kila kepada Tribunjateng.com, Selasa (18/8/2026).
Saat berbincang dengan Tribun, Kila menjelaskan, perjalanan hingga bisa berada di panggung tersebut juga tidak datang secara tiba-tiba.
Awalnya, Kila mengaku menekuni alat musik tiup saxophone.
Namun, ketika memasuki masa kuliah, ia mulai mengenal French Horn.
Ketertarikannya terhadap alat musik tersebut muncul setelah mendengar karakter suara French Horn dalam sebuah orkestra.
"Sejak awal kuliah, dulu awalnya main instrumen saxophone, tapi waktu kuliah belajar French Horn. Suka karena suaranya kalau di orkes itu suka bikin merinding," ujar Mahasiswi semester lima Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS) itu.
Melodi yang dimainkan French Horn kemudian membuat Kila semakin tertarik untuk mendalaminya.
Meski demikian, proses belajar instrumen tersebut tidak selalu mudah.
Kila sempat mengikuti les French Horn selama sekitar dua bulan pada masa awal belajar.
Setelah itu, keterbatasan waktu karena aktivitas kuliah membuatnya lebih banyak belajar secara mandiri.
Ia memanfaatkan berbagai video pembelajaran di YouTube untuk mengembangkan kemampuannya.
"Kesulitan sih, karena kan kalau French Horn itungannya aku otodidak, jadi ada materi yang belum aku pelajari," tuturnya.
Di tengah kesibukan kuliah Ilmu Sejarah, Kila tetap berusaha menjaga kemampuannya bermusik. Salah satunya dengan bermain musik di gereja.
Upaya belajar secara mandiri tersebut akhirnya membawanya ke Gita Bahana Nusantara.
Proses seleksi GBN 2026 diawali dengan audisi secara daring.
Kila mengirimkan video permainan musik sesuai ketentuan yang diberikan panitia.
Tahun ini, sebanyak 301 peserta mengikuti audisi tahap pertama. Dari jumlah tersebut, 129 peserta dinyatakan lolos untuk mengikuti audisi tahap kedua secara langsung di Yogyakarta dan Jakarta.
Kila memilih mengikuti audisi tahap kedua di Jakarta pada awal Juli 2026.
Dalam audisi tersebut, kemampuan para peserta diuji oleh empat juri berdasarkan standar yang telah ditentukan.
Sekitar sepekan kemudian, pengumuman peserta yang terpilih akhirnya keluar.
Hanya 64 peserta yang dinyatakan menjadi anggota Gita Bahana Nusantara 2026, terdiri dari berbagai section, mulai alat musik gesek, tiup, combo, perkusi hingga musik etnis.
Untuk section French Horn sendiri, persaingannya terbilang tidak terlalu banyak.
Hanya tiga peserta yang lolos ke tahap kedua, sementara kuota yang tersedia hanya dua orang.
Namun, jumlah peserta bukan berarti jaminan lolos. Kila menyebut panitia sejak awal telah menegaskan bahwa peserta tetap harus memenuhi standar kemampuan yang ditetapkan.
"Panitia juga sudah bilang di awal kalau memang belum sesuai standar bisa saja semuanya tidak dipilih juga, jadi mengundang alumni. Tapi puji Tuhan aku lolos sama satu orang lagi partnerku dari Jogja," katanya.
Setelah dinyatakan lolos, Kila menjalani karantina selama 19 hari bersama peserta lain dari berbagai daerah di Indonesia.
Di sana, ia tidak hanya berlatih untuk mempersiapkan penampilan di Istana Negara. Kila juga mendapatkan kesempatan bertemu dengan banyak pemusik muda dari berbagai daerah serta belajar dari para pelatih dan konduktor profesional.
Salah satu sosok yang memberikan banyak pengalaman selama proses latihan adalah Bimo Haryo Prakoso, pelatih section tiup.
"Bersama konduktor Vincent Wiguna, aku juga bisa belajar banyak hal-hal yang sebelumnya tidak diketahui dan meningkatkan ilmu," ujar Kila. (*)