Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Arnold Welianto
SURYAMALANG.COM, NTT - Rangkaian gempa susulan pascagempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores memicu situasi darurat di Puskesmas Watubaing, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Seorang ibu hamil terpaksa menjalani proses persalinan di bawah pohon di belakang gedung puskesmas dengan sekat kain seadanya saat evakuasi berlangsung pada Senin (17/8/2026).
Keterlambatan bantuan tenda darurat membuat para tenaga kesehatan harus berjuang menjaga keselamatan lima bayi yang baru lahir di luar ruangan beratap terpal swadaya.
Para pasien, khususnya kelompok rentan seperti ibu hamil, anak-anak, dan lansia dievakuasi ke luar gedung Puskesmas Watubaing demi menghindari risiko gempa susulan.
Saat gempa susulan terjadi, terdapat dua orang ibu hamil yang tengah menjalani proses persalinan dengan penanganan tim medis.
Salah seorang ibu hamil berhasil melahirkan di dalam ruangan puskesmas.
Akan tetapi saat penanganan pasca-melahirkan sedang berlangsung, gempa susulan kembali terjadi sehingga pasien terpaksa dievakuasi ke luar gedung untuk perawatan lebih lanjut.
Baca juga: Korban Meninggal Gempa NTT Capai 68 Jiwa, Jatim Terjunkan Tim Dokter hingga 100 Ton Logistik
Sementara itu, seorang ibu hamil lainnya terpaksa melahirkan saat proses evakuasi berlangsung.
Ibu hamil itu akhirnya bersalin di bawah pohon, tepat di area belakang Gedung Puskesmas Watubaing.
Ketiadaan tenda darurat membuat para tenaga kesehatan memutar otak. Mereka menutup tempat tidur pasien menggunakan kain dan sarung milik pribadi para nakes.
Usai persalinan, kedua ibu beserta bayi mereka dinyatakan dalam kondisi sehat.
Kendati demikian, salah satu pasangan ibu dan anak tersebut kemudian dirujuk ke RSUD TC Hillers Maumere untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan.
"Kami pelayanan di luar. Satu orang ibu melahirkan di luar ruangan," kata Kepala Puskesmas Watubaing, Maria Magdalena, Senin mengutip Pos-Kupang.com (grup suryamalang).
Tercatat ada enam pasien, termasuk satu ibu hamil, yang terpaksa menjalani perawatan medis di ruang terbuka area Puskesmas Watubaing akibat belum tersedianya tenda darurat.
Kondisi keprihatinan tak berhenti di situ.
Pada Senin (17/8/2026) malam, sebanyak lima bayi yang baru lahir harus tidur di luar ruangan lantaran seluruh pasien dievakuasi akibat gempa susulan yang terjadi sejak sore hari.
Dokter Puskesmas Watubaing, Servasius, mengungkapkan pihaknya telah berkoordinasi dan mengajukan bantuan tenda sejak Senin pagi, namun hingga malam hari bantuan yang ditunggu tak kunjung tiba.
Alhasil, para perawat dan tim medis mendirikan tempat penampungan swadaya dengan sekat kain biasa dan atap terpal seadanya agar para bayi terhindar dari angin malam.
Baca juga: Penolakan Gelar Adat Jokowi di NTT: Projo Tegaskan Hak Komunitas, Ada 15 Gelar Kehormatan
"Kami menunggu bantuan tenda yang sudah dikoordinasikan dari pagi tapi tak kunjung datang," ungkap Servasius.
"Akhirnya kami pakai tenda swadaya seadanya untuk menjaga bayi bayi ini tetap hangat," ujarnya.
Servasius menjelaskan, di dalam tenda darurat seadanya tersebut terdapat lima orang bayi dan lima orang ibu nifas.
"Bayi ada lima orang. Tiga bayi dengan berat lahir normal. Dua bayi dengan berat badan lahir rendah (bblr). Ibu nifas ada lima dan ibu dengan ancaman abortus satu," jelasnya.
Dampak gempa bumi yang melanda wilayah NTT juga merusak berbagai fasilitas serta rumah warga di Kabupaten Nagekeo.
Sebanyak 2.056 warga di kabupaten tersebut terpaksa mengungsi akibat rumah mereka mengalami kerusakan.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT per Senin menunjukkan pemenuhan kebutuhan pengungsi di Nagekeo menjadi fokus utama dalam masa tanggap darurat bencana.
Salah seorang warga RT 15 Desa Pagamogo, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Yanuarius Roga, mengeluhkan kondisi warga terdampak yang kini terisolasi dan minim perhatian.
Baca juga: Kebun Binatang Surabaya Berhasil Kembang-biakkan Komodo, Siap Dilepas-liarkan ke NTT
"Hingga saat ini rumah-rumah warga di Dusun D RT 15 mengalami kerusakan dan tidak layak huni. Warga terpaksa mengungsi dan tinggal di luar rumah dengan menggunakan terpal sebagai tempat berteduh," ungkap Yanuarius, Senin.
Yanuarius berharap pemerintah daerah maupun pihak terkait dapat segera mendistribusikan bantuan mendesak berupa tenda darurat, bahan makanan, selimut, dan kebutuhan pokok lainnya.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Senin (17/8/2026), gempa Flores tersebut telah mengakibatkan 68 orang meninggal dunia, 213 orang luka-luka, serta lebih dari 5.000 warga mengungsi.
(POS-KUPANG.COM/POS-KUPANG.COM)