TRIBUNNEWS.COM - Pakar ekonomi sekaligus analis pasar modal, Ferry Latuhihin, menyindir pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyebut seorang wanita bernama Susanah sebagai pengupas bawang dengan upah Rp700.000 per kilogram.
Sebagai informasi, Prabowo memperkenalkan Susanah saat menyampaikan pidato dalam Sidang Tahunan dan Sidang Bersama MPR, DPR, DPD RI di Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Kepada ratusan legislator, Mantan Menteri Pertahanan RI (Menhan) itu menyebut Susanah sebagai seorang buruh harian asal Bogor, Jawa Barat dan merupakan salah satu penerima bantuan program keluarga harapan (PKH).
Lebih lanjut, Prabowo mengatakan, Susanah adalah buruh harian pengupas bawang yang mendapatkan upah sebesar Rp700.000 per kilogram (kg).
"Hari ini, hadir bersama kita Ibu Susanah dari Kabupaten Bogor. Ia bekerja sebagai buruh harian, mengupas bawang dengan upah Rp700.000 per kilogram. Program Keluarga Harapan dan program sembako membantu menjaga pendidikan anak-anaknya," kata Prabowo.
Pernyataan Prabowo mengenai Susanah dan upah Rp700.000 per kg sebagai pengupas bawang langsung menuai sorotan, dan ramai diperbincangkan di media sosial.
Sementara itu, Ferry melontarkan satire, bahwa akhirnya Indonesia menjadi bangsa yang kaya setelah 81 tahun merdeka, dengan klaim ada pengupas bawang yang upahnya Rp700.000 per kg.
Tambah dia, hal tersebut tidak ada di negara lain.
"Setelah 81 tahun merdeka, akhirnya bangsa kita berhasil menjadi bangsa yang terkaya di dunia. Ini suatu keajaiban yang sangat luar biasa," kata Ferry dikutip dari tayangan yang diunggah di kanal YouTube pribadinya, Senin (17/8/2026).
"Coba bayangkan seorang tukang pengupas bayang bawang itu upahnya 700.000 per kilo, tidak ada di negara lain. Kalau sehari saja dia bisa mengupas 50 kg bawang, dia akan membawa pulang uang Rp35 juta per hari. Nggak ada di negara lain, cuma ada di negara ini."
Baca juga: Prabowo Sebut Rp700 Ribu, Warga Ungkap Upah Asli Susanah Hanya Rp700 per Ikat Kain Majun
Kemudian, Ferry menyindir bahwa masyarakat harus berterima kasih kepada Presiden RI Prabowo Subianto dan Menteri Keuangan RI (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa.
Sebab, dengan upah seperti yang disebutkan Prabowo, Ferry bilang, pengupas bawang bisa beli mobil mewah Ferrari hanya dengan satu bulan bekerja.
"Ya, tentu kita harus berterima kasih kepada Pak Presiden kita, Pak Prabowo, dan Menteri Keuangan yang sangat pandai sekali bisa mengangkat income daripada masyarakat kita," ucap Ferry.
"Pengupas bawang bisa membawa uang Rp5 juta per hari. Berarti, kalau dia bekerja 30 hari sebulan itu Rp1 M loh gajinya. Cuma di Indonesia tukang kupas bawang bisa membeli Ferrari. Nggak ada nih di negara-negara lain, itu enggak."
Tak sekadar melontarkan sindiran kepada Prabowo, Ferry juga menyoroti kondisi ekonomi di Indonesia, khususnya pada 2026 ini.
Ia menilai saat ini, Indonesia sedang mengalami apa yang disebut Immiserizing growth.
Immiserizing growth adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh ekonom asal Amerika Serikat (AS) berdarah India, Jagdish Bhagwati, di mana pertumbuhan ekonomi membuat sebuah negara justru mengalami kondisi yang lebih buruk sebelum mengalami pertumbuhan ekonomi.
Ferry yang pernah menjadi Chief Economist di Bank International Indonesia (BII) itu pun menyinggung klaim pemerintah soal pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I tahun 2026 tercatat sebesar 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), yang kemudian mengalami sedikit penyesuaian menjadi 5,29 persen (yoy) pada triwulan II tahun 2026.
"Mengutip apa yang dikatakan Jagdish Bhagwati, yaitu immiserizing growth atau pertumbuhan yang memiskinkan. Pemerintah sangat senang menayangkan angka statistik yang fantastik," tutur pria yang bergaya eksentrik ini.
"Seperti, pertumbuhan ekonomi 5,61 persen di kuartal pertama, 5,29 persen di kuartal kedua. Seolah-olah angka-angka itu mencerminkan kesejahteraan rakyat. Padahal itu sama aja angka yang membohongi rakyat."
Menurut Ferry, realita kehidupan sehari-hari tidak mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang disebut tinggi itu.
Bahkan, ia menilai, pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang diklaim naik, justru merupakan pertumbuhan yang memiskinkan masyarakat.
Ia menambahkan, berapa pun tingginya pertumbuhan ekonomi, itu tidak berkualitas jika tidak mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan kelas menengah, tidak mengentaskan kemiskinan, dan tidak dapat memperkecil jurang ketimpangan pendapatan masyarakat.
"Mau [pertumbuhan ekonomi] enam persen, mau tujuh persen, mau delapan persen, tetap tidak berkualitas kalau tidak menciptakan lapangan kerja, tidak mengangkat income middle class kita, tidak mengentaskan kemiskinan, tidak mengurangi income inequality (kepincangan pendapatan), pertumbuhan setinggi apa pun tidak ada artinya," paparnya.
Ferry mengungkap, hal ini telah terjadi di Indonesia selama bertahun-tahun, tepatnya sejak awal era reformasi atau jatuhnya Orde Orde Baru.
Di mana, sektor manufaktur yang menyerap tenaga kerja, justru mengalami penurunan persentase output terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
"Kita lihat, bagaimana output dari manufacturing kita, porsinya terhadap PDB terus menurun dari 29-30 persen, dan ini hari hanya di 18,5 persen," tutur Ferry.
"Jadi sektor yang memang menyumbang tenaga kerja, memberikan lapangan kerja yang paling besar, yaitu sektor pengolahan manufacturing ini terus turun."
Lantas, Ferry menyebut bahwa saat ini Indonesia malah mengarah ke deindustrialisasi dini atau prematur, dan menurutnya hal ini berbahaya.
Melihat fakta ini, ekonom yang juga alumnus Erasmus University Rotterdam, Belanda itu menyebut bahwa klaim pertumbuhan ekonomi di Indonesia hanya sebatas lawakan.
Sebab, tidak mampu menciptakan lapangan kerja, tidak mengentaskan kemiskinan, dan tidak mengangkat masyarakat kelas pendapatan menengah.
Bahkan, ia menyoroti jumlah kelas menengah di Indonesia yang mengalami penurunan dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir, dari 57,3 juta di tahun 2019 dan sekarang menjadi 46,7 juta.
"Itu menandakan bahwa pertumbuhan selama 7 tahun terakhir di atas angka 5 persen, kecuali di masa COVID-19, tidak menghasilkan lapangan kerja," paparnya.
(Tribunnews.com/Rizki A.)