SERAMBINEWS.COM – Lebih dari 800.000 warga Palestina di Jalur Gaza kini bertahan hidup di tenda-tenda darurat yang kondisinya semakin memprihatinkan. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan sementara itu kini banyak yang sudah rusak dan tidak lagi mampu melindungi penghuninya dari cuaca ekstrem.
Kantor Media Pemerintah Gaza menyebutkan, sedikitnya 2,15 juta pengungsi Palestina hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan di berbagai wilayah Gaza. Dari jumlah tersebut, lebih dari 867.000 orang masih berlindung di tenda-tenda darurat yang telah kehilangan fungsi utamanya sebagai tempat perlindungan.
Di antara mereka terdapat lebih dari 500.000 anak.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran baru menjelang musim dingin. Pemerintah Gaza memperingatkan bahwa ratusan ribu orang yang tinggal di tenda-tenda rapuh menghadapi ancaman serius jika tidak segera mendapatkan tempat berlindung yang layak.
“Situasinya berada di luar kritis,” demikian pernyataan Kantor Media Pemerintah Gaza pada Senin.
Baca juga: AS: Gaza tak akan Dibangun Kembali sebelum Hamas Serahkan Senjata
Mereka mendesak komunitas internasional meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Israel agar membuka akses bagi masuknya bantuan perlindungan, termasuk derek untuk membersihkan puing-puing, tenda tahan cuaca, bahan isolasi, serta berbagai perlengkapan yang dibutuhkan warga yang kehilangan tempat tinggal.
Bagi para pengungsi, persoalannya bukan sekadar memiliki atap untuk berteduh. Banyak tenda berdiri di tengah lingkungan yang hancur, sementara infrastruktur dasar seperti jalan, fasilitas air, sanitasi, dan layanan kesehatan juga mengalami kerusakan parah.
Kantor Media Pemerintah Gaza juga menyerukan percepatan pemindahan puing-puing, rehabilitasi infrastruktur, serta perlindungan khusus bagi kelompok paling rentan, terutama anak-anak, perempuan, lansia, dan mereka yang membutuhkan perawatan medis.
Krisis tempat tinggal tersebut berlangsung bersamaan dengan kekurangan makanan, air bersih, dan layanan kesehatan. Lembaga-lembaga bantuan kemanusiaan sebelumnya telah berulang kali memperingatkan bahwa penduduk Gaza menghadapi kondisi kemanusiaan yang semakin buruk di tengah operasi militer Israel yang terus berlangsung.
Kehancuran di Gaza tidak hanya menghilangkan rumah-rumah penduduk, tetapi juga merusak sebagian besar infrastruktur sipil yang menjadi penopang kehidupan sehari-hari.
Menurut data sebelumnya dari Kantor Media Pemerintah Gaza, sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Jalur Gaza telah dihancurkan selama perang yang dimulai pada 8 Oktober 2023. Kerusakan tersebut mencakup berbagai fasilitas dan jaringan yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya memperkirakan kebutuhan biaya rekonstruksi Gaza mencapai sekitar 70 miliar dolar AS.
Angka tersebut menggambarkan betapa besar skala kehancuran yang harus dihadapi masyarakat Gaza. Namun, bagi ratusan ribu orang yang kini tinggal di tenda, persoalan yang mereka hadapi jauh lebih mendesak: bagaimana bertahan hidup dari hari ke hari ketika tempat tinggal sementara pun sudah tidak lagi mampu memberikan perlindungan.
Menjelang musim dingin, tenda-tenda yang koyak, basah, dan tidak tahan cuaca menjadi ancaman baru bagi kehidupan mereka.
Di tengah puing-puing rumah yang telah hancur, Gaza kini menghadapi persoalan lain: bagaimana melindungi mereka yang masih hidup.
Serangan Israel di Jalur Gaza terus berlanjut di tengah situasi kemanusiaan yang semakin memburuk. Dalam 48 jam terakhir, sedikitnya lima warga Palestina tewas dan 18 lainnya terluka akibat serangkaian serangan di sejumlah wilayah Gaza.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mengatakan dua korban tewas dalam serangan terbaru, sementara tiga jenazah lainnya ditemukan dalam periode yang sama.
Petugas juga masih menghadapi kesulitan menjangkau sejumlah korban yang tertimbun di bawah reruntuhan bangunan maupun berada di jalan-jalan. Jumlah korban yang masih terjebak belum dapat dipastikan.
Salah satu korban meninggal pada Senin pagi setelah sebelumnya mengalami luka dalam serangan beberapa bulan lalu di wilayah selatan Deir al-Balah.
Di kawasan al-Mawasi, sebelah barat Khan Younis, seorang anak dilaporkan terluka setelah kendaraan militer Israel menembaki tenda-tenda yang menjadi tempat berlindung warga Palestina yang mengungsi di kawasan Bir 19.
Sementara di Kota Gaza, sejumlah warga terluka setelah artileri Israel menghantam kawasan al-Tuffah. Sebuah rumah di dekat persimpangan al-Sanafour dilaporkan terkena tembakan dan terbakar.
Serangan artileri juga dilaporkan berlangsung di sekitar kawasan tersebut, sementara pesawat tempur Israel melakukan dua serangan udara di bagian timur Kota Gaza.
Di selatan Gaza, pesawat militer Israel juga terlihat beroperasi di udara ketika artileri menghantam sejumlah wilayah di selatan Khan Younis.
Dengan tambahan korban terbaru, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat jumlah korban sejak gencatan senjata yang mulai berlaku pada 11 Oktober mencapai 1.265 orang tewas dan 4.198 lainnya terluka. Sebanyak 813 jenazah juga telah ditemukan selama periode tersebut.
Secara keseluruhan, sejak serangan Israel dimulai pada 7 Oktober 2023, jumlah korban tewas di Gaza telah mencapai 73.399 orang, sementara 174.310 lainnya terluka.
Serangkaian serangan tersebut dilaporkan berlangsung meski gencatan senjata masih menjadi rujukan. Penembakan artileri, serangan udara, serangan pesawat nirawak, hingga penghancuran kawasan permukiman terus dilaporkan terjadi di berbagai bagian Jalur Gaza.
Di tengah serangan yang belum berhenti, lebih dari 2,15 juta warga Palestina yang mengungsi kini menghadapi persoalan lain: tempat tinggal yang semakin tidak layak.
Kantor Media Pemerintah Gaza menyerukan bantuan segera bagi para pengungsi serta meminta tekanan internasional agar Israel membuka akses bagi masuknya karavan, tenda dan berbagai kebutuhan perlindungan.
Menurut kantor tersebut, sekitar 867.000 pengungsi masih tinggal di tenda-tenda usang yang membutuhkan penggantian segera.
Kondisi itu dikhawatirkan semakin parah ketika musim dingin tiba. Karena itu, Gaza membutuhkan unit rumah sementara, bahan isolasi dan tenda yang mampu melindungi warga dari cuaca ekstrem.
Namun, kebutuhan tersebut hanyalah solusi sementara. Jutaan warga Palestina membutuhkan rumah dan lingkungan permukiman mereka kembali setelah dihancurkan selama perang.
Di Gaza, persoalan tempat tinggal kini bukan sekadar tentang kehilangan rumah. Bagi jutaan pengungsi, setiap tenda yang mulai rusak menjadi pengingat bahwa perang telah merampas bukan hanya tempat berlindung, tetapi juga rasa aman dan kepastian tentang hari esok.(*)