300 Hektare Sawah Desa Rias Terkendala Air, Potensi 1.800 Ton Gabah Terancam Tak Terealisasi
Ardhina Trisila Sakti August 18, 2026 07:25 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung terancam tersendat akibat keterbatasan pasokan air.

Kondisi kemarau ditambah proses perbaikan infrastruktur pengairan membuat aliran air ke lahan belum berjalan optimal. Dampaknya, pengolahan lahan petani seluas ratusan hektare mengalami keterlambatan dan jadwal tanam berpotensi bergeser hingga akhir tahun.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangka Selatan, Risvandika, bilang Desa Rias seharusnya sudah memasuki tahap pengolahan lahan untuk musim tanam ketiga.

Namun, kondisi air yang belum mencukupi membuat petani belum dapat mengolah lahan secara maksimal. Perbaikan infrastruktur yang sedang dilakukan turut menjadi kendala karena air belum dapat dialirkan secara sempurna ke area persawahan.

“Saat ini Desa Rias sudah memasuki untuk pengolahan lahan tahap tanam ketiga,” kata dia kepada Bangkapos.com, Selasa (18/8/2026).

Risvandika membeberkan lahan sawah yang terdampak persoalan pengairan tersebut diperkirakan mencapai 250 hingga 300 hektare.

Dengan produktivitas padi yang diasumsikan berada pada kisaran 5 hingga 6 ton Gabah kering panen (GKP) per hektare, lahan tersebut memiliki potensi produksi sekitar 1.250 hingga 1.800 ton GKP dalam satu musim tanam.

Potensi tersebut menjadi taruhan apabila keterlambatan pengolahan lahan membuat musim tanam ketiga tidak dapat dilakukan sesuai jadwal.

Luasan tersebut menjadi perhatian karena petani biasanya sudah melakukan pengolahan lahan pada periode ini untuk mengejar jadwal penanaman. Keterlambatan pengolahan berpotensi membuat keseluruhan siklus produksi padi ikut bergeser.

Oleh sebab itu, mundurnya pengolahan lahan akan berpengaruh langsung terhadap jadwal tanam dan waktu panen. Jika penanaman terlambat terlalu jauh, produksi padi dikhawatirkan baru dapat dilakukan setelah melewati akhir 2026.

Kondisi tersebut juga dapat mempengaruhi pencatatan luas tanam dan produksi tanaman pangan pada tahun berjalan.

“Jadwal tanam menjadi mengalami penundaan dan jadwal produksi itu dikhawatirkan juga bisa melewati akhir tahun,” jelas Risvandika.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, pemerintah menyiapkan pompanisasi sebagai solusi jangka pendek untuk membantu memenuhi kebutuhan air.

Sarana pompa disebut sudah tersedia sehingga dapat digunakan petani apabila bersedia melakukan pengolahan lahan dengan sistem tersebut.

Namun, penggunaan pompa membutuhkan tambahan biaya operasional, terutama untuk bahan bakar dan perawatan peralatan.

Pihaknya menargetkan perbaikan infrastruktur pengairan dapat segera diselesaikan sehingga petani tidak harus bergantung pada pompanisasi.

Percepatan pekerjaan menjadi penting agar musim tanam ketiga tetap dapat dilaksanakan sesuai target yang telah disiapkan.

Pemkab Bangka Selatan berharap penanaman bisa dimulai pada awal Oktober 2026 sehingga panen masih memungkinkan dilakukan pada akhir tahun.

“Kami berharap mudah-mudahan pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk bisa mempercepat daripada perbaikan infrastruktur, sehingga di awal Oktober itu bisa dilakukan penanaman,” sebutnya.

Risvandika memastikan pemerintah tetap optimis musim tanam ketiga di Desa Rias dapat berjalan apabila persoalan pengairan segera ditangani.

Ketersediaan air menjadi faktor penting agar pengolahan lahan dan penanaman dapat kembali dilakukan tanpa menambah beban biaya petani.

Pemerintah juga berharap hasil panen akhir tahun nantinya tetap dapat masuk dalam data produksi tanaman pangan Bangka Selatan 2026.

“Insya Allah di akhir tahun 2026 ini produksi bisa panen, sehingga bisa masuk dalam data tanam produksi untuk tahun 2026,” pungkas Risvandika.

(Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.