Sosok dan Kronologi Rohim, Pengawal Gubernur Maluku Minta Maaf Usai Sebut Mahasiswa Monyet
Evan Saputra August 18, 2026 08:03 PM

 

BANGKPAOS.COM - Inilah sosok Rohim, pengawal pribadi Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa yang minta maaf usai ujarannya yang menyebut mahasiswa monyet.

Hal itu bermula usai terjadinya  perselisihan antara dirinya dengan seorang mahasiswa di kawasan Tribun Lapangan Merdeka, Ambon

Video berdurasi 46 detik yang merekam perselisihan itu menjadi perhatian setelah beredar di media sosial.

Dalam video tersebut, seorang pengawal yang diketahui bernama Rohim terlihat menghadang mahasiswa asal Seram Utara yang disebut hendak menemui Gubernur Hendrik.

Baca juga: Daftar 26 Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia dan Lokal untuk FIFA ASEAN CUP 2026 Tanpa Rizky Ridho

 

Mahasiswa itu diketahui ingin menyerahkan surat dari salah seorang kepala desa di Pulau Seram.

Kejadian berlangsung setelah upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Merdeka Ambon, Senin (17/8/2026), selesai dilaksanakan.

Rohim, yang disebut merupakan anggota TNI, tampak memegang tangan mahasiswa dan beberapa kali mendorongnya. Ia juga terlihat berusaha mengambil sampul bambu yang dibawa mahasiswa tersebut.

Dalam rekaman yang sama, seorang pria lain yang diduga rekan Rohim turut menghalangi mahasiswa. Pria tersebut terlihat memegang tangan mahasiswa sambil berbicara dengannya.

Ketegangan semakin meningkat ketika Rohim melontarkan perkataan kepada mahasiswa yang berusaha mendekati gubernur.

“Tidak bagus bukan saatnya sekarang bodok ee,” kata Rohim kepada sang mahasiswa.

Perselisihan kemudian berlanjut. Rohim terdengar mengucapkan kalimat yang dianggap bernada rasial.

“Kau dengar ka seng (tidak), ada aturannya monyet ee. Hargai orang sedikit,” tegas Rohim.

Mahasiswa tersebut kemudian memberikan respons dengan menegaskan bahwa dirinya manusia dan kedatangannya hanya untuk menyerahkan surat kepada gubernur.

“Beta manusia Pak bukan monyet. Hargai kami menghargai dan kami hanya ingin kasih ini saja,” kata sang mahasiswa sambil menunjuk surat yang dibawanya.

Potongan video tersebut kemudian tersebar di sejumlah platform media sosial. Pernyataan Rohim dalam rekaman itu memunculkan kecaman dari berbagai pihak, termasuk organisasi mahasiswa dan kepemudaan di Maluku.

Sosok Rohim kini minta maaf

Setelah video tersebut menimbulkan polemik, Rohim menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Maluku, terutama warga Seram Utara.

“Mengawali pernyataan ini saya menyampaikan permohonan maaf atas insiden yang terjadi kemarin,” kata Rohim saat dimintai tanggapan oleh Kompas.com, Selasa (18/8/2026).

Rohim mengakui perkataannya dalam insiden tersebut telah menimbulkan reaksi di tengah masyarakat dan berpotensi menyinggung kelompok tertentu. Ia juga menyatakan tidak bermaksud mencari alasan untuk membenarkan ucapannya.

“Saya tidak berupaya untuk mencari pembenaran,” katanya.

Kendati telah meminta maaf, Rohim meminta masyarakat tidak menilai kejadian hanya berdasarkan potongan video yang beredar. Menurutnya, rangkaian peristiwa sebelum ucapan tersebut juga perlu dilihat agar persoalan dapat dipahami secara menyeluruh.

Penjelasan Rohim tentang Insiden di Lapangan Merdeka
Menurut penuturan Rohim, kejadian bermula setelah rangkaian upacara HUT Kemerdekaan RI di Lapangan Merdeka Ambon berakhir.

Ketika itu, Gubernur Maluku bersama jajaran Forkopimda bersiap meninggalkan lokasi untuk menghadiri agenda silaturahmi.

Rohim mengaku melihat sejumlah mahasiswa berada di area tribun dengan membawa spanduk, karton manila, dan sejumlah perlengkapan aksi. Ia mengatakan gerak-gerik para mahasiswa membuatnya menduga akan ada tindakan tertentu.

Rohim kemudian menghampiri mereka untuk menanyakan tujuan keberadaan dan kegiatan yang akan dilakukan.

“Saya sempat menanyakan apa maksud dan tujuan aksi mereka itu,” ujarnya.

Ia mengaku sempat menyarankan agar mahasiswa yang ingin menyampaikan aspirasi kepada gubernur memperhatikan situasi dan waktu. Rohim juga mengatakan dirinya menawarkan bantuan untuk memfasilitasi pertemuan antara mahasiswa dan Gubernur Maluku di kantor.

Namun, menurut Rohim, tawaran tersebut tidak diterima. Mahasiswa tetap berusaha mendekati gubernur yang berada di lokasi.

Kewaspadaan Rohim disebut semakin meningkat setelah melihat salah seorang mahasiswa membawa potongan bambu. Benda tersebut, menurut pengakuannya, menimbulkan kecurigaan sehingga ia merasa perlu memperketat pengamanan terhadap gubernur dan pejabat lainnya.

“Saya menjalankan protap untuk mengamankan keselamatan pejabat negara,” sebutnya.

Situasi kemudian menjadi semakin tegang. Rohim mengaku kembali meminta mahasiswa menghentikan aksinya dan tidak mendekati rombongan gubernur.

Namun, mahasiswa disebut tetap berupaya melewati barikade pengamanan yang telah dibuat.

Dalam kondisi tersebut, Rohim mengakui emosinya terpancing hingga mengeluarkan ucapan yang kemudian terekam kamera dan menyebar luas di media sosial.

Ia menegaskan bahwa ucapan tersebut ditujukan kepada orang yang berada di hadapannya dan bukan dimaksudkan untuk menyerang atau menyebut kelompok suku tertentu.

Rohim juga menilai munculnya polemik tidak terlepas dari video yang hanya memperlihatkan sebagian kejadian. Karena itu, ia meminta masyarakat mempertimbangkan keseluruhan kronologi sebelum memberikan penilaian.

“Jangan sampai video beredar hanya dilihat dari satu bagian kemudian ditafsirkan subjektif. Saya ingin masyarakat melihat kronologinya secara utuh,” pintanya.

(Kompas.com/Tribun Jatim/Bangkapos.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.