TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan Barat mulai menunjukkan perkembangan positif.
Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengatakan, pemerintah bersama TNI, Polri, dan relawan masih terus melakukan upaya pemadaman serta penanganan karhutla di sejumlah lokasi terdampak.
Norsan menegaskan, aturan terkait penanganan dan penegakan hukum terhadap karhutla tetap berlaku. Ia juga mengapresiasi TNI dan Polri yang turut membantu proses pemadaman di lapangan.
“Kalau mau tegas memang aturan main masih sama. Saya lihat dari kepolisian, TNI, berupaya membantu pemadaman. Aturannya masih sama,” ujar Norsan.
Selain melakukan pemadaman dari darat, Pemprov Kalbar juga menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mempercepat turunnya hujan di wilayah yang terdampak karhutla.
Menurut Norsan, pemerintah mendapatkan dukungan tiga pesawat untuk pelaksanaan OMC dengan metode penyemaian awan menggunakan garam.
Dua pesawat ditempatkan untuk membantu penanganan karhutla di Kabupaten Ketapang, sementara satu pesawat disiagakan di Pontianak.
“Pemprov dalam hal ini kita mendapatkan OMC, pesawat untuk semai hujan pakai garam. Ada tiga pesawat, dua kita serahkan ke Ketapang, satu untuk standby di Pontianak,” jelasnya.
Baca juga: Distribusi Air Bersih Jangkau 208 Warga Terdampak Karhutla di Kubu Raya
Norsan menyebut kondisi karhutla di Kabupaten Ketapang saat ini mulai berangsur membaik.
Sementara itu, kondisi karhutla di sejumlah wilayah Kalbar lainnya juga dinilai tidak separah sebelumnya berdasarkan data pemantauan cuaca dari BMKG.
“Untuk di Ketapang sudah berangsur pulih. Kita sudah mulai tidak terlalu parah melihat dari data BMKG. Alhamdulillah tidak terlalu parah,” katanya.
Meski kondisi mulai membaik, Norsan mengingatkan seluruh pihak agar tetap waspada dan tidak lengah terhadap potensi karhutla.
Pemerintah akan terus melakukan berbagai upaya penanganan di lapangan sembari berharap hujan segera turun di wilayah Kalbar.
Norsan juga mengajak masyarakat untuk turut memanjatkan doa agar hujan segera turun dan membantu mengatasi kondisi karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah.
“Mudah-mudahan hujan segera turun. Di samping kita berusaha, kita juga minta masyarakat Jumat ini salat istisqa untuk meminta hujan,” pungkasnya.
BMKG Kalimantan Barat menyatakan Agustus 2026 merupakan puncak musim kemarau di Kalbar. Kondisi ini membuat sebagian besar wilayah cenderung kering, meski hujan lokal masih dapat terjadi di sejumlah daerah.
Kondisi yang perlu diperhatikan:
Siang: cuaca umumnya cerah hingga cerah berawan dan terasa panas.
Pagi dan malam: sebagian wilayah dapat mengalami udara kabur/berawan.
Hujan: peluang hujan relatif terbatas dan lebih bersifat lokal.
Suhu: cenderung tinggi pada siang hari.
Kualitas udara: perlu diwaspadai terutama di wilayah terdampak karhutla karena kondisi kering dapat mendukung akumulasi asap.
Untuk Kota Pontianak, data prakiraan BMKG menunjukkan kondisi udara kabur pada beberapa periode, dengan suhu dapat mencapai sekitar 33–35°C pada siang hari dan kelembapan tetap tinggi.
BMKG juga menyebut periode 18–24 Agustus 2026 masih didominasi kondisi relatif kering di sebagian besar Indonesia seiring meluasnya musim kemarau.(*)