Liputan6.com, Jakarta - Perjalanan kereta api terkadang membawa lebih dari sekadar penumpang menuju tempat tujuan. Ada sejarah yang ikut bergerak di atas rel, tersimpan dalam lapisan kayu, kursi berlengan, dan jendela-jendela besar yang telah menjadi saksi perjalanan. Pengalaman itu terasa ketika gerbong Pullman bersejarah kembali menyusuri jalur Pegunungan Alpen dari St. Moritz, Swiss, menuju Tirano, Italia.
Gerbong yang kini digunakan dalam Pullman Class milik Rhaetian Railway (RhB) tersebut memiliki perjalanan panjang sejak pertama kali dibuat pada 1931. Empat gerbong dibangun perusahaan Belgia Compagnie Internationale des Wagons-Lits untuk Golden Mountain Pullman Express, yang saat itu menghubungkan Montreux dan Interlaken.
Kehadirannya membawa standar baru dalam perjalanan kereta kelas atas Eropa. "Pada masa itu, gerbong Pullman ditujukan bagi kalangan atas dan menawarkan tingkat kenyamanan, pelayanan, serta privasi yang jauh melampaui standar kelas pada zamannya," kata Market Manager Rhaetian Railways Asia-Pasifik, Patrick Miescher, di sesi media gathering di Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026.
Ruang di dalam gerbong memang dirancang untuk memberikan pengalaman yang berbeda. Konsep open-plan saloon membuat kursi berlengan dan meja tersusun dalam satu ruang yang lapang.
Lapisan kayu, ornamen dekoratif, perlengkapan kuningan, serta elemen tekstil membentuk karakter interior yang khas pada awal 1930-an. Jendela besar menjadi bagian penting dari rancangan tersebut, memungkinkan cahaya alami masuk, sekaligus menghadirkan pemandangan perjalanan sebagai bagian dari pengalaman.

Rhaetian Railway kemudian mengambil alih empat gerbong tersebut pada 1939. Perjalanan mereka tidak berhenti ketika situasi Eropa berubah akibat perang. Penggunaan gerbong memang sempat terbatas, tapi sejak akhir dekade 1940-an, gerbong Pullman kembali digunakan untuk kereta ekspres internasional, termasuk Calais–Engadin-Express yang menghubungkan Chur dan St. Moritz.
Perjalanan menggunakan Pullman coach pada masa itu memiliki kelas sosial tersendiri. Penumpangnya berasal dari kalangan elite yang kerap bepergian bersama rombongan dan membawa banyak barang. Kenyamanan, pelayanan, serta ruang pribadi menjadi bagian dari pengalaman yang membedakannya dari kelas perjalanan lain.
Waktu kemudian meninggalkan jejak pada gerbong-gerbong tersebut. Memasuki dekade 1980-an dan 1990-an, kondisinya membutuhkan restorasi menyeluruh. Sejumlah inisiatif swasta bersama para ahli membantu mengembalikan gerbong ke karakter aslinya. Restorasi tidak hanya menyentuh interior, tapi juga berbagai komponen teknis agar gerbong tetap dapat digunakan dengan aman.

Hasilnya terasa ketika penumpang memasuki Pullman Class hari ini. Nuansa masa lalu masih dipertahankan melalui kayu teak, detail Art Deco, kursi berlapis kain, serta meja yang tersusun rapi di dalam saloon. Pelayanan personal dan sajian kuliner kemudian melengkapi suasana klasik tersebut dengan standar perjalanan modern.
Gerbong ini juga pernah menjadi tempat perjalanan sejumlah tokoh dunia. Hillary Clinton, Nelson Mandela, Kofi Annan, dan Xi Jinping tercatat pernah menggunakan Pullman coach saat melakukan perjalanan di Kanton Graubünden. Kehadiran mereka menambah lapisan cerita pada gerbong yang sejak awal memang dirancang sebagai bagian dari budaya perjalanan kalangan atas.
Kini, sejarah tersebut berlanjut dalam bentuk wisata. Pullman Class membawa maksimal 32 penumpang dalam satu perjalanan Bernina Express. Rute yang dilalui memperlihatkan wajah Alpen dari berbagai sisi, mulai dari Morteratsch Glacier, kawasan Bernina Diavolezza, Lago Bianco, Ospizio Bernina, hingga Alp Grüm.

Perjalanan kemudian menuruni kawasan Val Poschiavo menuju Tirano di Italia. Wisatawan dapat melanjutkan pengalaman ke La Gatta vineyard, perkebunan anggur bersejarah yang berasal dari bekas biara Dominikan abad ke-16. Tur ruang penyimpanan wine dan makan siang tiga hidangan dengan pilihan anggur lokal menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Rute Bernina sendiri telah masuk daftar Warisan Dunia UNESCO sejak 2008. Jalurnya mempertemukan lanskap pegunungan dengan karya teknik perkeretaapian, termasuk Brusio Circular Viaduct yang membantu kereta mengatasi perbedaan ketinggian dalam perjalanan menuju Italia.
Pada perjalanan pulang, penumpang Pullman Class mendapat akses eksklusif ke gerbong panoramik terbuka dari Tirano menuju St. Moritz. Udara pegunungan dapat dirasakan secara langsung, sementara pemandangan Alpen terbuka tanpa batas kaca.
Hampir satu abad setelah dibuat, gerbong Pullman tidak lagi sekadar menjadi alat transportasi bagi kalangan tertentu. Ia berubah menjadi bagian dari perjalanan wisata yang menawarkan kesempatan untuk menyentuh masa lalu sambil menikmati lanskap Alpen