Merdeka dari Rasa Takut Biaya Berobat, Dukung JKN Jadi Bentuk Cinta Negeri
Ardhina Trisila Sakti August 18, 2026 11:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan. Bagi masyarakat, kemerdekaan juga dapat dirasakan ketika tidak lagi dihantui rasa takut saat harus mendapatkan pelayanan kesehatan.

Pesan tersebut mengemuka dalam podcast Ruang Tengah bertajuk "Merdeka... Dukung JKN Bentuk Cinta Negeri" yang menghadirkan Kepala BPJS Kesehatan Pangkalpinang Apt. Aswalmi Gusmita, MSM., AAK, Ketua IDI Bangka Belitung Dr. Arinal Pahlevi, Sp.DVE, serta Ketua PERSI Bangka Belitung Dr. H. Muhammad Brizain, Sp.OG FISOG.

Kepala BPJS Kesehatan Pangkalpinang Aswalmi Gusmita mengatakan, kehadiran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah membawa perubahan besar dalam akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.

Ia mengajak masyarakat melihat kembali kondisi sebelum JKN hadir, ketika akses terhadap layanan kesehatan, khususnya di rumah sakit swasta, masih menjadi sesuatu yang sulit dijangkau sebagian masyarakat.

Aswalmi mencontohkan Rumah Sakit Bakti Timah (RSBT) di Bangka Belitung yang dahulu identik dengan pelayanan bagi karyawan PT Timah dan keluarga.

"Berapa banyak masyarakat kita yang bisa mengakses layanan di Bakti Timah sebelum JKN itu ada? Siapa dulu yang bisa menikmati layanan rumah sakit Bakti Timah?" kata Aswalmi dalam podcast tersebut.

Menurutnya, keterbatasan akses kala itu tidak terlepas dari adanya kekhawatiran masyarakat terhadap biaya pelayanan kesehatan di rumah sakit swasta.

"Masuk rumah sakit swasta itu sudah terbayang billing-nya seperti apa. Jadi ada rasa takut waktu itu," ujarnya.

Situasi tersebut kata dia, perlahan berubah setelah JKN hadir. Masyarakat kini memiliki pilihan untuk mendapatkan perlindungan kesehatan melalui program jaminan sosial yang cakupannya jauh lebih luas.

Bahkan, menurut Aswalmi, fasilitas kesehatan yang melayani peserta JKN di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat ini sekitar 50 persen berasal dari fasilitas kesehatan swasta.

Perubahan itu menjadi salah satu gambaran bahwa JKN bukan sekadar program pembiayaan ketika seseorang jatuh sakit, tetapi juga memberikan rasa aman kepada masyarakat dalam menghadapi risiko kesehatan.

Aswalmi menilai kehadiran JKN turut menghadirkan makna kemerdekaan dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

"Rasa takut itu perlahan-lahan mulai hilang. Ketika program ini sudah begitu luas diketahui oleh masyarakat. Dan itulah sebenarnya makna merdeka," ujarnya.

Di sisi lain, keberlanjutan JKN tetap membutuhkan dukungan dan kesadaran masyarakat untuk menjaga kepesertaan tetap aktif.

Aswalmi mengungkapkan, saat ini terdapat sekitar 233 ribu peserta JKN yang tidak aktif di Bangka Belitung. Dari jumlah tersebut, sekitar 104 ribu merupakan peserta mandiri yang memiliki tunggakan iuran.

Menurut dia, penyebab peserta mandiri tidak aktif secara umum dapat dilihat dari dua sisi, yakni ability to pay atau kemampuan membayar dan willingness to pay atau kemauan membayar.

Untuk masyarakat yang memang memiliki keterbatasan kemampuan ekonomi, Aswalmi mengatakan persoalan tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah. Sementara bagi masyarakat yang sebenarnya mampu membayar tetapi memilih tidak melanjutkan kepesertaan, persoalannya lebih berkaitan dengan kesadaran.

"Yang kedua ini willingness to pay, kemauan bayar. Kami melihat bahwa sebenarnya kemauan bayar ini yang menjadi persoalan terbesar," katanya.

Ia menilai masih ada masyarakat yang memandang JKN hanya diperlukan ketika sedang sakit.

Padahal, prinsip JKN dibangun dengan semangat gotong royong. Peserta yang sehat tetap membayar iuran agar sistem dapat memberikan perlindungan kepada peserta lain yang sedang membutuhkan pelayanan kesehatan.

"Saat kita sehat sekarang, meskipun kita tidak sakit, kita membantu mereka yang sakit," ujar Aswalmi.

Untuk meningkatkan kesadaran tersebut, BPJS Kesehatan Pangkalpinang secara rutin melakukan sosialisasi hingga ke tingkat desa dengan melibatkan aparat desa.

Sosialisasi menyasar masyarakat yang kepesertaannya tidak aktif, baik karena memiliki tunggakan maupun karena belum mengaktifkan kepesertaan.

Aswalmi juga menyebut telah tersedia program cicilan yang dapat membantu peserta dengan tunggakan agar lebih ringan dalam menyelesaikan kewajibannya.

"Kami dari BPJS Kesehatan setiap minggu itu melakukan sosialisasi ke desa, melibatkan aparat desa. Itu kita harapkan bisa diakomodir melalui aparat desa agar kita dapat memberikan sosialisasi," ujarnya.

Ia berharap masyarakat yang secara ekonomi mampu dapat memiliki kesadaran untuk mengaktifkan kembali kepesertaan JKN meskipun sedang dalam kondisi sehat.

Ketua IDI Bangka Belitung Dr. Arinal Pahlevi mengatakan, semangat gotong royong dalam JKN merupakan bagian penting dari pembangunan kesehatan nasional.

Menurutnya, sistem jaminan kesehatan telah berkembang dari skema yang sebelumnya lebih terbatas bagi kelompok tertentu menuju cakupan yang lebih luas bagi masyarakat.

Perubahan tersebut membuat masyarakat memiliki perlindungan ketika membutuhkan pelayanan kesehatan tanpa harus sepenuhnya menghadapi risiko biaya seorang diri.

Arinal juga menyoroti perubahan pola pelayanan kesehatan setelah hadirnya JKN. Pelayanan kesehatan tidak hanya berpusat di rumah sakit ketika masyarakat sudah sakit, tetapi juga dimulai dari fasilitas kesehatan tingkat pertama melalui upaya promotif dan preventif.

"Pada saat ini tidak ada lagi terkotak-kotak begitu," kata Arinal.

Menurut dia, Puskesmas dan fasilitas kesehatan tingkat pertama memiliki peran penting dalam mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Upaya promotif dan preventif juga menjadi bagian dari pelayanan dalam ekosistem JKN.

Dengan demikian, masyarakat didorong tidak hanya datang mencari pengobatan ketika sudah sakit, tetapi juga menjaga kesehatan sejak dini.

Ketua PERSI Bangka Belitung Dr. H. Muhammad Brizain menilai JKN memberikan jaminan penting bagi masyarakat ketika menghadapi persoalan kesehatan.

Ia menggambarkan semangat JKN sebagai upaya agar masyarakat tetap dapat berjuang menjaga kesehatan dan tidak panik ketika sakit.

"Sekarang kita berjuang supaya tetap sehat, tidak sakit, dan kalau sakit tidak panik," kata Brizain.

Menurutnya, ekosistem pelayanan JKN di Bangka Belitung kini didukung BPJS Kesehatan, rumah sakit, dokter spesialis dan subspesialis, serta berbagai tenaga kesehatan lainnya.

Keberadaan ekosistem tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan peserta JKN memperoleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkan.

Brizain menilai semangat JKN juga sejalan dengan prinsip jaminan sosial, yakni gotong royong antara masyarakat yang sehat dan mereka yang sedang membutuhkan pelayanan kesehatan.

Karena itu, dukungan terhadap JKN tidak semata-mata dilihat sebagai kewajiban membayar iuran. Lebih dari itu, kepesertaan aktif menjadi bentuk kontribusi bersama untuk menjaga sistem perlindungan kesehatan masyarakat.

Di momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, pesan yang kemudian mengemuka dari ketiga narasumber tersebut adalah bahwa kemerdekaan juga dapat diwujudkan melalui rasa aman ketika menghadapi risiko kesehatan.

Menjadi peserta JKN yang aktif, menjaga kesehatan, memahami hak dan kewajiban, serta ikut menopang semangat gotong royong menjadi salah satu cara sederhana masyarakat untuk ikut menjaga keberlanjutan jaminan kesehatan nasional.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.