Saat Kompos Terhenti, Buruan Sae Pakemitan di Bandung Tetap Hidup Menjaga Gizi Warga
Muhamad Syarif Abdussalam August 19, 2026 10:11 AM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Di tengah permukiman daerah Kelurahan Pakemitan, Kecamatan Cinambo, Kota Bandung, hamparan sayuran di Buruan Sae RW 03 tampak tumbuh menjadi sumber pangan sekaligus ruang swadaya warga.

Berbagai jenis sayuran seperti pakcoy, sawi, cabai rawit, kangkung, dan berbagai tanaman lainnya dirawat warga untuk memenuhi kebutuhan pangan. Di tempat yang sama, mereka juga mengembangkan budidaya ikan yang hasilnya dibagikan kepada masyarakat secara bergilir.

Namun, keberlangsungan kebun warga kini menghadapi persoalan. Pengolahan sampah organik yang selama ini menghasilkan kompos terhenti setelah kerja sama dengan Prosignal Karya Lestari dihentikan sementara sejak 1 Juli 2026.

Ketua RW 03, Kelurahan Pakemitan, Rustamaji, mengatakan, terhentinya pengolahan membuat sekitar 2 hingga 3 ton sampah organik menumpuk, padahal kompos hasil pengolahan selama ini dibutuhkan warga untuk mendukung berbagai kegiatan lingkungan.

"Komposnya sangat dibutuhkan masyarakat. Pengelolaannya murni dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, tidak diperjualbelikan," ujarnya saat ditemui di Buruan Sae Kelurahan Pakemitan, Selasa (18/8/2026).

Bagi warga, kompos bukan hanya hasil akhir pengolahan sampah. Kompos menjadi bagian dari siklus sederhana yang menghubungkan sampah rumah tangga dengan kebun pangan, sehingga sampah organik yang diolah menjadi kompos dapat kembali dimanfaatkan untuk tanaman.

Tanaman kemudian dipanen dan bisa dibagikan untuk memenuhi kebutuhan warga. Sebab, di Buruan Sae RW 03, manfaat kebun bahkan disebut terasa dalam persoalan pemenuhan gizi masyarakat, hingga bisa menurunkan angka stunting.

Rustamaji mengatakan, kasus stunting di wilayahnya turun dari sebelumnya 14 anak menjadi dua anak. Menurutnya, kondisi itu terjadi karena keberadaan kebun sayur turut membantu menyediakan sumber pangan bagi warga.

"Kebun sayur ini sangat membantu pemenuhan gizi. Semua dikelola swadaya, hasilnya dibagikan ke warga secara bergilir. Bibit pun kami cari sendiri, belum ada bantuan," kata Rustamaji.

Tidak berhenti pada sayuran, warga juga ternyata terus mengembangkan budidaya ikan secara swadaya. Bibit dicari sendiri, ikan dipelihara bersama, kemudian hasilnya dibagikan kepada warga secara bergilir.

Namun, dengan terhentinya pengolahan sampah organik membuat siklus yang selama ini dibangun warga ikut terganggu. Warga kini hanya mengandalkan peralatan sederhana seperti cangkul dan bak dan untuk mengurangi tumpukan, mereka membuat lubang kompos sementara menggunakan drum.

Rustamaji mengatakan warga sebenarnya telah terbiasa mengelola sampah secara mandiri. Ketika pembuangan ke TPA Sarimukti mengalami kendala, masyarakat memilih mengolah sampah sendiri karena pembakaran tidak diperbolehkan.

"Dulu saat tidak bisa membuang ke Sarimukti, kami inisiatif sendiri. Pembakaran dilarang, lalu mau ditumpuk di depan kelurahan? Tidak mungkin," katanya.

Direktur Utama Prosignal Karya Lestari, Aldi Ridwansyah, mengatakan program hilirisasi pengolahan sampah organik yang disampaikan pada akhir tahun lalu telah dijalankan di Kelurahan Pakemitan, khususnya RW 03.

‎"Kompos hasil olahan sampah organik bermanfaat langsung bagi warga. Saya sangat salut dengan semangat swadaya warga RW 03 Pakemitan," ujar Aldi.

‎Namun, kegiatan pengolahan sampah oleh Prosignal dihentikan sementara oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup per 1 Juli 2026 berdasarkan surat tertanggal 29 Juni 2026. Penghentian tersebut berkaitan dengan adanya penumpukan sampah anorganik atau residu.

‎"Dalam kontrak dengan UPT Pengelolaan Sampah, kami dilarang menerima sampah yang tidak dapat diolah. Jadi, kami ingin segera kembali beroperasi sesuai kontrak, fokus mengolah sampah organik murni seperti sisa dapur dan pasar," katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.