Sepak Bola DKI Kembali Gagal ke PON, Mantan Pemain Soroti Kepemimpinan Asprov
Dian Anditya Mutiara August 19, 2026 10:17 AM

 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Sepak bola DKI Jakarta kembali gagal menembus Pekan Olahraga Nasional (PON) untuk keempat kalinya secara berturut-turut.

Kegagalan tersebut memunculkan sorotan terhadap pembinaan sepak bola di Ibu Kota yang dinilai mengalami stagnasi, termasuk persoalan kepemimpinan Asprov PSSI DKI Jakarta yang masih berstatus pelaksana tugas (Plt) sejak 2022.

Kondisi tersebut menjadi perhatian sejumlah mantan pemain sepak bola Jakarta.

Mereka berharap segera ada kepemimpinan definitif di Asprov PSSI DKI Jakarta yang mampu membenahi pembinaan sekaligus mengembalikan prestasi sepak bola Ibu Kota.

Kepemimpinan definitif dinilai penting karena Jakarta merupakan salah satu barometer sepak bola nasional.

Asprov PSSI DKI Jakarta diharapkan tidak sekadar menjalankan fungsi organisasi, tetapi juga mampu menyusun program pembinaan berkelanjutan, khususnya di tingkat akar rumput atau grassroots.

Baca juga: Patuhi Fatwa MUI, Warga Karawang Ganti Kostum Daster Pakai Sarung saat Perlombaan Bola Agustusan

Patra Soroti Stagnasi Pembinaan

Mantan pemain Persija Jakarta dan Arema Malang, Patra Katri Dahlan, menyoroti dampak persoalan kepemimpinan terhadap kondisi sepak bola Jakarta.

Ia terutama menyoroti pembinaan sepak bola di tingkat grassroots yang dinilainya membutuhkan perhatian serius.

"Saya sangat prihatin dengan situasi sepak bola di Jakarta, khususnya grassroots. Jakarta ini kan barometer sepak bola nasional," kata Patra saat ditemui Warta Kota di lapangan sepak bola Petak Sinkian atau yang lebih dikenal sebagai kandang klub legendaris Union Makes Strength (UMS), Kelurahan Mangga Besar, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, Sabtu (15/8/2026).

Menurut Patra, pembinaan harus menjadi prioritas kepengurusan Asprov PSSI DKI Jakarta ke depan.

Baca juga: Lapangan Sepak Bola Petak Sinkian, UMS dan Silaturahmi Puluhan Tahun

Minimnya keikutsertaan DKI Jakarta dalam ajang PON juga disebutnya sebagai persoalan yang perlu dievaluasi.

"Yang membuat saya sangat prihatin dan miris adalah kalau tidak salah 3 periode pun DKI tidak pernah ikut PON. Tentunya kita perlu sosok yang memang sangat peduli terhadap sepak bola," katanya.

Patra berharap Musyawarah Provinsi (Musprov) DKI Jakarta dapat menghasilkan ketua definitif yang memiliki kepedulian sekaligus pemahaman terhadap sepak bola.

Patra Sebut Prasetyo Edi Marsudi Layak Pimpin Asprov

Sejumlah nama mulai dikaitkan dengan bursa bakal calon ketua Asprov PSSI DKI Jakarta.

Patra secara pribadi menyebut mantan Ketua DPRD DKI Jakarta periode 2014-2024, Prasetyo Edi Marsudi, sebagai sosok yang dinilainya layak memimpin Asprov PSSI DKI.

Menurut Patra, Prasetyo Edi atau yang akrab disapa Pras memiliki perhatian terhadap perkembangan sepak bola dan cukup dekat dengan kalangan sepak bola Jakarta.

"Tentunya kita perlu sosok yang memang sangat peduli terhadap sepak bola. Saya pikir untuk Pak Pras ini baik, karena apa? Saya setiap kali menonton pertandingan tim nasional maupun klub, beliau kerap muncul dan beliau sangat konsen sekali dengan sepak bola Jakarta," tuturnya.

"Jadi menurut saya Pak Pras ini oke lah, kalau saya secara pribadi ya, secara pribadi saya pernah kenal sama beliau waktu saya masih di salah satu BUMD dan beliau ketua DPRD DKI, beliau sangat konsen terhadap sepak bola," lanjut dia.

Baca juga: Detik-detik Petir Hantam Pertandingan Sepak Bola, Seorang Atlet Tewas

Patra menilai kepemimpinan Asprov juga harus dibarengi dengan pengelolaan organisasi yang baik.

Orang-orang yang memahami sepak bola, kata dia, perlu dilibatkan agar program pembinaan dapat berjalan secara efektif.

"Menurut saya ya pribadi menurut saya, beliau adalah orang yang paling tepat untuk memimpin Asprov DKI, karena sudah beberapa kali kok PLT PLT terus, apa dan akhirnya apa, sepak bola kita enggak maju," tutur dia.

"Sepak bola kita berjalan di tempat dan ini perlu saya sih sampaikan ke Pak Pras 'Pak Pras, seandainya Bapak terpilih sebagai pemimpin Asprov DKI kita juara Pak Pras. Harus d-imanage oleh orang yang benar-benar mengerti sepak bola, saya pikir Pak Pras sangat tahu hal ini mungkin itu," sambung Patra.

Mantan Pemain UMS Dorong Persatuan

Sementara itu, Noor Dirgantara, mantan pemain klub legendaris Union Makes Strength (UMS) periode 1988-1992, mengajak seluruh elemen sepak bola Jakarta mengedepankan persatuan dalam menentukan kepemimpinan Asprov PSSI DKI.

Menurut Noor, seluruh pihak perlu duduk bersama dan bermusyawarah untuk menentukan sosok terbaik.

"Menurut saya pribadi kita semua bersatu dulu, saling mendukung untuk kemajuan sepak bola, terutama di Jakarta. Kita secara kekeluargaan bersatu, rapat, memutuskan yang terbaik," kata Noor.

Ia menilai Jakarta membutuhkan pemimpin yang mampu membawa sepak bola daerah kembali berkembang dan berprestasi.

Baca juga: Ujian Neraka Persija: STY Siap Patahkan Kutukan Borneo & Libas Persib di Awal Liga

Integritas dan Kecintaan terhadap Sepak Bola

Pandangan serupa disampaikan Adjie Darmawan, mantan pemain UMS periode 1970-1980.

Menurut dia, calon pemimpin Asprov PSSI DKI Jakarta harus memiliki kecintaan kuat terhadap sepak bola.

Selain itu, integritas dan kejujuran juga menjadi syarat penting bagi sosok yang akan memimpin organisasi sepak bola Ibu Kota.

"Pertama, pribadi yang harus benar-benar kita yakini, satu adalah gila bolanya dulu. Dari situ bisa berkembang mungkin segala aspek bisa mendukung itu, gila dan jujur tentunya," ujar Aji.

Aji menilai kecintaan terhadap sepak bola menjadi modal penting bagi seorang pengurus untuk menjalankan organisasi secara konsisten.

"Karena pendahulu-pendahulu kita pada umumnya dulu, mereka jujur dan mereka memang gila bola," kata dia.

"Tidak memikirkan untung rugi ini di bola, beda dengan sekarang. Jadi mungkin itu salah satu perkembangan yang kita hadapi," sambungnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.