Korea Selatan mengalami lonjakan pariwisata yang gila-gilaan karena didorong oleh popularitas K-Pop dan budaya. Anehnya, tur sejarah mereka malah kurang laku.
Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata menyatakan pada media bahwa terdapat kesenjangan yang signifikan dalam jumlah pengunjung asing antara lokasi wisata sejarah kelam (dark tourism) dan objek wisata lainnya.
Dikutip dari pada Rabu (26/8/2026), dark tourism adalah kunjungan ke tempat-tempat yang memiliki sejarah kelam seperti perang, pembantaian, dan bencana. Beberapa contoh wisatanya adalah Seodaemun Prison History Hall (Aula Sejarah Penjara Seodaemun) dan Namyeong-dong Anti-Communist Interrogation Center (Pusat Interogasi Anti-Komunis Namyeong-dong).
Menurut Kementerian Kebudayaan, Seodaemun Prison History Hall hanya mencatat 1.433 pengunjung asing pada tahun 2024. Sebagai perbandingan, jumlah wisatawan asing yang mengunjungi objek wisata Gyeongbokgung, mencapai 2,78 juta orang pada tahun 2025 dan sekitar 2 juta orang pada tahun 2024. Gyeongbokgung adalah objek wisata paling populer saat ini di Korsel.
"Kami menawarkan 16 paket tur ke Penjara Seodaemun dan pusat interogasi Namyeong-dong setiap bulannya, namun separuhnya dibatalkan karena kurangnya peserta," ujar Park Ho-young, kepala Perencanaan Operasional Seoul di agen perjalanan Tourstory.
Penjara Seodaemun pernah menahan banyak aktivis kemerdekaan selama masa penjajahan Jepang (1910-1945) serta para pejuang gerakan pro-demokrasi setelah pembebasan Korea. Mereka dipenjara dan disiksa di sana.
Sementara itu, pusat interogasi Namyeong-dong adalah fasilitas yang dikenal kejam dan dioperasikan oleh rezim diktator militer Korea pada tahun 1970-an dan 1980-an.
Para pelaku industri menyampaikan kepada media setempat bahwa situs-situs bersejarah kurang diminati, terutama karena minimnya program yang mampu menarik minat pengunjung asing.
"Orang asing datang ke Korea karena mereka tertarik pada budaya Korea," kata Seo Kyoung-duk, seorang profesor di Universitas Wanita Sungshin.
Ia menambahkan bahwa wisatawan sebenarnya tertarik pada sejarah Korea namun sering kali kurang mendapatkan informasi mengenai situs-situs bersejarah tersebut. Ia pun mendesak pemerintah daerah untuk mengembangkan program wisata sejarah kelam dan mempromosikannya melalui media sosial.
Oh Je-yeon, seorang profesor madya di Universitas Sungkyunkwan, mengatakan bahwa pengembangan narasi yang menarik sangat penting untuk memperluas jangkauan wisata sejarah kelam.
"Program-program tersebut sebaiknya menyajikan sejarah Korea dengan cara yang menarik dan mudah dipahami, bahkan bagi orang asing yang tidak memiliki pengetahuan dasar mengenai hal itu," ujar Oh.
Saat ini, Bandara Internasional Incheon menjadi didapuk sebagai bandara tersibuk dunia pada tengah semester tahun. Tercatat 38,39 juta penumpang internasional antara bulan Januari dan Juni. Angka tersebut meningkat 6,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pihak pengelola menyatakan bahwa ini adalah kali pertama Incheon menempati peringkat teratas sejak dibuka pada tahun 2001. Rekor ini bahkan mengungguli Bandara Heathrow di London dan Bandara Changi di Singapura.





