Viral Momen Pegawai SCBD Patungan Beli Donat untuk Mahasiswa
Desy Selviany August 19, 2026 10:17 AM

Para pegawai di SCBD, Tanah Abang, Jakarta Pusat memberikan bekal makanan kepada mahasiswa yang berunjuk rasa di Jalan MH Thamrin. 

Video para pegawai SCBD memberikan beberapa lusin donat itu dibagikan akun X Watchdoc pada Selasa (18/8/2026). 

Dalam video terlihat mahasiswa duduk di Jalan Thamrin lantaran tertahan barikade Kepolisian yang melarang mereka unjuk rasa di Bundaran HI. 

Sedari siang, ribuan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia itu terpaksa menggelar aksi jauh dari titik awal yang direncanakan. 

Di sore hari, saat para pegawai perkantoran keluar kawasan SCBD, mereka inisiatif memberikan beberapa kotak donat. 

Donat tersebut kemudian dibagikan ke sejumlah mahasiswa. 

Para pegawai yang memberikan donat pun menyindir sederet Polisi yang ada di hadapan mahasiswa bahwa donat tersebut hanya diberikan untuk rakyat lantaran berasal dari rakyat. 

"Donatnya cuma untuk rakyat ya. Karena dari rakyat untuk rakyat," celetuk seorang wanita yang membagikan donat. 

Sebelumnya massa BEM UI dan sejumlah kampus lain berencana menyampaikan aspirasi di Bundaran Hotel Indonesia (HI).  

Namun, mereka tertahan di depan Plaza UOB sejak sekitar pukul 13.00 WIB setelah kepolisian tidak mengizinkan massa melanjutkan perjalanan menuju Bundaran HI.

Kepala Bidang Sosial Politik BEM UI, Muhammad Hafizh Hernanda mengaku menghadapi berbagai tekanan dan hambatan sebelum maupun saat aksi berlangsung. 

Gangguan tersebut mulai dari sulitnya akses transportasi hingga dugaan intimidasi terhadap mahasiswa dan pihak yang membantu mobilisasi massa. 

Muhammad Hafizh menyatakan, tekanan tersebut sudah dirasakan jauh sebelum massa tiba di lokasi titik kumpul. Hambatan utama yang dirasakan adalah sulitnya akses transportasi dan mobil komando (mokom) yang akan digunakan untuk berorasi. 

"Banyak intimidasi dari awal, saat aksi maupun sebelum aksi. Kopaja kami dikooptasi oleh sebuah institusi aparat. Kami sudah mengontak enam mobil komando, dan ujung-ujungnya mereka semua tidak bisa (datang) dengan berbagai alasan," kata dia saat ditemui sela-sela demo di lokasi, hari ini. 

Hafizh membeberkan curhatan salah satu sopir mobil komando yang mengaku dilarang oleh pihak pemerintah dan aparat untuk mengangkut mahasiswa. 

Para sopir tersebut merasa terancam akan kehilangan pekerjaan jika tetap nekat membantu massa aksi. 

"Saya sendiri tidak menyalahkan driver tersebut karena mereka tidak ingin ada di posisi tersebut. Bayangkan, dari 
mobil komando saja sudah begitu tekanannya," lanjutnya. 

Selain mobil komando, BEM UI juga menyoroti hilangnya puluhan armada bus Kopaja yang sedianya digunakan untuk membawa massa dari berbagai titik. 

Tercatat, sebanyak 24 bus Kopaja tiba-tiba tidak bisa digunakan karena diduga telah "diamankan" oleh pihak institusi tertentu. 

Fenomena serupa, kata Hafizh, tidak hanya dialami mahasiswa UI, tetapi juga mahasiswa dari sejumlah universitas lain. Menurutnya, tekanan bahkan menyentuh ranah akademik dan personal mahasiswa. 

"Kawan-kawan dari BEM universitas lain banyak yang diintimidasi. Seolah-olah kalau mereka tetap turun, jabatannya akan diturunkan. Bahkan yang paling jahat, saya mendengar ada beberapa universitas yang mahasiswanya diancam oleh rektornya karena ditelepon pihak tertentu. Jika ikut aksi, beasiswa KIP-K mereka akan dicabut. Dan itu luar biasa jahat," tegas Hafizh. 

Tekanan fisik juga terjadi di lingkungan kampus. Hafizh melaporkan bahwa sejumlah kampus seperti Universitas Bung Karno (UBK), Universitas Trilogi, dan Universitas Paramadina sempat didatangi oleh aparat menjelang keberangkatan aksi. 

Meski mendapatkan berbagai tekanan dan hambatan logistik, para mahasiswa menegaskan akan tetap menyuarakan aspirasi mereka demi mengawal isu-isu kerakyatan yang menjadi fokus tuntutan dalam demonstrasi tersebut.  

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.