TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Pengibaran Bendera Merah Putih pada Peringatan Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia di SMP Negeri 3 Padang menyisakan cerita hangat yang menginspirasi banyak orang.
Sosok di balik aksi berani penyelamatan tali bendera yang terlepas tersebut adalah Gilang Okta Pratama, seorang siswa kelas 9.1 di sekolah tersebut.
Di balik aksi ketangguhan dan keberaniannya di lapangan, Gilang ternyata tumbuh dari latar belakang keluarga yang sangat sederhana.
Remaja kelahiran 29 Januari 2011 ini merupakan anak sulung dari dua bersaudara yang diajarkan nilai kerja keras sejak kecil oleh kedua orang tuanya.
Baca juga: Pratu Rizki Gugur di Papua: Rumah Duka di Pessel Dipenuhi Pelayat, Almarhum Dimakamkan Hari Ini
Kehidupan sehari-hari keluarga Gilang diwarnai oleh kebersahajaan dan kesederhanaan.
Ayah Gilang menggantungkan nafkah keluarga dengan bekerja sebagai buruh harian lepas demi mencukupi kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak-anaknya.
Sementara itu, sang ibu turut membantu menopang perekonomian keluarga dengan berdagang gorengan keliling.
Kesederhanaan hidup orang tuanya tersebut tidak pernah menyurutkan semangat Gilang untuk terus berprestasi dan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter.
Baca juga: Aksi Heroik Siswa SMPN 3 Padang Panjat Tiang Bendera Saat Upacara HUT RI: Spontan demi Merah Putih
Meski masih menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Gilang telah mengukir prestasi tersendiri di luar dunia akademis.
Remaja berusia 15 tahun ini tercatat sebagai seorang atlet muda dalam cabang olahraga selaju sampan atau dayung.
Setiap hari, Gilang konsisten menjalani latihan fisik yang cukup berat untuk mengasah kemampuannya di atas air.
Hobi dan kedisiplinan melatih fisik dalam olahraga dayung inilah yang secara tidak langsung membentuk ketangguhan otot tangan dan stamina fisiknya.
Baca juga: Sosok Pratu Rizki yang Gugur di Papua: Anak Yatim Piatu, 6 Tahun Berdinas dan Kebanggaan Kampung
Peristiwa yang melontarkan nama Gilang ke publik terjadi pada momentum peringatan kemerdekaan Indonesia.
Saat itu, Pasukan Sembilan yang bertugas mengibarkan bendera mengalami kendala teknis setelah tali tiang mendadak terlepas sewaktu ditarik.
Melihat situasi kritis yang sempat membuat prosesi upacara terhenti.
Gilang yang saat itu bertindak sebagai peserta upacara biasa, merasakan panggilan jiwa untuk segera bertindak demi kelancaran pengibaran Merah Putih.
Saat dimintai keterangan pada Rabu (19/8/2026), Gilang menuturkan bahwa aksinya tersebut murni berawal dari inisiatif pribadi secara spontan.
Ia sama sekali tidak pernah menyangka atau merencanakan akan melakukan aksi pemanjatan tersebut sebelumnya.
Melihat adik kelasnya dari kelas 7 yang sempat berikhtiar naik namun ragu di pertengahan tiang, Gilang langsung maju ke depan barisan.
Tanpa paksaan dari para guru, ia secara santun meminta izin kepada guru pembina untuk mencoba memanjat tiang tersebut.
Baca juga: Prajurit Yonif 133 Padang Gugur di Papua: Jenazah Pratu Rizki Diperkirakan Tiba di Pessel Siang Ini
Keputusan Gilang untuk memanjat tiang bendera setinggi itu dilakukan tanpa menggunakan alat pengaman apa pun.
Mengingat ia tidak memiliki latar belakang dalam olahraga panjat tebing.
Aksi ini merupakan pengalaman pertama dalam hidupnya memanjat tiang bendera.
Satu-satunya modal utama yang diandalkan Gilang adalah kekuatan tangan dan daya tahan tubuh yang terbentuk dari rutinitas latihan dayung sehari-hari.
Berkat ketahanan fisiknya sebagai atlet sampan, ia mampu merambat naik dengan cekatan.
Tantangan terbesar yang dirasakan Gilang saat berada di ketinggian adalah kondisi tiang yang bergoyang-goyang akibat tumpuan badannya.
Namun, fokus utamanya saat itu bukanlah rasa takut tiang akan roboh, melainkan menjaga agar genggaman tangannya tidak terlepas.
Dengan ketenangan dan konsentrasi tinggi, Gilang terus merambat hingga mencapai puncak tiang.
Ia berhasil mengambil ujung tali yang terlepas dan membawanya turun kembali sehingga upacara bendera dapat berlanjut secara khidmat.
Aksi keberanian yang dilakukan Gilang tak hanya memukau peserta upacara di sekolah, tetapi juga mengharukan bagi kedua orang tuanya.
Sang ayah yang bekerja sebagai buruh harian dan sang ibu pedagang gorengan keliling merasa sangat bangga atas sikap mulia anak sulung mereka.
Di lingkungan SMPN 3 Padang, aksi Gilang langsung disambut hangat oleh seluruh civitas akademika.
Para guru berbondong-bondong menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas inisiatif cepat yang disajikannya di lapangan.
Teman-teman sebaya Gilang turut menyuarakan kebanggaan mereka atas jiwa pemberani yang dimiliki rekan satu sekolahnya.
Aksi tersebut menjadikan Gilang sebagai sosok yang makin disegani dan dicintai oleh kawan-kawannya.
Baca juga: Promo Kemerdekaan Bank Nagari Diserbu ASN, Cashback dan Asuransi Jadi Andalan
Kepala SMPN 3 Padang, Rika Susiwaty, memberikan gambaran utuh mengenai kepribadian Gilang di sekolah.
Menurutnya, Gilang adalah sosok siswa yang memiliki kepribadian ceria (fun) dan berkarakter sangat baik sehari-hari.
Rika menambahkan bahwa aksi sigap Gilang memanjat tiang merupakan cerminan nyata dari rasa cinta tanah air yang tertanam kuat dalam dirinya.
Pihak sekolah pun langsung memberikan tepuk tangan riuh (applause) dan rewardpenghargaan khusus begitu Gilang turun dari tiang.
Setelah kejadian tersebut, tim IT dan pengelola media sosial sekolah mengunggah dokumentasi aksi heroik Gilang ke platform digital.
Pihak sekolah maupun Gilang sendiri mengaku sangat terkejut sewaktu mengetahui tayangan tersebut mendadak viral.
Gilang yang tumbuh dalam kesederhanaan tidak pernah membayangkan bahwa aksi spontannya demi menyelamatkan prosesi upacara bendera di sekolahnya akan disaksikan dan mendapat pujian luas dari ribuan netizen di media sosial.
Baca juga: Sambut HUT ke-81 RI, SAMANTA 2026 Sukses Semarakkan Seni Tari Nusantara
Keberanian, ketangguhan fisik, serta kepribadian baik yang dimiliki anak pedagang gorengan ini kian memantapkan langkahnya dalam merajut impian masa depan.
Gilang menyampaikan tekad kuatnya untuk mengejar cita-cita menjadi seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Melalui keteladanan dari keluarga yang sederhana serta semangat berlatih sebagai atlet dayung, Gilang berharap kelak dapat mendedikasikan hidupnya untuk membela bangsa dan negara sebagai anggota TNI setelah menyelesaikan pendidikannya.(*)