Laporan wartawan Tribun-Papua, Yulianus Magai
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA – Mahasiswa Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ) menggelar aksi Panggung Demokrasi di lingkungan Kampus USTJ, Kota Jayapura, Papua, Rabu (19/8/2026).
Kegiatan bertema “65 Tahun Kemanusiaan di Bayang-Bayang Militer” tersebut menjadi ajang bagi mahasiswa untuk menyuarakan pandangan terkait berbagai persoalan kemanusiaan di Tanah Papua.
Sejumlah mahasiswa mengisi mimbar bebas ini dengan orasi, pembacaan puisi, hingga pidato kebudayaan yang menyoroti kondisi sosial, politik, dan keamanan.
Presiden Mahasiswa USTJ, Alex You, menegaskan aksi tersebut merupakan bentuk pemanfaatan ruang akademik untuk menyampaikan aspirasi publik.
"Panggung demokrasi ini menjadi ruang akademik untuk menyuarakan kasus-kasus kemanusiaan yang terjadi di Tanah Papua sampai hari ini," ujar Alex di sela-sela kegiatan.
Baca juga: OPM Sandera 9 Perempuan di Mimika, Seorang Mama Papua Ditembak dan Dibuang ke Jurang
Alex menjelaskan, persoalan di Papua perlu dipahami melalui rekam jejak sejarah yang panjang sejak periode 1961 hingga 2026, bukan sekadar melihat dinamika saat ini.
Ia menyebut kegiatan ini tidak hanya melibatkan mahasiswa lama USTJ, melainkan juga mahasiswa baru dan mahasiswa dari kampus lain di Jayapura.
"Keterlibatan mahasiswa baru penting untuk membuka wawasan mereka dalam memahami persoalan di Papua," katanya.
Senada dengan hal tersebut, Aktivis Mahasiswa USTJ, Stenly, menilai ruang diskusi terbuka di lingkungan perguruan tinggi sangat krusial untuk mengasah nalar kritis mahasiswa anyar.
"Sangat penting membangun pemahaman bagi adik-adik mahasiswa yang baru masuk, supaya mereka bisa melihat situasi Papua yang hari ini sedang tidak baik-baik saja," tegas Stenly.
Ia menambahkan, kompleksitas persoalan Papua meliputi isu kemanusiaan, penanganan keamanan, hak masyarakat adat, hingga pengelolaan sumber daya alam.
Baca juga: Aksi Massa di Jayapura, Mahasiswa Desak Pemerintah Hentikan Pendekatan Militer di Papua
Oleh karena itu, Stenly mengimbau mahasiswa agar tidak menyerap informasi dari satu sudut pandang saja.
"Mahasiswa harus kritis dan berpikir. Kita ingin mengingatkan adik-adik agar tetap kritis dan tidak melihat Papua dari satu kacamata saja," pungkasnya.
Panggung Demokrasi berlangsung tertib dan mendapat antusiasme dari mahasiswa perguruan tinggi lintas kampus di Kota Jayapura. (*)