TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN-Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan mencatat belum terjadi lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tengah kondisi cuaca panas, debu, serta munculnya kabut dan asap diduga karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Tarakan di Kalimantan Utara.
Kepala Dinkes Tarakan, dr Devi Ika Indriarti mengatakan, berdasarkan laporan mingguan dari fasilitas pelayanan kesehatan (faskes), jumlah kasus ISPA justru mengalami penurunan pada pekan terakhir yang telah dihimpun.
Dikatakan dr Devi, ISPA merupakan salah satu penyakit yang biasanya pasti masuk dalam 10 besar penyakit dan setiap bulannya dilaporkan petugas puskesmas.
Ia menjelaskan, Dinkes Tarakan melakukan pemantauan penyakit secara rutin melalui kegiatan surveilans. Data tersebut dikumpulkan setiap pekan untuk melihat perkembangan penyakit yang berpotensi menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB) atau wabah.
Baca juga: Awal 2026, Pasien ISPA Dominasi Angka Rawat Inap pada Fasilitas Kesehatan di Malinau
“Tapi kalau kami melihat, ini kan biasanya setiap minggu dilakukan untuk meningkatkan kewaspadaan, jadi surveillance-nya itu juga melakukan kegiatan, yaitu biasanya setiap hari Selasa itu mengumpulkan data terkait penyakit-penyakit yang berpotensi untuk menyebabkan terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) atau wabah. Nah, itu biasanya dilaporkan setiap minggu di hari Selasa,” katanya.
Berdasarkan laporan tersebut, Devi menyebut tidak ada peningkatan kasus ISPA dari minggu ke-30 menuju minggu ke-31 tahun 2026.
“Tapi berdasarkan laporan dari minggu ke-30 ke minggu ke-31, itu ISPA itu tidak mengalami peningkatan,” ujarnya.
Bahkan, angka kasus yang tercatat di fasilitas kesehatan mengalami penurunan cukup besar.
“Untuk ISPA itu dari minggu ke-30 itu 515, sedangkan di minggu ke-31 itu 247,” kata dr. Devi.
Artinya kata dr Devi, belum terjadi peningkatan. Meski keadaan cuaca saat ini cukup panas. Namun demikian pihaknya masih akan menunggu lagi laporan berikutnya. Karena data 247 di minggu ke-31 masuk dalam data minggu pertama Agustus 2026. Sementara data di minggu kedua masih proses dihimpun datanya.
"Kita masih menunggu laporan nanti di hari Selasa berikutnya ya,” sambungnya.
Baca juga: Pasca Lebaran, Penyakit ISPA di Tarakan Masih Stagnan, Dinkes Masih Tunggu Data dari Puskesmas
Devi menegaskan, data tersebut merupakan laporan mingguan yang berasal dari pasien yang datang mendapatkan pelayanan kesehatan di puskesmas.
“Dinkes kan laporannya setiap minggu. Jadi minggu ke-30 dan minggu ke-31, berarti minggu ini dengan minggu lalu. Itu tidak terjadi peningkatan. Yang terjadi malahan penurunan kalau kita lihat dari kasusnya ya, dari jumlah kasusnya,” jelasnya.
Meski demikian, Dinkes tidak dapat memastikan apakah terdapat masyarakat yang mengalami gejala ISPA tetapi memilih tidak memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
“Apakah memang ada yang batuk pilek berobat sendiri, kami enggak tahu. Tapi kan catatan ini adalah laporan dari teman-teman yang berkunjung, pasien yang berkunjung ke puskesmas. Jadi terjadi penurunan, yang awalnya 515 di minggu ke-30, menjadi 247 di minggu ke-31,” ungkap Devi.
Dengan demikian, angka 515 kasus pada minggu ke-30 turun menjadi 247 kasus pada minggu ke-31 berdasarkan laporan fasilitas kesehatan yang diterima Dinkes Tarakan.
Namun, Devi mengingatkan masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi udara dan cuaca yang belakangan kurang mendukung. Menurut Devi, imbauan Dinkes juga mengacu pada informasi kualitas udara yang disampaikan Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
“Dinkes melihat kalau laporan dari DLH, kan indeks kualitas udara. Indeks kualitas standar udara DLH mereka menyampaikan bahwa indeks kualitas udaranya ini masih kurang bagus ya,” ujarnya.
Ia mengatakan, kondisi cuaca yang panas, ditambah situasi udara yang terkadang berkabut maupun mendung, menjadi alasan masyarakat perlu lebih memperhatikan kondisi kesehatan.
“Kalau misalnya tidak perlu untuk keluar rumah, ya dihindari. Dikurangin untuk perlu keluar rumah,” kata Devi.
Selain mengurangi aktivitas di luar rumah, masyarakat yang sedang mengalami demam, batuk dan pilek juga diminta mengurangi kontak dengan anggota keluarga lainnya.
Ia juga mengimbau jika sedang alami demam, batuk, pilek harus menghindari kontak jika tinggal satu rumah dan menggunakan masker.
Penggunaan masker juga dianjurkan ketika masyarakat harus keluar rumah, terlebih jika berada di lingkungan yang berdebu atau terdapat asap.
“Kemudian kalau keluar rumah pun kalau misalnya seperti itu, dia harus pakai masker untuk menghindari paparan debu, asap. Kalau misalnya sedang menderita sakit demam, batuk, pilek ya harus memakai masker,” pungkas Devi.
(*)
Penulis: Andi Pausiah