TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Berikut 10 contoh laporan perjalanan menarik ke tempat wisata atau ke tempat bersejarah di Aceh dalam bentuk narasi atau karangan menggunakan kalimat efektif dan majas metafora untuk kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 4 halaman 146 147 soal Menulis Bab 6 Satu Titik dalam buku paket Kurikulum Merdeka terbitan Kemendibudristek edisi revisi 2023 .
Baca juga: 6 Contoh Laporan Perjalanan Menarik Menggunakan Kalimat Efektif dan Majas Metafora, Kunci Jawaban BI
Bab 6 Satu Titik
Soal :
Bahas Bahasa
Majas Metafora
Majas adalah kiasan. Majas metafora adalah kiasan yang menggunakan kata atau kelompok kata yang bukan arti sebenarnya untuk menggambarkan sesuatu. Kata atau kelompok kata tersebut memiliki persamaan atau perbandingan dengan kata yang diwakilinya.
Berikut ini kalimat yang menggunakan majas metafora dalam teks “AnakAnak Merapi”.
1. Beberapa tahun lalu, wedhus gembel menjadi buah bibir orang-orang di Indonesia.
Arti buah bibir sebenarnya : bahan pembicaraan
2. Wedhus gembel membabi buta, menghanguskan apa saja yang dilaluinya.
Arti membabi buta sebenarnya : menerjang tanpa memilih
3. “Abu dan lava yang dikeluarkan itu baik untuk menyuburkan tanah,” Ratna angkat bicara.
Arti angkat bicara sebenarnya : mulai berbicara atau memberi pendapat
4. Mereka meminta Panji berlapang dada menerima kenyataan itu.
Arti berlapang dada sebenarnya : sabar
5. Mendung menyelimuti wajah Panji ketika dia teringat sapi kesayangannya.
Arti mendung sebenarnya : sedih
Menulis
Apa
Siapa
Mengapa
Dimana
Kapan
Bagaimana
Laporan Perjalanan
Kamu tentu pernah melakukan perjalanan ke suatu tempat untuk berwisata atau keperluan lainnya. Kegiatan itu dapat kamu tuangkan dalam bentuk laporan perjalanan.
Apakah laporan perjalanan itu? Laporan perjalanan adalah tulisan yang berisi hasil dari kunjungan atau perjalanan ke suatu tempat. Laporan perjalanan berisi fakta atau informasi berdasarkan pengamatan atau pengalaman orang yang melakukan perjalanan. Laporan perjalanan harus ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Laporan perjalanan dapat dituliskan dalam bentuk narasi atau karangan. Kamu tentu masih ingat ADiKSiMBa (apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, bagaimana). Unsur-unsur di dalam laporan perjalanan harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Sekarang, ingat-ingatlah perjalanan menarik yang pernah kamu lakukan. Lalu, buatlah laporan perjalanan dalam bentuk narasi atau karangan. Tuliskan karanganmu dengan memulai dari bagian awal yang menarik, diikuti bagian tengah yang seru, ditutup dengan bagian akhir yang juga menarik. Jangan lupa gunakan kalimat efektif dan majas metafora yang telah kalian pelajari.
Gunakan kerangka karangan berikut untuk memudahkan kamu bekerja.
Judul :
Awal (1 paragraf)
Ceritakan nama dan waktu perjalanan yang dilakukan (apa dan kapan), orang yang ikut dalam perjalanan (siapa), dan untuk apa perjalanan itu dilakukan (mengapa).
Tengah (2—3 paragraf)
Ceritakan proses perjalanannya (bagaimana). Kamu dapat menceritakan kendaraan yang digunakan, berapa lama waktu yang diperlukan, dan suasana perjalanannya. Kalau kamu mengetahui biaya-biaya dalam perjalanan tersebut, kamu dapat mencantumkannya. Ceritakan suka duka yang dialami selama perjalanan atau saat sampai di tujuan. Ceritakan pula hal-hal yang dijumpai atau dilakukan di tempat tujuan.
Akhir (1 paragraf)
Sampaikan kesan yang kamu dapat dari perjalanan ini. Kamu juga dapat menyampaikan rencana atau saran untuk perjalanan selanjutnya. Misalnya, “Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya membawa payung.”
Kunci jawaban :
Berikut contoh jawaban menulis laporan perjalanan menarik yakni 10 contoh laporan perjalanan menarik ke tempat wisata atau ke tempat bersejarah di Aceh dalam bentuk narasi atau karangan menggunakan kalimat efektif dan majas metafora :
1. Laporan Perjalanan ke Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh
Judul: Menyapa Cahaya Abadi di Pelataran Baiturrahman
Pada awal bulan Juni, saat matahari belum memuncak ke puncak kemegahannya, aku bersama kedua orang tuaku melangkah menuju jantung Banda Aceh untuk berkunjung ke Masjid Raya Baiturrahman. Perjalanan ini kami lakukan untuk mengisi libur sekolah sekaligus mengenal lebih dekat saksi bisu ketangguhan dan keimanan masyarakat Aceh yang telah berdiri tegak sejak zaman dahulu kala.
Kami menempuh perjalanan menggunakan bus antarkota yang bergerak perlahan bagai perahu menyusuri aliran sungai. Perjalanan memakan waktu sekitar empat jam, dengan biaya tiket sebesar Rp85.000 per orang. Di sepanjang jalan, hamparan sawah bagai permadani hijau terbentang luas menyambut pandangan, sementara angin berbisik lemah menyapa wajah para pelancong yang mendambakan ketenangan.
Sesampainya di gerbang kota, kami disambut deretan gedung yang berdiri kokoh bagai prajurit yang tak pernah lelah menjaga tanah kelahirannya. Langkah kaki kami melaju penuh harap, hingga akhirnya kubah-kubah putih yang bersinar bagai bulan purnama tampak menjulang di kejauhan, memanggil-manggil jiwa untuk segera mendekat.
Saat melangkah masuk ke halaman masjid, kesunyian bagai selimut lembut menyelimuti hati. Dinding-dindingnya bagai lembaran sejarah yang bercerita tentang kekuatan iman yang tak tergoyahkan meski badai pernah menyapu bersih segenap bumi. Kami berkelana memandangi setiap sudut, menyaksikan keindahan arsitektur yang merupakan perpaduan harmoni antara seni dan ketakwaan.
Di pelataran masjid, kami berhenti sejenak menatap langit biru yang menjadi atap terbuka tempat bertahta kedamaian. Hati terasa penuh bagai bejana yang meluap dengan rasa syukur, menyadari betapa agung Pencipta telah menitipkan keindahan tempat ibadah yang begitu memukau di ujung pulau terhormat ini. Kami juga menyempatkan diri beristirahat sejenak sambil menikmati sejuk angin yang berhembus di sela-sela tiang-tiang besar yang berdiri tegak bagai pohon-pohon rindang peneduh hati.
Menjelang sore, kami berpamitan membawa kenangan bagai mutiara yang tersimpan rapi di dalam dada. Meski kaki terasa sedikit lelah, namun jiwa segar kembali bagai disiram air mata kasih sayang yang menyejukkan segenap raga.
Perjalanan ini meninggalkan kesan yang mendalam bagai tinta emas yang tak mudah pudar di atas lembaran hati. Jika suatu saat nanti kamu berkunjung ke sini, sebaiknya datanglah saat pagi buta atau menjelang senja agar dapat menikmati suasana tenang tanpa terik matahari yang membakar kulit, dan jangan lupa mengenakan pakaian yang sopan untuk menjaga kehormatan tempat ini.
2. Laporan Perjalanan ke Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh Selatan
Judul: Menyusuri Nadi Kehidupan di Hutan Leuser
Pada pertengahan bulan Juli, aku dan dua sahabat mengarahkan langkah menuju Taman Nasional Gunung Leuser. Kami memulai perjalanan ini bukan sekadar untuk memuaskan rasa ingin tahu, melainkan untuk menyaksikan langsung paru-paru dunia yang masih bernapas kencang di ujung Sumatera, serta menikmati keindahan alam yang belum tersentuh tangan-tangan perusak.
Kami menyewa sebuah kendaraan roda empat yang bergerak bagai kumbang yang membelah jalan berliku. Perjalanan memakan waktu sekitar enam jam dengan biaya sewa kendaraan dan pemandu sebesar Rp750.000 untuk rombongan. Jalan yang berkelok bagai untaian kalung melingkar menguji kesabaran, namun pemandangan hutan lebat di kiri-kanan bagai tirai hijau yang tak berujung senantiasa memanjakan mata.
Semakin jauh kami melaju, udara semakin dingin bagai air yang baru saja diambil dari sumur tua. Kabut tipis sesekali melintas bagai kain sutra putih yang melayang-layang menyapa puncak-puncak pohon raksasa, membuat suasana menjadi bagai negeri dongeng yang tersembunyi dari jangkauan dunia.
Sesampainya di kawasan hutan, kami berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang berakar bagai urat nadi bumi yang menonjol gagah. Suara kicauan burung bagai alunan nada yang tak tertulis memenuhi udara, sesekali disambut gemuruh sungai yang berair jernih bagai kaca bening membelah rimbunnya pepohonan. Kami menyaksikan beragam tanaman langka yang tumbuh bagai permata tersembunyi di balik semak belukar yang rimbun.
Ada kalanya kami terhenti karena jalan yang licin bagai lantai yang disiram minyak, namun semangat bagai api yang tak kunjung padam terus mendorong langkah untuk melaju. Kami bersyukur dapat menyaksikan kesuburan hutan yang menjadi rumah bagi ribuan makhluk hidup, tempat di mana alam dan kehidupan menyatu bagai jiwa dan raga yang tak terpisahkan.
Saat matahari mulai turun ke peraduannya, kami berpamitan membawa kekayaan alam bagai harta karun yang tak ternilai harganya. Meski tubuh terasa lelah, namun pikiran menjadi segar kembali bagai disiram air jernih yang mengalir dari mata air pegunungan yang murni.
Perjalanan ini mengajarkan kami bahwa hutan adalah nyawa kehidupan yang harus dijaga. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya membawa alas kaki yang kokoh dan pakaian tertutup yang tebal, serta jangan pernah meninggalkan sampah agar keindahan tempat ini tetap abadi bagai warisan luhur bagi generasi mendatang.
3. Laporan Perjalanan ke Pantai Lampuuk, Aceh Besar
Judul: Di Bawah Peluk Ombak Lampuuk
Pada hari libur awal bulan Agustus, aku dan keluarga besar berangkat menuju Pantai Lampuuk yang terletak tak jauh dari Banda Aceh. Tujuan perjalanan ini adalah untuk melepas penat setelah sibuk dengan kegiatan sehari-hari, sekaligus menyaksikan sendiri keindahan pantai yang tersohor bagai perhiasan yang terpasang indah di tepi samudera.
Kami menaiki kendaraan pribadi yang melaju tenang bagai angin yang berhembus lembut. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar empat puluh lima menit dengan biaya tiket masuk sebesar Rp10.000 per orang. Jalan menuju ke sana mulus bagai permadani yang terhampar rapi, dengan pemandangan bukit hijau yang berdiri bagai raksasa penjaga pantai di sisi jalan.
Sesampainya di bibir pantai, hamparan pasir putih bagai tepung sagu yang bersih menyambut langkah kaki. Air laut yang berwarna biru muda di tepi berubah menjadi biru tua di kejauhan, menyatu dengan langit bagai dua lembar kain yang dijahit menjadi satu tanpa batas yang tampak oleh mata.
Ombak datang berlarian bagai anak-anak yang riang menyapa tepian, lalu mundur kembali perlahan membawa serta butiran pasir bagai memeluk bumi dengan kasih sayang. Kami duduk di atas pasir yang hangat bagai pelukan ibu di siang hari, membiarkan kakinya disentuh air laut yang segar bagai air minum yang menyejukkan kerongkongan.
Kami juga berjalan menyusuri pantai yang panjang bagai jalan tak berujung, mengumpulkan kerang-kerang kecil bagai butiran permata yang terbuang di tepian. Siang itu kami menikmati hidangan ikan bakar yang harumnya bagai melayang di udara, memuaskan rasa lapar yang muncul setelah puas bermain riang bersama ombak.
Menjelang matahari terbenam, langit berwarna jingga bagai kain sutra yang dilukis dengan warna-warni indah. Kami pulang membawa hati yang gembira bagai orang yang baru saja menerima anugerah yang luar biasa dari tangan Yang Maha Kuasa.
Pantai Lampuuk menyisakan kenangan manis bagai madu yang tak mudah hilang rasanya dari lidah. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya datanglah menjelang sore agar tidak kepanasan, dan bawalah alas kaki yang nyaman agar nyaman berjalan di atas pasir yang halus namun kadang tajam tersembunyi di baliknya.
4. Laporan Perjalanan ke Benteng Indra Patra, Aceh Besar
Judul: Jejak Kejayaan di Atas Benteng Waktu
Pada awal bulan September, aku bersama teman-teman sekelas berangkat menuju Benteng Indra Patra yang menyimpan sejarah lama di tanah Aceh. Perjalanan ini kami lakukan untuk mempelajari peninggalan masa lampau secara langsung, melihat sendiri saksi bisu kejayaan kerajaan yang pernah berdiri gagah bagai gunung yang tak tergoyahkan di masa silam.
Kami menaiki bus umum yang bergerak sederhana bagai unta yang berjalan tenang menembus waktu. Perjalanan memakan waktu sekitar dua jam dengan biaya tiket sebesar Rp15.000 per orang. Sepanjang perjalanan, kami melihat pemukiman penduduk yang rapi bagai susunan manik-manik di sepanjang jalan, diselingi sawah dan kebun yang hijau bagai lukisan alam yang tak pernah bosan dipandang.
Sesampainya di lokasi, benteng batu itu tampak menjulang bagai raksasa yang tertidur namun tetap siaga menjaga rahasia masa lalu. Dinding batu yang tebal dan kokoh bagai tulang punggung bangsa yang tak pernah patah meski badai dan zaman terus berubah berganti silih berganti.
Kami melangkah di antara sisa-sisa tembok yang kini berlumut bagai wajah tua yang penuh kerut menceritakan perjalanan panjang zaman.
Setiap sudut seakan berbisik bagai orang tua yang bercerita tentang keberanian para leluhur yang mempertahankan tanah air bagai menjaga biji mata di tengah siang yang terik.
Kami berkeliling menyusuri jejak-jejak masa lalu, membayangkan masa kejayaan yang kini tinggal kenangan bagai awan yang pernah lewat di angkasa. Meski sebagian bangunan telah runtuh dimakan waktu bagai kayu lapuk yang rapuh, namun semangat yang terkandung di dalamnya tetap membara bagai api yang tak pernah padam di dalam dada.
Saat matahari mulai condong ke barat, kami meninggalkan benteng itu dengan perasaan kagum yang mendalam bagai lautan yang tak bertepi. Langkah pulang terasa ringan bagai terbangnya burung yang lepas dari sangkar, membawa ilmu dan inspirasi yang baru saja kami temukan.
Benteng Indra Patra mengajarkan kami bahwa kekuatan yang sejati adalah keteguhan hati. Jika berkunjung ke sini, sebaiknya membawa air minum dan topi agar tidak kepanasan, serta berhati-hatilah saat berjalan di atas reruntuhan batu yang licin bagai lantai yang baru saja dibasuh air hujan.
5. Laporan Perjalanan ke Pulau Weh, Sabang
Judul: Di Ujung Sumatera, Di Ujung Dunia
Pada libur akhir tahun bulan Desember, aku dan keluargaku menyeberang menuju Pulau Weh, Sabang, titik paling barat wilayah Indonesia. Perjalanan ini kami lakukan untuk menyaksikan ujung bumi pertiwi yang konon keindahannya bagai surga yang jatuh ke bumi, tempat di mana matahari terbenam dengan kemegahan yang tiada tara.
Kami menaiki kapal feri yang membelah lautan biru bagai pisau yang membelah mentega lembut. Perjalanan laut memakan waktu sekitar satu jam dengan biaya tiket sebesar Rp30.000 per orang. Di sepanjang perjalanan, ombak berkejaran bagai ribuan buih putih yang menari riang di atas permukaan air yang jernih bagai kaca bening tanpa cela.
Sesampainya di pulau itu, udara segar menyambut bagai pelukan kerabat lama yang lama tak berjumpa. Jalan yang berkelok mengelilingi pulau bagai ikat kepala yang melingkar rapi di atas kepala sang raja, menghubungkan pantai-pantai cantik yang tersembunyi bagai permata di dalam peti yang baru dibuka.
Kami mengunjungi Tugu Nol Kilometer yang berdiri gagah bagai tiang penyangga langit di ujung daratan. Dari sana, samudera luas tampak membentang bagai lembaran tak bertepi yang menyatukan langit dan air menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan oleh pandangan mata.
Kami juga menyelam menikmati keindahan bawah laut yang bagai taman surga yang penuh warna-warni ikan bagai bunga-bunga yang berenang riang di taman abadi. Air yang jernih bagai udara membuat setiap sudut terlihat jelas, seakan kami sedang melayang di dalam ruang tanpa dinding yang terbuat dari air kehidupan.
Saat hari mulai gelap, kami duduk di tepi pantai menyaksikan matahari turun perlahan bagai raja yang kembali ke istananya. Hati terasa tenang dan penuh bagai bejana yang meluap dengan rasa syukur atas keindahan ciptaan Tuhan yang begitu luar biasa di ujung tanah air ini.
Pulau Weh sungguh menyisakan kenangan yang tak terlupakan bagai bintang yang bersinar terang di langit malam yang gelap. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya membawa tabir surya dan perlengkapan menyelam, serta pilihlah waktu kunjungan saat cuaca cerah agar perjalanan laut selamat dan pemandangan tampak bagai lukisan yang sempurna tanpa noda.
6. Laporan Perjalanan ke Air Terjun Blang Kolam, Aceh Utara
Judul: Di Balik Tirai Air Blang Kolam
Pada bulan Oktober yang sejuk, aku bersama sepupu-sepupu berangkat menuju Air Terjun Blang Kolam yang tersembunyi di daerah Aceh Utara. Tujuan perjalanan ini adalah untuk melepas rindu pada alam yang sejuk dan menyegarkan, serta melihat sendiri keindahan air terjun yang konon airnya bagai embun yang turun dari langit ke bumi.
Kami menaiki kendaraan sepeda motor yang melaju membelah udara segar bagai burung yang terbang rendah menyusuri lembah. Perjalanan memakan waktu sekitar tiga jam dari kota Lhokseumawe, dengan biaya bahan bakar dan tiket masuk sebesar Rp25.000 per orang. Jalan berkelok dan menanjak bagai tangga yang naik terus menyapa langit, namun pemandangan hijau di sepanjang jalan bagai obat lelah yang seketika menghapus rasa letih.
Semakin dekat ke lokasi, suara gemuruh air terdengar bagai irama musik alam yang semakin lama semakin merdu memanggil-manggil pendengar. Kabut tipis sesekali menyelimuti jalan bagai kain tipis yang menutupi keindahan yang akan tampak sesaat lagi di depan mata.
Saat tirai air itu tampak, air terjun itu jatuh dari ketinggian bagai kain sutra putih yang terhampar luas dari langit ke bumi. Butiran air yang memercik jatuh ke kolam di bawahnya bagai butiran berlian yang bertebaran indah memantulkan cahaya matahari yang menembus celah pepohonan rimbun.
Kami membasuh wajah dan tangan dengan air yang dinginnya bagai sentuhan es yang baru saja turun dari puncak gunung. Di sana kami duduk menikmati suasana yang tenang bagai hati yang damai, mendengarkan suara air yang berbicara bagai orang bijak yang mengajarkan ketabahan dan ketenangan jiwa.
Menjelang sore, kami berpamitan membawa kesegaran yang meresap hingga ke dalam tulang bagai air yang meresap ke dalam tanah menyuburkan kehidupan. Meski jalan pulang terasa menanjak dan melelahkan, namun hati terasa ringan dan bahagia bagai orang yang baru saja pulang dari pesta pernikahan yang megah.
Air Terjun Blang Kolam adalah anugerah yang menyegarkan jiwa dan raga bagai hujan yang turun di musim kemarau. Jika berkunjung ke sini, sebaiknya mengenakan alas kaki yang tidak licin karena jalan di sekitar air terjun basah dan licin bagai lantai yang dilapisi lumut halus, serta bawalah pakaian ganti agar tetap nyaman sepanjang perjalanan pulang.
7. Laporan Perjalanan ke Masjid Tuha Indrapuri, Aceh Besar
Judul: Seni dan Iman Menyatu di Tuha Indrapuri
Pada awal bulan November, aku dan guru beserta teman-teman sekolah berkunjung ke Masjid Tuha Indrapuri yang berdiri megah di tanah Aceh Besar. Perjalanan ini kami lakukan sebagai bagian dari kegiatan belajar di luar kelas, untuk mengenal warisan budaya dan sejarah luhur nenek moyang yang namanya terukir bagai emas di lembaran sejarah.
Kami menaiki bus sekolah yang melaju tenang bagai sungai yang mengalir perlahan menuju muara. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam dari Banda Aceh tanpa biaya tiket masuk. Sepanjang jalan, pemandangan perkampungan yang asri dan damai bagai lukisan kehidupan yang sederhana namun penuh makna terus menyapa pandangan mata kami.
Sesampainya di sana, masjid tua itu tampak berdiri bagai kakek tua yang bijaksana memandang ke arah cakrawala. Dinding-dindingnya yang penuh dengan ukiran indah bagai lembaran kitab yang berbicara tentang kehalusan budi dan ketinggian seni yang dimiliki masyarakat Aceh sejak ratusan tahun silam.
Kami melangkah masuk dengan penuh rasa hormat bagai memasuki istana tempat bertahta kebenaran. Setiap tiang dan setiap lengkungan bagai saksi bisu ketekunan dan keahlian tangan-tangan leluhur yang bekerja dengan penuh cinta dan kesabaran bagai orang yang membangun rumah bagi kasih sayang abadi.
Di dalam masjid yang sejuk dan tenang itu, kami memperhatikan ukiran-ukiran yang penuh makna bagai puisi yang terukir di atas batu tahan lama. Kami mendengarkan penjelasan pemandu wisata yang menceritakan masa lalu masjid ini dengan penuh kekaguman bagai mendengarkan kisah-kisah indah yang tak lekang oleh waktu.
Sebelum pulang, kami berdoa sejenak memohon berkah dan keselamatan bagi negeri ini bagai air yang mengalir terus tanpa henti. Langkah meninggalkan masjid itu terasa penuh makna bagai orang yang baru saja mendapat petunjuk di tengah jalan yang gelap gulita.
Masjid Tuha Indrapuri menyimpan keindahan dan makna yang mendalam bagai sumur ilmu yang tak pernah kering airnya. Jika berkunjung ke sini, sebaiknya menjaga kesopanan dan ketenangan agar tidak mengganggu suasana ibadah, serta datanglah pada siang hari agar ukiran-ukiran indah pada dinding masjid tampak jelas bagai bintang yang terang benderang di bawah sinar matahari.
8. Laporan Perjalanan ke Pantai Ulee Lheue, Banda Aceh
Judul: Kenangan Abadi di Tepian Ulee Lheue
Pada tanggal dua puluh enam bulan Desember, aku dan keluargaku berkunjung ke Pantai Ulee Lheue, tempat yang sekaligus menjadi monumen peringatan peristiwa besar yang melanda tanah Aceh bertahun silam. Perjalanan ini kami lakukan untuk mengenang jasa dan ketabahan masyarakat sekaligus mendoakan mereka yang telah pergi, menjadikan kunjungan ini bagai jembatan penghubung antara masa lalu dan masa kini.
Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan roda dua yang melaju santai bagai riak air yang menyapu tepian pantai. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar dua puluh menit dari pusat kota Banda Aceh tanpa biaya tiket masuk. Angin laut berhembus segar menyapa wajah bagai sapuan lembut yang mengingatkan kami pada betapa dahsyatnya kekuasaan Tuhan di atas segala kuasa.
Sesampainya di tepian pantai, ombak yang datang dan pergi bagai napas lautan yang naik turun tak henti-henti. Langit yang luas dan biru membentang bagai selimut kasih yang menaungi bumi, menyatukan pandangan ke arah cakrawala tempat air dan langit bertemu bagai dua jiwa yang tak terpisahkan oleh jarak.
Kami berjalan menyusuri pantai sambil menatap ke arah samudera yang luasnya tak terukur bagai luasnya hati masyarakat Aceh yang tetap tabah meski pernah dihantam badai kehidupan. Di sini kami juga melihat bangunan-bangunan yang telah dibangun kembali dengan kokoh bagai harapan yang bangkit kembali setelah sempat jatuh terpuruk ke tanah.
Kami duduk sejenak di tepi pantai sambil merenung, menyadari betapa rapuhnya kehidupan namun betapa kuatnya ikatan kasih sayang sesama manusia bagai akar pohon yang saling bertaut menahan tanah agar tak runtuh terbawa arus sungai. Sambil menikmati semilir angin, kami berjanji dalam hati untuk senantiasa menjaga persatuan bagai menjaga bola mata agar tetap utuh dan bersinar terang.
Saat senja mulai turun, matahari terbenam perlahan bagai lilin yang habis menyala di ujung malam. Kami pulang dengan perasaan haru dan syukur yang bercampur menjadi satu bagai air dan susu yang tak dapat dipisahkan oleh tangan manusia manapun.
Pantai Ulee Lheue bukan sekadar tempat indah memandang laut, melainkan pengingat abadi betapa tabahnya hati orang Aceh. Jika berkunjung ke sini, sebaiknya menjaga kesopanan dan ketenangan, serta jangan lupa membawa air minum karena angin laut yang kering dapat membuat kerongkongan terasa kering bagai tanah yang retak tak disiram hujan.
9. Laporan Perjalanan ke Gua Keramat, Aceh Tamiang
Judul: Di Dalam Pelukan Gua Penuh Rahasia
Pada bulan Desember yang sejuk, aku bersama kakek dan adik berangkat menuju Gua Keramat yang tersembunyi di perbukitan Aceh Tamiang. Perjalanan ini kami lakukan atas ajakan kakek yang ingin berziarah sekaligus menceritakan kisah-kisah lama yang tersimpan di dalam gua itu bagai harta karun yang terpendam di dalam peti tua.
Kami menempuh perjalanan menggunakan mobil yang melaju perlahan menembus jalan berbukit bagai seekor kura-kura yang terus berjalan tekun menuju tujuannya. Perjalanan memakan waktu sekitar empat jam dengan biaya bahan bakar dan sumbangan sukarela di lokasi sebesar Rp20.000. Di sepanjang jalan, hutan belantara yang rimbun bagai dinding hijau yang tak bertepi terus mengiringi langkah kami.
Sesampainya di kaki bukit, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menanjak bagai memanjat tangga menuju kedamaian yang lebih tinggi. Udara semakin sejuk dan segar bagai napas baru yang menyegarkan paru-paru, membuat rasa lelah perlahan sirna terbawa angin yang berhembus lembut menyapa pepohonan.
Saat mulut gua tampak di hadapan mata, gua itu tampak bagai rahang raksasa yang terbuka menyambut tamu dengan penuh keramahan. Di dalam gua yang sejuk dan agak remang itu, tetesan air jatuh perlahan dari langit-langit gua bagai butiran intan yang jatuh ke lantai batu dengan irama yang teratur dan menenangkan hati.
Kami berdoa dan merenung sejenak di dalam gua yang tenang itu, merasakan kedamaian yang menyelimuti hati bagai selembar kain sutra yang lembut menyelimuti segenap raga. Kakek bercerita tentang kebaikan dan ketakwaan orang-orang terdahulu yang pernah berziarah ke tempat ini bagai menanam benih-benih kebaikan di dalam ladas hati kami yang masih muda.
Setelah selesai berziarah, kami turun kembali dengan hati yang tenang dan pikiran yang jernih bagai air mata yang jernih mengalir membasahi pipi yang bahagia. Meski kaki terasa pegal, namun jiwa terasa ringan dan bersih bagai pakaian yang baru saja dicuci bersih dari debu dan kotoran.
Gua Keramat menyisakan kedamaian yang mendalam bagai sumur tua yang airnya jernih dan menyejukkan jiwa. Jika berkunjung ke sini, sebaiknya membawa senter atau lampu penerangan karena di dalam gua agak gelap, serta pakailah alas kaki yang kuat agar terlindung dari batu-batu yang tajam bagai paku yang tersembunyi di tanah kering.
10. Laporan Perjalanan ke Kota Tua Banda Aceh
Judul: Menelusuri Jejak Sejarah di Kota Banda Aceh
Pada hari Pahlawan tanggal sepuluh bulan November, aku dan teman-teman mengelilingi kota tua Banda Aceh untuk menelusuri jejak-jejak sejarah yang masih tertinggal bagai tinta yang tak pudar di atas kertas tua yang berharga. Perjalanan ini kami lakukan untuk mengenal lebih dekat perjuangan para pahlawan yang telah berkorban jiwa dan raga demi kemerdekaan tanah air tercinta.
Kami berkeliling menggunakan sepeda yang kayuh bersama bagai langkah seribu yang berjalan beriringan menuju kebenaran. Perjalanan seharian itu menempuh beberapa lokasi bersejarah dengan biaya sewa sepeda dan makan sebesar Rp50.000 per orang. Sepanjang jalan, bangunan-bangunan tua yang masih berdiri kokoh bagai saksi bisu kejayaan masa lalu terus menyapa pandangan kami dengan penuh keagungan.
Kami mengunjungi kompleks makam raja-raja dan pahlawan yang terawat baik bagai taman bunga yang indah dan harum. Di sana, setiap batu nisan yang berdiri tegak bagai prajurit yang tetap menjaga kehormatan tuannya, menceritakan kebesaran jiwa mereka yang telah gugur di medan perang demi nama bangsa dan negara.
Selanjutnya kami mengunjungi Museum Aceh yang menyimpan ribuan benda bersejarah bagai lembaran buku yang terbuka lebar menceritakan masa lampau. Di dalamnya, senjata kuno, pakaian adat, dan naskah-naskah lama tersusun rapi bagai permata yang tersimpan di dalam peti emas, mengingatkan kami pada kebesaran peradaban Aceh yang pernah bersinar terang bagai matahari di siang hari.
Kami juga berhenti di Lapangan Baiturrahman yang menjadi saksi bisu perjuangan rakyat yang tak pernah menyerah bagai air yang terus mengalir meski dihalangi batu yang keras dan besar. Di setiap sudut kota tua ini, seakan-akan terdengar suara luhur para pahlawan yang berpesan agar kami senantiasa bersatu dan menjaga warisan luhur mereka bagai menjaga nyawa sendiri dari mara bahaya.
Saat matahari mulai terbenam, kami pulang membawa semangat baru yang membara di dalam dada bagai obor yang menyala terang menerangi jalan gelap. Langkah kaki terasa mantap dan kuat bagai pohon beringin yang berakar teguh di tanah subur, berjanji untuk meneruskan perjuangan para pendahulu dengan cara yang penuh hikmat dan kasih sayang.
Kota tua Banda Aceh adalah kitab terbuka yang mengajarkan kami tentang keberanian dan kesetiaan. Jika kamu berkeliling ke tempat-tempat bersejarah di kota ini, sebaiknya membawa buku catatan dan pulpen untuk mencatat hal-hal penting, serta bawalah air minum dan topi agar perjalanan tetap nyaman bagai berjalan di bawah naungan pohon rindang yang sejuk sepanjang jalan.
Demikian 10 contoh laporan perjalanan menarik ke tempat wisata atau ke tempat bersejarah di Aceh dalam bentuk narasi atau karangan menggunakan kalimat efektif dan majas metafora untuk kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 4 halaman 146 147 soal Menulis Bab 6 Satu Titik dalam buku paket Kurikulum Merdeka terbitan Kemendibudristek edisi revisi 2023 .
( Tribunpekanbaru.com / Pitos Punjadi )