TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Kasus pengeroyokan yang dialami seorang aparatur sipil negara (ASN) berinisial IGN CEP (26) di dekat minimarket di Banjar Kukuh, Desa Marga, Tabanan, Bali sampai saat ini belum terungkap.
Korban yang melaporkan kejadian itu ke Polres Tabanan pada 15 Juni 2026 lalu belum menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Dalam laporannya ke Satreskrim Polres Tabanan, korban mengaku dianiaya dua orang sekitar pukul 01.40 Wita.
Ia mengalami luka memar di sekujur tubuh dan patah tulang hidung hingga menjalani operasi di rumah sakit.
Baca juga: Kades Ungkap Awal Pengeroyokan KD di Bali, Dipergoki Mencuri Ayam lalu Ancam Pemilik dengan Sajam
IGN CEP saat dihubungi Rabu (19/8) menceritakan, sebelum kejadian sedang dalam perjalanan pulang ke Baturiti mengendarai mobil sekitar pukul 01.00 Wita.
"Saya pulang dari bertugas acara gong kebyar duta Tabanan di Art Center saat itu. Kejadiannya saat saya pulang," kata pegawai yang berdinas di Pemkab Tabanan ini.
Saat melintasi depan Pura Puseh Banjar Kukuh, korban melihat sepeda motor dikendarai pelaku berjalan pelan di tengah jalan.
IGN CEP pun membunyikan klakson agar bisa mendahului. Saat diklakson, mereka ke pinggir hingga dirinya merasa tidak terjadi apa-apa hingga mendahului dan fokus menyetir.
"Namun saat mendekati TKP, saya melihat dari spion mobil melihat ada pengendara ngebut, tetapi saya mengira sedang terburu-buru. Ternyata, mereka mepet mobil saya, kemudian memukul kaca," ungkapnya.
Baca juga: Usai Bantu Anak KD, Relawan Salurkan Donasi 26,3 Juta untuk Anak-anak Tersangka Pengeroyokan
Saat itu, korban akhirnya berhenti di pinggir jalan. Begitu membuka pintu dan belum sempat turun, ia langsung diserang oleh kedua pelaku.
Kepala belakang dan hidungnya dipukul hingga berdarah.
"Saya juga diseret keluar mobil hingga kaki terluka kena aspal dan pakaian robek. Sewaktu diseret itu, saya juga dipukul dan ditendang,"bebernya.
Dalam kondisi sempoyongan akibat terbentur, korban yang dipenuhi luka dan badan memar berusaha bangun.
Namun, pelaku kembali melayangkan pukulan hingga tulang hidungnya patah.
"Setelah berhenti mengeroyok, saya ke pinggir dan duduk,"ucapnya.
Salah seorang pelaku bertanya dengan nada emosi. "Engken maksud ci ngebel (apa maksudmu bunyikan klakson)? dan dijawab oleh korban hanya ingin mendahului karena mau pulang.
"Mereka mengaku tidak terima dan tersinggung ketika diklakson dan sempat kembali menantang duel. Saya akhirnya bilang bekerja di kantor bupati," jelas korban.
Setelah itu pelaku pergi, korban yang dalam kondisi terluka dan berdarah berusaha mengemudikan mobil menuju Polres Tabanan.
"Sampai Polres, saya disuruh untuk berobat dulu ke rumah sakit. Kemarin baru sekali operasi dan rencana operasi untuk kedua kali karena hidung saya masih terasa mampet karena tulangnya patah,"bebernya.
Terkait dengan perkembangan kasusnya di Polres Tabanan, korban mengaku sudah beberapa kali dipanggil untuk dimintai keterangan oleh polisi, tetapi pelaku tak kunjung ditangkap. "Saya berharap polisi segera menangkap pelaku," harapnya.
Masih Proses Penyelidikan
Sementara Kasi Humas Polres Tabanan Iptu Ni Luh Putu Wiwik Endrayani saat dikonfirmasi terpisah mengakui kasus tersebut masih lidik. "Izin mohon waktu," ujarnya singkat.
Disisi lain, Kasat Reskrim Polres Tabanan AKP Made Teddy Satria Permana juga mengakui kasus sudah diatensi. Bahkan dirinya mengaku masih melakukan pendalaman dan mencari terduga pelaku.
"Masih dalam proses penyelidikan, kami masih mengumpulkan alat bukti untuk bisa mengungkap pelaku," imbuhnya. (*)