TRIBUNBATAM.id, LINGGA - Pulau Buyu, Desa Rejai, Kecamatan Bakung Serumpun, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dikenal sebagai salah satu wilayah yang memiliki hasil laut potensial.
Salahsatu komoditas yang paling banyak diburu nelayan setempat adalah ikan ekor kuning, yang sebagian hasil tangkapannya dipasarkan hingga ke luar negeri.
Aktivitas pengolahan ikan menjadi bagian dari keseharian sejumlah masyarakat di Pulau Buyu.
Timah, seorang pengolah ikan setempat mengatakan, dirinya bersama warga lainnya mengolah ikan yang didapatkan nelayan setelah melaut di perairan Bakung Serumpun dan sejumlah pulau di sekitarnya.
Menurut Timah, ikan ekor kuning sudah lama menjadi tangkapan utama nelayan di wilayah tersebut.
Baik nelayan berusia muda maupun yang telah lama melaut, sebagian besar menjadikan ikan tersebut sebagai target utama saat mencari hasil laut.
“Dari tahun ke tahun, mayoritas tangkapan nelayan kami, baik yang tua maupun muda, paling utama mencari ikan ekor kuning. Bahkan pada 2001 lalu, sempat ada dua musim ikan ekor kuning yang sangat melimpah dan saat itu ditangkap menggunakan pancing,” kata Timah baru-baru ini.
Menurutnya, ikan ekor kuning yang diperoleh nelayan setempat memiliki kualitas yang dinilai baik.
Dalam aktivitas melaut, sebagian nelayan menggunakan perahu pompong dengan jumlah awak sekitar tujuh orang dalam satu kapal.
Pola melaut nelayan juga berbeda-beda.
Sebagian memilih berangkat pada pagi hari dan kembali pada sore hari.
Namun, nelayan dengan kapal yang lebih besar dapat berada di laut lebih lama untuk mencari hasil tangkapan.
“Umumnya nelayan di sini berangkat pagi dan pulang sore menggunakan pompong laut. Namun ada juga yang melaut hingga satu atau dua minggu, tergantung kapalnya,” terangnya.
Setelah didaratkan, ikan kemudian melalui proses penyortiran berdasarkan kualitas dan standar yang dibutuhkan pasar.
Ikan ekor kuning yang memenuhi persyaratan ekspor selanjutnya diolah untuk dikirim ke pasar luar negeri.
Sementara, ikan yang belum memenuhi standar ekspor tetap memiliki nilai ekonomi.
Hasil tangkapan tersebut biasanya dijual untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat melalui tempat-tempat penampungan ikan di sekitar wilayah tersebut.
Timah menyebut, ikan yang dipasarkan untuk kebutuhan ekspor umumnya dikirim dalam bentuk filet.
Pengolahan hingga menjadi produk filet dilakukan oleh pihak penampung, karena masyarakat setempat belum memiliki fasilitas produksi untuk mengolahnya secara langsung.
“Penampung mengekspor ikan ekor kuning dalam bentuk filet. Sebab di daerah kami belum ada yang memproduksinya secara langsung. Setiap hari kami juga mengolah berbagai jenis ikan lain yang didaratkan di tempat penampungan,” tambahnya.
Besarnya potensi perikanan tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan, sehingga memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.
Timah berharap hasil laut dari wilayah Bakung Serumpun tidak hanya menjadi komoditas perdagangan.
Tetapi juga mampu menjadi sumber penghasilan utama dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. (TribunBatam.id/Febriyuanda)