Bangka Belitung Menuju Puncak Kemarau, Masyarakat Diimbau Gunakan Air Secara Bijak
suhendri August 20, 2026 11:50 AM

PANGKALPINANG, BABEL NEWS - Provinsi Kepulauan Bangka Belitung belum mengalami puncak musim kemarau 2026.

Negeri Serumpun Sebalai saat ini masih dalam perjalanan menuju puncak kemarau yang diprakirakan terjadi pada September mendatang.

"Untuk prediksi puncak musim kemarau di Bangka Belitung diprakirakan terjadi pada bulan September 2026. Jadi, saat ini masih menuju puncak musim kemarau," kata Prakirawan Iklim BMKG Bangka Belitung Lulut Ajeng kepada Bangka Pos, Rabu (19/8/2026).

Lulut menyebut kondisi tersebut juga terlihat dari prediksi curah hujan dasarian. Sebagian besar wilayah Pulau Bangka diprakirakan masih berada pada kategori curah hujan rendah, yakni sekitar 0–20 milimeter (mm) per dasarian.

Prakirawan Cuaca BMKG Bangka Belitung, Bimo Satria Nugroho, menyebutkan, peluang hujan dalam periode menuju puncak kemarau ini juga cenderung kecil.

Kondisi atmosfer yang relatif kering disertai pola angin yang cenderung divergen atau menyebar membuat pertumbuhan awan hujan menjadi lebih sulit.

"Potensi hujan turun cukup kecil. Kelembapan udara yang relatif kering ditambah pola angin yang cenderung divergen membuat pertumbuhan awan hujan sulit terbentuk sehingga potensi terjadinya hujan juga kecil," kata Bimo kepada Bangka Pos, Rabu (19/8/2026).

Ia menambahkan, kalaupun hujan turun lebih banyak berada di wilayah bagian barat Pulau Bangka.

Hujan yang terjadi pun diprakirakan berintensitas ringan, berdurasi singkat, serta tidak merata di seluruh wilayah.

"Kemungkinan hujan yang terjadi lebih ke arah barat dari Pulau Bangka, itu pun dengan intensitas yang sangat ringan, durasi yang singkat, dan tidak merata," ujar Bimo.

BMKG mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap hujan sesaat sebagai tanda bahwa musim kemarau telah berakhir.

Sebab, secara klimatologis, Bangka Belitung masih menuju puncak musim kemarau yang diprakirakan berlangsung pada September mendatang.

Intensitas hujan yang rendah tersebut menunjukkan periode kering masih berpotensi berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.

Dengan demikian, kondisi lingkungan akan makin kering sehingga kebutuhan masyarakat terhadap ketersediaan air perlu menjadi perhatian.

Menghadapi periode kering tersebut, BMKG mengimbau agar masyarakat mulai mengantisipasi keterbatasan air, terutama untuk kebutuhan sehari-hari.

Masyarakat diminta menggunakan air secara bijak dan memprioritaskannya untuk kebutuhan yang benar-benar penting.

Masyarakat juga diminta menyiapkan cadangan air sebagai langkah antisipasi apabila kondisi kering berlangsung lebih lama.

Selain persoalan ketersediaan air, BMKG turut mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama periode kemarau.

Masyarakat diminta menghindari aktivitas pembakaran sampah maupun pembukaan lahan dengan cara membakar, karena kondisi lingkungan yang kering dapat membuat api lebih mudah menyebar. (t2)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.