Teror Misterius di Gedung MI Yappi Natah Gunungkidul, Pelaku Siramkan Solar dan Bakar Pintu
Hari Susmayanti August 20, 2026 12:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Gedung MI YAPPI Natah yang berlokasi di Jalan Ngawen–Nglipar, Kapanewon Nglipar, Kabupaten Gunungkidul dibakar oleh orang tidak dikenal.

Pelaku menyiramkan bahan bakar minyak jenis solar ke gedung sekolah dan membakarnya.

Beruntung, kobaran api tidak merembet ke bangunan lain dan hanya membakar satu pintu saja.

Kasus pembakaran ini pertama kali diketahui oleh penjaga sekolah yang masuk pada Rabu (19/8/2026) sekitar pukul 06.30 WIB.

"Di dapur itu yang jelas satu pintu kami terbakar, di atas ruang kantor blandar kurang lebih 1 meteran terbakar, beberapa Reng terbakar kemudian jatuh menimpa di asbes," kata Kepala Sekolah MI YAPPI Natah, Dedy Irawan, saat ditemui wartawan di lokasi, Rabu seperti yang dikutip dari Kompas.com.

Kasus teror yang menimpa MI YAPPI Natah ini sudah ditangani oleh jajaran Satreskrim Polres Gunungkidul.

Polisi sudah melakukan olah tempat kejadian perkara serta memasang garis polisi di lokasi kejadian.

Garis polisi masih terpasang di sejumlah bagian gedung sekolah.

Ruangan yang terdampak juga dibiarkan kosong.

Sejumlah bekas terbakar terlihat di bagian gedung, sementara beberapa jerami masih berserakan di sekitar lokasi.

Baca juga: Karnaval Budaya dan Pembangunan Klaten 2026 Meriah, Bupati Harap UMKM Makin Bergeliat

Untuk sementara waktu, kegiatan belajar dan mengajar di sekolah tersebut dipindahkan ke tiga lokasi berbeda tak jauh dari lokasi sekolah.

Total ada 109 siswa yang menempati lokasi sementara.

Kepala Sekolah MI YAPPI Natah, Dedy Irawan, mengatakan, pihak sekolah mengalihkan kegiatan belajar mengajar 109 siswa ke tiga lokasi setelah berkoordinasi dengan komite sekolah, kalurahan, dan Kementerian Agama.

"Kami tetap memberikan pelayanan pendidikan proses belajar mengajar kita mengambil di tiga tempat," kata Dedy ditemui di lokasi. 

Tiga lokasi yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar sementara tersebut yakni Masjid Arohma, Mushala Al Azmi, dan Balai Padukuhan Blembeman 1.

Masing-masing lokasi digunakan oleh siswa dari dua kelas. 

"Untuk hari pertama 1 titik lokasi untuk 2 kelas," kata dia.

Dedy mengatakan, pihaknya bersama Kalurahan, Kementerian Agama, dan Kapanewon juga membahas rencana ke depan apabila proses penyelidikan berlangsung cukup lama.

Menurut dia, perlu disiapkan lokasi pengganti yang lebih layak agar kegiatan belajar mengajar siswa tetap berjalan dengan baik.

"Ini kita lakukan untuk kedepannya," ucap Dedy.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.