BMKG Ingatkan Potensi Lonjakan Titik Panas di Bangka Belitung, 3 Kabupaten Paling Tinggi
suhendri August 20, 2026 11:50 AM

PANGKALPINANG, BABEL NEWS - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat tiga daerah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung selama musim kemarau tahun ini memiliki potensi kemunculan titik panas (hotspot) paling tinggi dibandingkan daerah lainnya. Ketiga daerah tersebut adalah Kabupaten Bangka Selatan, Bangka Barat, dan Bangka Tengah.

“Titik panas sebagai salah satu indikator anomali suhu permukaan lebih banyak terpantau di sejumlah wilayah Pulau Bangka. Bangka Selatan, Bangka Barat, Bangka Tengah, itu yang paling tinggi," ujar Prakirawan Iklim BMKG Bangka Belitung Lulut Ajeng kepada Bangka Pos, Rabu (19/8/2026).

Lulut menjelaskan, kemunculan titik panas tidak dapat dilepaskan dari kondisi lingkungan dan cuaca yang terjadi selama musim kemarau.

Titik panas lebih mudah muncul pada wilayah dengan kondisi lahan kering, termasuk lahan terbuka maupun kawasan bekas tambang.

Selain karakteristik lahan, kata Lulut, kondisi atmosfer seperti suhu udara dan kelembapan turut memengaruhi kemunculan titik panas.

Aktivitas manusia juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan, terutama kegiatan yang berkaitan dengan pembukaan lahan menggunakan metode pembakaran.

"Luas wilayah atau lahan, jenis lahan kering, bekas tambang dan tanah terbuka, faktor cuaca seperti suhu udara dan kelembapan udara, serta aktivitas manusia juga bisa memengaruhi," tutur Lulut.

Dia menambahkan, kondisi tersebut menjadi perhatian karena Bangka Belitung saat ini masih menuju puncak musim kemarau yang diprakirakan terjadi pada September 2026.

Ketika curah hujan rendah dan kondisi lahan makin kering, api berpotensi lebih mudah muncul dan menyebar apabila terjadi pembakaran yang tidak terkendali.

Meski demikian, Lulut menegaskan bahwa kemunculan titik panas tidak serta-merta menunjukkan telah terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Titik panas lebih tepat dipahami sebagai indikator adanya anomali suhu permukaan yang dapat digunakan untuk membantu memantau potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Titik panas bukan berarti pasti ada kebakaran hutan dan lahan, hanya sebagai indikator untuk potensi karhutla atau kemudahan terbakar," ujar Lulut.

Karena itu, masyarakat diminta tidak langsung menyimpulkan bahwa setiap titik panas merupakan peristiwa kebakaran.

Namun, kemunculannya tetap perlu menjadi perhatian, terlebih ketika kondisi cuaca dan lingkungan sedang kering.

BMKG juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau, terutama ketika melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api.

Masyarakat diminta tidak membakar sampah sembarangan dan menghindari pembukaan lahan dengan cara membakar.

"Kondisi yang kering dapat membuat api lebih mudah menyebar," ucap Lulut.

Selain meningkatkan kewaspadaan di lapangan, masyarakat juga diminta aktif mengikuti informasi terbaru mengenai kondisi cuaca dan iklim dari BMKG.

Informasi tersebut dapat dipantau melalui media sosial resmi BMKG Bangka Belitung @bmkg_babel, @infobmkgpkp, serta laman Papan Iklim Babel.

Pemantauan informasi cuaca dan iklim secara berkala dinilai penting karena kondisi atmosfer dan potensi hujan dapat berubah dari waktu ke waktu, terutama selama periode menuju puncak musim kemarau. (t2)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.