10 Tradisi Maulid Unik di Berbagai Daerah: Jakarta, Bandung, Surabaya dan Seluruh Nusantara
Nanik Ratnawati August 20, 2026 01:30 PM

Liputan6.com, Jakarta - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia tidak hanya diwujudkan melalui pengajian dan pembacaan selawat. Di berbagai daerah, masyarakat memiliki tradisi khas yang diwariskan secara turun-temurun untuk memeriahkan bulan Rabiul Awal.

Keragaman tersebut tidak terlepas dari proses panjang penyebaran Islam di Nusantara. Para ulama dan pendakwah pada masa lalu kerap menggunakan pendekatan budaya sehingga ajaran Islam dapat diterima dan berinteraksi dengan tradisi masyarakat setempat.

Berbagai wilayah, mulai dari wilayah metropolitan seperti Jakarta, kota Bandung, hingga metropolis Surabaya, memiliki kekayaan tradisi lokal yang sangat unik sekaligus ikonik. Semuanya merayakan hari kelahiran beliau.

Keberagaman tradisi tersebut tidak hanya sekadar menjadi wujud syukur keagamaan murni atas kelahiran sang nabi penutup, namun juga mengukuhkan identitas sosial budaya. Hal ini sukses merekatkan ukhuwah persaudaraan.

Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah 10 tradisi Maulid Nabi Unik di Jakarta, Bandung dan Berbagai Wilayah Lain Nusantara.

1. Pembacaan Kitab Al-Barzanji Bergilir di Jakarta

Masyarakat Betawi memiliki tradisi keagamaan yang cukup kuat dalam memperingati Maulid Nabi. Salah satu bentuknya adalah pembacaan Kitab Al-Barzanji, yaitu karya yang berisi kisah kehidupan, keteladanan, serta pujian kepada Nabi Muhammad SAW.

Pembacaan Al-Barzanji biasanya dilakukan secara bersama-sama dalam majelis atau lingkungan masyarakat. Di sejumlah tempat, kegiatan tersebut dapat dilakukan secara bergiliran dari satu kelompok atau lingkungan ke lingkungan lainnya.

Syair-syair dalam Al-Barzanji dibacakan dengan irama tertentu sehingga suasana peringatan Maulid terasa lebih khidmat. Pembacaan biasanya disertai selawat dan doa bersama.

Bagi masyarakat, kegiatan tersebut bukan sekadar pembacaan teks sejarah Nabi, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenalkan perjalanan hidup Rasulullah SAW kepada generasi muda.

Dalam perkembangannya, perayaan Maulid di lingkungan Betawi juga dapat disertai arak-arakan, jamuan makanan, serta pembagian makanan kepada warga. Unsur berbagi ini menjadi bagian penting karena perayaan keagamaan juga menjadi momentum mempererat hubungan sosial.

2. Ngalungsur Pusaka di Jawa Barat

Di sejumlah daerah Jawa Barat dikenal tradisi ngalungsur pusaka, yakni prosesi merawat atau membersihkan benda-benda pusaka yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat.

Tradisi ini dapat ditemukan dalam rangkaian kegiatan budaya dan keagamaan di sejumlah wilayah, termasuk kawasan Garut dan daerah sekitarnya. Benda yang dibersihkan biasanya berkaitan dengan sejarah tokoh, kerajaan, atau penyebaran Islam di daerah tersebut.

Prosesi tersebut bukan semata-mata dimaknai sebagai aktivitas membersihkan benda. Di dalamnya terdapat penghormatan terhadap sejarah dan para tokoh terdahulu yang dianggap memiliki peran dalam perkembangan kehidupan masyarakat dan penyebaran Islam.

Karena itu, ngalungsur pusaka menjadi contoh bagaimana peringatan Maulid dapat beririsan dengan tradisi sejarah dan budaya lokal.

Meski demikian, pemaknaan terhadap benda pusaka perlu ditempatkan dalam kerangka budaya dan sejarah, bukan sebagai keyakinan bahwa benda tersebut mempunyai kekuatan gaib yang menentukan kehidupan manusia.

3. Gantung-gantungan di Surabaya

Tradisi yang cukup menarik terdapat di kawasan Putat Jaya, Surabaya, berupa kegiatan yang dikenal sebagai gantung-gantungan.

Dalam tradisi tersebut, masyarakat menyiapkan berbagai macam makanan ringan, buah-buahan, hingga kebutuhan sehari-hari. Barang-barang tersebut kemudian digantung atau ditempatkan di sekitar lokasi kegiatan Maulid.

Setelah acara berlangsung, makanan dan barang yang telah disiapkan kemudian dibagikan atau menjadi bagian dari kemeriahan yang dinikmati masyarakat.

Di balik bentuknya yang sederhana dan meriah, tradisi tersebut mengandung semangat berbagi dan bersedekah. Warga tidak hanya berkumpul untuk mendengarkan pengajian dan membaca selawat, tetapi juga membawa sesuatu yang dapat dinikmati bersama.

Tradisi semacam ini memperlihatkan bahwa Maulid Nabi di tingkat masyarakat bukan hanya kegiatan ritual, melainkan juga menjadi ruang interaksi sosial dan gotong royong.

4. Grebeg Maulud di Yogyakarta dan Surakarta

Grebeg Maulud merupakan salah satu tradisi Maulid yang paling dikenal di Pulau Jawa. Tradisi ini berkaitan erat dengan rangkaian Sekaten yang diselenggarakan di lingkungan keraton, baik di Yogyakarta maupun Surakarta.

Puncak acara ditandai dengan keluarnya gunungan, yakni susunan berbagai hasil bumi dan makanan yang dibuat menyerupai gunung.

Gunungan kemudian diarak dari lingkungan keraton menuju masjid atau tempat yang telah ditentukan. Setelah prosesi selesai, masyarakat memperebutkan bagian dari gunungan tersebut.

Bagi masyarakat, gunungan menjadi simbol kemakmuran, sedekah, dan keberkahan. Hasil bumi yang dikumpulkan menjadi satu juga menggambarkan hubungan antara kehidupan masyarakat agraris, keraton, dan tradisi keagamaan.

Di Yogyakarta, rangkaian Sekaten dan Grebeg Maulud juga memiliki sejarah panjang sebagai salah satu metode dakwah Islam yang berkembang di lingkungan kerajaan Jawa.

Karena melibatkan ribuan masyarakat, Grebeg Maulud akhirnya tidak hanya menjadi peristiwa keagamaan, tetapi juga menjadi salah satu identitas budaya Yogyakarta dan Surakarta.

5. Panjang Jimat di Cirebon

Cirebon mempunyai tradisi Maulid yang sangat erat dengan sejarah Kesultanan Cirebon, salah satunya Panjang Jimat.

Tradisi ini terutama dikenal melalui rangkaian prosesi di lingkungan keraton. Istilah "Panjang Jimat" merujuk pada perlengkapan atau benda yang digunakan dalam prosesi tertentu dan memiliki nilai simbolis dalam tradisi masyarakat Cirebon.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat dapat menyaksikan arak-arakan berbagai benda pusaka dan perlengkapan keraton. Salah satu unsur yang terkenal adalah piring atau wadah panjang yang digunakan dalam rangkaian prosesi.

Makanan juga memiliki posisi penting dalam tradisi tersebut. Hidangan yang disiapkan bukan sekadar jamuan, tetapi menjadi bagian dari simbol dan tata upacara yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Panjang Jimat menjadi gambaran bagaimana sejarah Kesultanan Cirebon, budaya Jawa-Sunda, dan tradisi Islam bertemu dalam sebuah perayaan Maulid.

6. Panjang Mulud di Banten

Di Banten, masyarakat mengenal tradisi Panjang Mulud. Kata "mulud" sendiri berasal dari istilah yang lazim digunakan masyarakat untuk menyebut bulan atau peringatan Maulid.

Dalam tradisi ini, warga membuat berbagai bentuk hiasan yang disebut panjang. Bentuknya sangat beragam, mulai dari masjid, kapal atau perahu, menara, hingga bentuk-bentuk kreatif lainnya.

Bagian dalam atau sekitar panjang biasanya dihiasi dan diisi berbagai makanan, hasil bumi, kebutuhan pokok, serta telur rebus.

Panjang kemudian dibawa dalam prosesi arak-arakan. Setelah rangkaian kegiatan selesai, isi panjang dibagikan kepada masyarakat.

Semangat berbagi menjadi salah satu nilai utama yang terlihat dalam tradisi ini. Masyarakat bersama-sama mengumpulkan makanan dan hasil bumi, kemudian membagikannya kembali sebagai bagian dari perayaan Maulid.

Tradisi Panjang Mulud sekaligus menunjukkan kuatnya hubungan antara perayaan keagamaan, kreativitas masyarakat, dan budaya gotong royong di Banten.

7. Bungo Lado di Padang Pariaman

Di Sumatera Barat, khususnya wilayah Padang Pariaman, terdapat tradisi Maulid yang dikenal sebagai Bungo Lado.

Bungo Lado secara harfiah dapat dipahami sebagai "bunga cabai". Dalam praktik tradisinya, masyarakat membuat bentuk pohon atau hiasan yang kemudian dihiasi dengan uang hasil sumbangan warga.

Uang tersebut dikumpulkan secara sukarela. Setelah terkumpul, dana Bungo Lado umumnya diarahkan untuk kepentingan sosial-keagamaan, termasuk membantu pembangunan atau perbaikan fasilitas rumah ibadah.

Keunikan tradisi ini terletak pada perubahan bentuk sedekah menjadi sebuah karya visual yang menarik. Uang tidak sekadar dikumpulkan dalam kotak amal, tetapi ditampilkan dalam bentuk "pohon uang" yang kemudian menjadi bagian dari kemeriahan Maulid.

Dengan demikian, Bungo Lado mengandung dua unsur sekaligus: syiar keagamaan dan solidaritas sosial.

Tradisi ini juga memperlihatkan kuatnya budaya gotong royong masyarakat Minangkabau dalam mendukung kegiatan keagamaan di lingkungan mereka.

8. Baayun Maulid di Kalimantan Selatan

Masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan memiliki tradisi yang sangat khas, yaitu Baayun Maulid.

Baayun berarti mengayun. Dalam pelaksanaannya, anak-anak atau bayi ditempatkan di ayunan yang telah dihias dengan kain dan perlengkapan tertentu. Salah satu unsur yang sering digunakan adalah kain sasirangan, kain khas Kalimantan Selatan.

Ketika prosesi berlangsung, masyarakat membaca selawat, syair, dan doa. Anak yang diayun diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang baik serta memiliki akhlak yang sesuai dengan keteladanan Nabi Muhammad SAW.

Baayun Maulid juga mempunyai dimensi sosial dan budaya yang kuat. Anak-anak tidak hanya menjadi bagian dari keluarga masing-masing, tetapi diperkenalkan sejak dini kepada tradisi keagamaan masyarakat.

Yang menarik, tradisi ini mempertemukan unsur pengasuhan anak, doa, selawat, seni tradisional, dan budaya Banjar dalam satu rangkaian kegiatan.

Karena nilai budayanya yang kuat, Baayun Maulid menjadi salah satu tradisi masyarakat Banjar yang terus diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

9. Endog-endogan di Banyuwangi

Masyarakat Banyuwangi, Jawa Timur, memiliki tradisi Endog-endogan yang sangat khas.

Kata endog dalam bahasa Jawa berarti telur. Sesuai namanya, telur ayam rebus menjadi salah satu unsur utama dalam tradisi tersebut.

Telur biasanya ditusukkan pada pelepah atau batang pohon pisang yang telah dihias dengan kertas warna-warni. Hiasan tersebut kemudian dibawa dalam pawai atau arak-arakan Maulid.

Telur menjadi simbol penting dalam tradisi ini. Dalam pemaknaan budaya masyarakat setempat, telur dapat menggambarkan unsur kehidupan serta memiliki pesan simbolis yang berkaitan dengan perjalanan dan nilai-nilai keislaman.

Setelah prosesi, telur dan makanan yang dibawa biasanya dibagikan atau dinikmati bersama masyarakat.

Endog-endogan pada akhirnya bukan hanya sebuah pawai dengan hiasan telur. Tradisi ini menjadi ekspresi kegembiraan masyarakat atas kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus menjadi sarana mempererat hubungan antarwarga.

10. Walima di Gorontalo

Di Gorontalo terdapat tradisi Maulid yang dikenal dengan nama Walima. Tradisi ini menjadi salah satu bentuk perayaan Maulid yang paling menonjol di wilayah tersebut.

Ciri khas Walima adalah adanya susunan makanan dan kue tradisional yang ditempatkan di atas wadah atau usungan yang disebut tolangga.

Kue tradisional seperti kolombengi dan cucur menjadi bagian penting dalam susunan Walima. Berbagai makanan tersebut ditata sedemikian rupa sehingga membentuk gunungan yang menarik secara visual.

Tolangga kemudian dibawa secara beramai-ramai menuju masjid. Setelah sampai, makanan tersebut menjadi bagian dari kegiatan perayaan dan dibagikan kepada masyarakat.

Tradisi Walima mencerminkan budaya berbagi masyarakat Gorontalo. Makanan yang dibuat secara bersama-sama bukan hanya untuk memperindah perayaan, tetapi juga menjadi bentuk sedekah dan kebersamaan.

Dalam konteks budaya, Walima memperlihatkan bagaimana tradisi Islam dapat menyatu dengan kuliner lokal dan semangat gotong royong masyarakat.

Makna di Balik Keragaman Tradisi Maulid

Jika diperhatikan, sepuluh tradisi tersebut memiliki bentuk yang sangat berbeda. Ada yang menonjolkan pembacaan kitab dan selawat, ada yang berupa arak-arakan, ada yang menggunakan makanan sebagai simbol, dan ada pula yang menggabungkan unsur sejarah serta budaya keraton.

Namun, terdapat sejumlah nilai yang sama.

Pertama, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Peringatan Maulid menjadi momentum bagi masyarakat untuk kembali mengenang sejarah kehidupan Rasulullah, membaca selawat, serta mempelajari akhlak dan perjuangannya.

Kedua, sedekah dan berbagi. Hampir seluruh tradisi memiliki unsur makanan, hasil bumi, uang, atau barang yang kemudian dinikmati dan dibagikan kepada masyarakat.

Ketiga, gotong royong. Pelaksanaan tradisi biasanya membutuhkan keterlibatan banyak orang. Mulai dari mempersiapkan makanan, membuat hiasan, mengatur arak-arakan, hingga melaksanakan pengajian.

Keempat, pelestarian budaya lokal. Maulid menjadi ruang bagi masyarakat untuk mempertahankan bahasa, pakaian, makanan, kesenian, kerajinan, dan tata upacara tradisional yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.

Kelima, pendidikan bagi generasi muda. Tradisi Maulid dapat menjadi media untuk mengenalkan sejarah Nabi Muhammad SAW sekaligus nilai-nilai seperti kasih sayang, kepedulian terhadap sesama, sedekah, persaudaraan, dan akhlak mulia.

Hikmah Memperingati Maulid Nabi

1. Meningkatkan Kecintaan kepada Rasulullah SAW

Peringatan Maulid menjadi momen untuk memperbaharui dan memperkuat rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Kecintaan ini merupakan bagian dari iman, sebagaimana sabda Nabi bahwa tidak sempurna iman seseorang hingga beliau lebih dicintai daripada seluruh manusia.

2. Meneladani Akhlak dan Perjuangan Nabi

Melalui pembacaan sirah dan kitab-kitab maulid seperti Barzanji dan Simthuddurrar, umat Islam diajak untuk mempelajari dan meneladani akhlak mulia serta perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan ajaran Islam.

3. Mempererat Silaturahmi dan Kebersamaan

Tradisi Maulid seperti Sekaten, Barikan, dan Gantung-gantungan menjadi ajang berkumpulnya masyarakat dari berbagai kalangan. Tradisi ini memperkuat ikatan sosial dan ukhuwah Islamiyah.Di beberapa daerah, masyarakat non-Muslim bahkan turut serta membantu persiapan perayaan, mencerminkan nilai toleransi yang tinggi.

4. Mensyukuri Nikmat Dutusannya Rasulullah

Kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan rahmat terbesar bagi seluruh alam. Berbagai tradisi Maulid—mulai dari memasak kuah beulangong di Aceh hingga menyusun makanan di Tolangga di Gorontalo—merupakan bentuk syukur atas nikmat tersebut.

5. Melestarikan Kearifan Lokal dan Identitas Budaya

Tradisi Maulid di Nusantara membuktikan bahwa Islam dan budaya lokal dapat berpadu secara harmonis. Melestarikan tradisi ini berarti menjaga identitas budaya bangsa sekaligus menyebarkan nilai-nilai Islam.Tradisi ini menjadi pengingat bahwa modernisasi boleh hadir, tetapi kearifan lokal harus tetap dijaga.

Pertanyaan Seputar Tradisi Maulid Nabi

1. Apa saja tradisi unik Maulid Nabi di Jakarta?

Di Jakarta, tradisi Maulid meliputi Marhaban Betawi dengan grup Marawis dan rebana, pembacaan Kitab Barzanji secara bergantian, Jakarta Bershalawat di Monas, serta hidangan khas Nasi Kebuli. Uniknya, masyarakat Betawi juga mengiringi perayaan dengan petasan dan kembang api sebagai tanda ajakan berkumpul.

2. Bagaimana tradisi Maulid Nabi di Bandung?

Di Bandung dan sekitarnya, tradisi Maulid diwarnai dengan Marhaba’an (pembacaan shalawat) di masjid-masjid, serta tradisi Ngarumat Pusaka atau pencucian gamelan pusaka di situs rumah adat Bumi Alit Kabuyutan. Air bekas cucian gamelan dianggap membawa berkah.

3. Apa itu tradisi Gantung-gantungan di Surabaya?

Gantung-gantungan adalah tradisi unik warga Putat Jaya, Surabaya, di mana berbagai peralatan rumah tangga digantung dan diperebutkan warga. Filosofinya: semakin tinggi barang yang digantung, semakin tinggi pula cita-cita yang harus dikejar. Tradisi ini pertama kali digagas delapan tahun lalu.

4. Apa makna tradisi Sekaten di Yogyakarta?

Sekaten berasal dari kata “syahadatain” (dua kalimat syahadat). Tradisi ini diawali dengan Miyos Gangsa—pengeluaran gamelan pusaka yang ditabuh selama tujuh hari menjelang 12 Maulud. Puncaknya adalah Grebeg Maulud dengan arak-arakan gunungan. Tradisi ini diperkenalkan Sunan Kalijaga sebagai media dakwah.

5. Apa saja tradisi Maulid di daerah lain di Indonesia?

Beragam tradisi Maulid di Nusantara antara lain: Walima (Gorontalo) dengan usungan Tolangga berisi kue tradisional, Bunga Telur (Minangkabau) dengan telur rebus berhias, Bungo Lado (Padang Pariaman) dengan pohon hias beruang kertas, Baayun Maulid (Banjar) mengayun bayi, Masak Kuah Beulangong (Aceh), dan Maulid Bale Saji (Bali).

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.