TRIBUNPEKANBARU.COM, PELALAWAN - Sebanyak 50 titik panas muncul di wilayah Kabupaten Pelalawan pada Kamis (20/8/2026). Jumlah itu meledak dan naik drastis dari hari sebelumnya.
Sebanyak 49 hotspot tersebar di Kecamatan Kerumutan yang saat ini menjadi fokus pemadaman, khususnya di Dusun Air Kuning Kelurahan Kerumutan. Asap dari hasil Karhutla telah sangat pekat mengepul sampai ke angkasa berdasarkan pantauan udara.
Seiring dengan itu kabut kembali menyelimuti angkasa Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan pada Kamis (20/8/2026). Udara terlihat kembali samar sejak pagi sampai sore hari yang diselingi mendung. Kualitas udara yang dihirup masyarakat tergantung pada kabut yang menguasai angkasa di saat bencana Karhutla melanda Pelalawan
Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pelalawan, Eko Novitra, kondisi kualitas udara di Pangkalan Kerinci tidak berbeda jauh dsngan sehati sebelumnya. Kualitas udara dipantau setiap hari sejak Karhutla melanda Pelalawan dan kabut mulai muncul.
"Kondisi hari ini masih sama dengan kualitas udara sehari yang lalu," ujar Eko Novitra kepada tribunpekanbaru.com, Kamis (20/8/2026).
Berdasarkan pantauan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) menunjukkan beberapa indikator terhadap kualitas udara turun dibandingkan kemarin. Pihaknya tidak ingin gegabah menyimpulkan jika udara di Pangkalan Kerinci dalam kategori tidak sehat.
Baca juga: Polisi Lakukan Pengecekan Kasus Keracunan MBG di Kampar, Penyebabnya Masih Tunggu Hasil Lab
Eko Novitra merincikan parameter P10 berada pada level 67 masuk dalam kategori sedang dengan indikator warna biru. Kemudian parameter P2.5 di angka 101 masuk kategori tidak sehat dan indikator warna kuning.
Kemudian SO2 pada level 30 masuk kategori baik dengan indikator warna hijau. O3 di level 5 kategori baik dan indikator warna hijau. Sedangkan NO2 di angka 34 kategori baik dengan indikator hijau. Sedangkan parameter CO dan HC tidak terdeteksi lantaran alatnya sedang rusak. Setiap parameter menunjukkan sedikit peningkatan dari sehari sebelumnya.
"Apabila 5 parameter ini berada di level tidak sehat di warna kuning, bisa disimpulkan kualitas udara kita tak sehat. Kalau hanya satu indikator saja, belum mewakili untuk disimpulkan," papar Eko Novitra.
(Tribunpekanbaru.com/Johannes Wowor Tanjung)