Laporan Wartawan TribunGayo.com Alga Mahate Ara | Takengon
TRIBUNGAYO.COM, TAKENGON – Masyarakat penghuni Hunian Sementara (Huntara) di Desa Bintang Pepara dan Bur Lah, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh mengeluhkan kondisi yang memprihatinkan akibat krisis air bersih, penuhnya fasilitas sanitasi, serta belum meratanya penyaluran Jaminan Hidup (Jadup).
Keluhan ini disampaikan oleh aparatur dari kedua desa saat beraudiensi dengan Wakil Bupati Aceh Tengah, Muchsin Hasan beserta Anggota DPRK Aceh Tengah di Ruang Sidang DPRK setempat, Kamis (20/8/2026).
Audiensi ini digelar setelah sebelumnya DPRK juga menerima audiensi dari warga Desa Serempah yang sempat menggelar aksi demonstrasi.
Reje (Kepala Desa) Bintang Pepara, Kecamatan Ketol, Misran mengungkapkan bahwa dari tiga sumur bor yang tersedia di huntara desanya, kini hanya satu unit yang masih berfungsi.
Kondisi ini dinilai sangat tidak memadai untuk melayani kebutuhan 110 Kepala Keluarga (KK) yang menghuni lokasi tersebut.
“Ada 110 pengungsi huntara di sana, kalau satu sumur bor digunakan 110 orang, maka ini tidak memadai,” kata Misran dalam audiensi tersebut.
Persoalan serupa turut dialami warga Desa Bur Lah.
Sebanyak 55 KK di huntara setempat menghadapi masalah tangki septik yang telah penuh dan tidak lagi mampu menampung limbah.
Selain itu, warga di kedua desa juga mengeluhkan lumpuhnya roda perekonomian.
Sebagian besar warga kehilangan mata pencaharian setelah lahan perkebunan mereka rusak akibat bencana hidrometeorologi.
Sementara akses jalan menuju area perkebunan sebagian besar juga masih belum dapat dilalui karena kerusakan akibat bencana.
Warga menambahkan bahwa bantuan sembako dari pemerintah sudah tidak mereka terima dalam beberapa bulan terakhir.
“Terakhir dapat sembako di bulan empat. Masyarakat saat ini kesulitan karena tidak ada mata pencaharian,” ujar salah satu perwakilan warga.
Persoalan jaminan hidup turut menjadi sorotan dalam audiensi ini.
Di Bintang Pepara, sebanyak 11 orang dilaporkan belum pernah menerima Jadup sejak awal, sementara di Bur Lah, 13 KK masih menunggu kepastian penyaluran bantuan tersebut.
Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Wakil Bupati Aceh Tengah Muchsin Hasan langsung menginstruksikan instansi terkait untuk segera memperbaiki sumur bor, paling lambat pada Senin mendatang.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) juga ditugaskan untuk segera mengirimkan mobil penyedot tinja ke lokasi huntara Kamis besok.
Terkait anggaran sembako, Wakil Bupati Muchsin Hasan memerintahkan Dinas Sosial untuk mengupayakan pengusulan bantuan langsung ke Kementerian Sosial, mengingat tidak adanya alokasi bantuan sembako setelah masa tanggap darurat.
Pada kesempatan yang sama, Camat Ketol, Zumara W Kutarga melaporkan banjir kerap menggenangi huntara warga di wilayah Serempah, Bintang Pepara, dan Bur Lah, hingga merendam perabotan dan kasur milik warga.
Atas keluhan tersebut, Muchsin Hasan meminta masyarakat untuk bersabar.
Saat ini pemerintah kabupaten Aceh Tengah sedang menunggu kedatangan Armada alat berat yang telah dibeli untuk menangani masalah banjir di huntara.
“Untuk penanganan infrastruktur jangka panjang, alat berat dijadwalkan tiba dalam 10 hari ke depan guna mendukung normalisasi dan penanganan huntara yang mengalami banjir di di kecamatan Ketol,” demikian Muchsin Hasan. (*)
Baca juga: Wakil Bupati Muchsin Hasan Pastikan Masyarakat Desa Serempah Aceh Tengah akan Direlokasi
Baca juga: Massa Demo di DPRK Aceh Tengah Tuntut Kejelasan Huntap dan Jadup