Analisis Psikologi Tawuran Geng Motor di Kota Jambi, Dessy Pramudiani: Persoalan Psikososial
asto s August 20, 2026 09:48 PM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Dosen Prodi Psikologi Universitas Jambi yang juga Ketua HIMPSI Wilayah Jambi, Dessy Pramudiani, menyampaikan analisis psikologi terkait fenomena tawuran dan aksi geng motor yang kembali terjadi di Kota Jambi.

Kasus tawuran dan geng motor di Jambi kembali menelan korban jiwa.

Persoalan tersebut perlu dilihat lebih jauh, bukan sekadar persoalan kenakalan remaja maupun lemahnya efek jera hukum.

Perilaku kekerasan yang dilakukan secara berulang dan melibatkan kelompok remaja, dapat menjadi indikator adanya persoalan psikososial yang lebih luas.

Dari perspektif Social Learning Theory yang dikembangkan Albert Bandura pada 1977, perilaku agresif dapat dipelajari melalui proses observasi, imitasi, dan penguatan dari lingkungan.

Remaja dapat belajar bahwa perilaku agresif memberikan status, pengakuan, keberanian, atau penerimaan dari kelompok.

Jika tindakan kekerasan memperoleh respons positif dari teman sebaya, maka perilaku tersebut berpotensi semakin kuat dan berulang.

Fenomena tersebut juga dapat dilihat melalui Social Identity Theory yang dikembangkan Tajfel dan Turner pada 1979.

Pada masa remaja, kebutuhan untuk memiliki identitas dan diterima kelompok sangat besar.

Ketika identitas kelompok dibangun berdasarkan solidaritas yang keliru, keberanian, perlawanan terhadap kelompok lain, atau pembuktian diri, konflik antarkelompok dapat berkembang menjadi perilaku agresif.

Dalam kondisi tersebut, keputusan individu semakin dipengaruhi oleh norma kelompok.

Persoalan ini juga perlu dilihat melalui Ecological Systems Theory dari Bronfenbrenner. 

Perilaku remaja tidak terbentuk hanya dari karakteristik individu, tetapi merupakan hasil interaksi antara keluarga, teman sebaya, sekolah, lingkungan masyarakat, media sosial, dan sistem sosial yang lebih luas.

Karena itu, penanganan tawuran tidak cukup hanya berfokus pada pelaku setelah kejadian terjadi.

Aspek lain yang perlu mendapat perhatian adalah kesehatan sosial remaja.

Perlu dilihat apakah remaja memiliki lingkungan pertemanan yang sehat, rasa memiliki terhadap keluarga dan sekolah, ruang aktualisasi yang positif, kemampuan regulasi emosi dan penyelesaian konflik, serta figur dan komunitas yang memberikan penguatan terhadap perilaku prososial.

Hukum tetap memiliki fungsi penting sebagai batas sekaligus konsekuensi terhadap perilaku kekerasan.

Namun, jika kejadian terus berulang, pendekatan represif saja dinilai tidak cukup.

Kita perlu bergerak dari sekadar bertanya bagaimana menghukum pelaku menjadi mengapa perilaku tersebut terus diproduksi dan dipertahankan oleh lingkungan sosial remaja.

Karena itu, Kota Jambi membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif melalui pemetaan faktor risiko dan faktor protektif remaja.

Upaya tersebut dapat dilakukan dengan memperkuat peran keluarga dan sekolah, melakukan intervensi pada kelompok sebaya, meningkatkan literasi digital, mengembangkan kemampuan regulasi emosi dan penyelesaian konflik, serta menyediakan ruang dan aktivitas sosial yang positif bagi remaja.

Peristiwa tawuran yang hingga menyebabkan korban jiwa, seharusnya menjadi momentum untuk melakukan evaluasi bersama terhadap kesehatan sosial remaja di Kota Jambi.

Jangan sampai kita baru bergerak setelah muncul korban berikutnya. (Tribunjambi.com/Srituti Apriliani Putri)

Baca juga: Viral Perang Geng Motor di Pasar Jambi: 1 Remaja Tak Berdaya Dikeroyok

Baca juga: Alasan Dua Pejabat Pemkot Jambi Mundur hingga Isu Perombakan Mencuat Lagi

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.