SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH — Beberapa tahun lalu, membayangkan diri berdiri sebagai lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK) terasa begitu jauh bagi Tasya Amanda. Bukan karena ia tidak memiliki cita-cita menjadi dokter, tetapi karena ia dan keluarganya memahami bahwa pendidikan kedokteran membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Tasya berasal dari Bireuen dan merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai sopir Hiace, sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga. Ia menjadi orang pertama dalam keluarga besar dari pihak ayah maupun ibunya yang menempuh pendidikan kedokteran.
Pada 2022, Tasya diterima di Fakultas Kedokteran USK melalui KIP Kuliah. Bagi dirinya dan keluarga, kabar tersebut bukan sekadar tentang memperoleh beasiswa.
“Itu adalah sebuah kesempatan,” kata Tasya dalam sambutannya sebagai perwakilan penerima KIP Kuliah. Kesempatan untuk memasuki Fakultas Kedokteran sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak harus menjadi batas dalam mengejar pendidikan dan cita-cita.
Kesempatan tersebut kemudian dijalani dengan proses yang tidak selalu mudah. Pada tahun pertama, Tasya tinggal di Asrama USK dan mengikuti berbagai kegiatan pembinaan. Setelah menjalani perkuliahan dan praktikum, ia masih harus mengikuti kegiatan asrama dan menyelesaikan laporan hingga malam hari.
Waktu harus dibagi antara kegiatan akademik, aktivitas asrama, dan waktu istirahat yang terbatas.
Namun, justru di tengah kesibukan itu Tasya mulai menemukan ruang untuk berkembang di luar perkuliahan.
Pada semester kedua, Tasya bersama seorang mahasiswa penerima KIP Kuliah dari program studi berbeda mencoba mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Pengabdian kepada Masyarakat.
Mereka mengangkat gagasan edukasi mengenai zoonosis untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia serta cara pencegahannya. Proposal tersebut disusun di sela-sela perkuliahan, praktikum, dan kegiatan asrama.
Dalam kegiatan tersebut, Tasya dipercaya menjadi ketua hibah pengabdian. Dengan bimbingan Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si., proposal mereka berhasil memperoleh hibah. Kegiatan tersebut kemudian dikonversikan ke dalam mata kuliah Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan memperoleh nilai A.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Tasya. Sebagai mahasiswa yang masih berada di awal masa pendidikan, ia tidak hanya belajar menyusun gagasan, tetapi juga belajar memimpin, bekerja bersama tim, dan menjalankan pengabdian kepada masyarakat.
Perjalanan Tasya juga berkembang melalui kegiatan organisasi. Ia aktif sebagai edukator di Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) dan menjadi pengurus Ikatan Mahasiswa Berprestasi (IKANMAS) Fakultas Kedokteran USK.
Keterlibatan tersebut memperluas pengalaman Tasya di luar ruang akademik. Ia berkesempatan mengembangkan kemampuan komunikasi, edukasi kesehatan, organisasi, serta bekerja bersama mahasiswa dan masyarakat.
Bagi Tasya, pengalaman selama menjadi mahasiswa membuat pendidikan kedokteran tidak hanya tentang memperoleh pengetahuan di ruang kuliah. Ada pengalaman berorganisasi, mengabdi, mengedukasi, dan belajar mengambil tanggung jawab yang turut membentuk dirinya.
Perjalanan tersebut akhirnya membawanya menyelesaikan Program Sarjana Pendidikan Dokter dengan predikat sangat memuaskan.
Dalam rangkaian Wisuda Lokal Program Sarjana, Magister, serta Pengambilan Sumpah Dokter, Pelantikan Dokter Spesialis dan Subspesialis, Tasya dipercaya menyampaikan sambutan sebagai perwakilan penerima KIP Kuliah.
Di hadapan para penerima KIP Kuliah lainnya, ia mengingatkan bahwa menjadi penerima beasiswa bukanlah sesuatu yang perlu dipandang sebagai keterbatasan.
“Kita memang menerima bantuan, tetapi kita juga menerima kepercayaan. Mari kita jawab kepercayaan tersebut dengan terus belajar, terus berkembang, dan memberikan kontribusi sesuai dengan bidang kita masing-masing.”
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah melalui KIP Kuliah, USK, Fakultas Kedokteran, pengelola dan pembina KIP Kuliah, dosen, tenaga kependidikan, serta keluarga yang telah mendukung perjalanan pendidikan para penerima beasiswa.
Baca juga: Prodi Radiologi FK USK Gelar Edukasi dan Skrining USG Tiroid Gratis untuk Warga Indrapuri
Bagi Tasya, kelulusan ini bukan akhir dari perjalanan untuk menjadi dokter. Setelah menyelesaikan Program Sarjana Pendidikan Dokter, ia masih akan melanjutkan ke tahap Pendidikan Profesi Dokter melalui kepaniteraan klinik.
Karena itu, toga yang dikenakannya hari ini bukan garis akhir, melainkan penanda bahwa satu tahap telah berhasil dilewati.
Tasya berharap kesempatan yang diperolehnya melalui KIP Kuliah tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Ilmu dan pengalaman yang diperolehnya ingin terus dibawa untuk memberikan manfaat bagi orang lain.
“Tugas saya bukan lagi hanya untuk bersyukur karena pernah menerimanya, tetapi juga untuk memastikan bahwa ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan dari kesempatan tersebut dapat memberikan manfaat bagi orang lain.”
Dari Bireuen hingga Fakultas Kedokteran USK, dari penerima KIP Kuliah hingga terlibat dalam pengabdian, edukasi kesehatan, dan organisasi mahasiswa, perjalanan Tasya memperlihatkan bagaimana sebuah kesempatan dapat tumbuh menjadi prestasi ketika dijalani dengan kesungguhan.
KIP Kuliah buka jalan. Tasya menjawabnya dengan prestasi dan pengabdian.(rel/*)