SERAMBINEWS.COM, TEHERAN — Iran dilaporkan tengah mempertimbangkan kemungkinan memperluas sasaran militernya hingga ke Eropa apabila Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memutuskan meningkatkan eskalasi konflik dengan Teheran.
Informasi tersebut diungkapkan dua sumber yang dekat dengan pemerintahan Iran kepada Financial Times.
Menurut laporan yang diterbitkan pada Rabu (19/8/2026), pasukan Iran telah mengevaluasi sejumlah opsi untuk menyerang aset militer AS di kawasan Eropa bagian tenggara, sebagai bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan pecahnya kembali perang berskala besar.
Salah satu lokasi yang disebut dalam penilaian tersebut adalah Pangkalan Udara Bezmer di Bulgaria. Pangkalan itu menjadi perhatian karena Bulgaria pada Juli lalu mengizinkan penggunaan fasilitas tersebut oleh pesawat militer AS untuk mendukung operasi Washington di Timur Tengah.
Parlemen Bulgaria sebelumnya memberikan izin bagi hingga delapan pesawat tanker KC-135 milik Angkatan Udara AS serta sekitar 250 personel militer Amerika untuk ditempatkan di Bezmer selama periode 24 Juli hingga 1 Oktober.
Pesawat tanker tersebut berperan dalam pengisian bahan bakar di udara bagi pesawat tempur yang menjalankan operasi militer.
Selain Bulgaria, Siprus disebut sebagai lokasi lain yang telah dipertimbangkan Iran.
Di pulau tersebut terdapat fasilitas militer Inggris yang memiliki nilai strategis bagi operasi Barat di kawasan Timur Tengah.
Pangkalan udara Inggris di Siprus juga pernah menjadi sasaran serangan drone pada Maret lalu, menambah kekhawatiran bahwa fasilitas militer Barat di kawasan tersebut dapat kembali menjadi target apabila konflik meningkat.
Menurut sumber yang dikutip Financial Times, pertimbangan Iran tersebut merupakan bagian dari upaya Teheran untuk memperluas kemungkinan respons militer di luar kawasan Timur Tengah apabila AS melancarkan serangan baru.
Baca juga: Iran Peringatkan Negara Teluk agar Tidak Membantu Militer Amerika, Ketegangan dengan UEA Meningkat
Sumber-sumber tersebut juga menyebut bahwa Iran secara terpisah telah mengevaluasi kemungkinan menyerang kabel serat optik bawah laut di Selat Hormuz apabila terjadi eskalasi baru.
Kabel bawah laut merupakan bagian penting dari infrastruktur komunikasi internasional. Selat Hormuz sendiri memiliki arti strategis yang jauh lebih luas karena menjadi jalur penting bagi perdagangan energi dunia.
Pertimbangan terhadap infrastruktur tersebut menunjukkan bahwa potensi konflik tidak hanya dapat menyasar pangkalan atau aset militer, tetapi juga infrastruktur strategis yang menopang aktivitas ekonomi dan komunikasi internasional.
Ancaman tersebut muncul ketika upaya diplomatik antara Washington dan Teheran kembali mengalami kebuntuan.
Pada Juni 2026, AS dan Iran menyepakati sebuah nota kesepahaman (MoU) sementara yang bertujuan menghentikan permusuhan dan membuka jalan menuju kesepakatan yang lebih luas.
Salah satu ketentuannya adalah komitmen kedua pihak untuk melakukan perundingan selama 60 hari guna mencapai kesepakatan final.
Kesepakatan tersebut juga berkaitan erat dengan upaya membuka kembali Selat Hormuz, yang menjadi salah satu titik utama dalam konflik.
Namun, proses negosiasi berikutnya tersendat akibat perbedaan pandangan mengenai pelaksanaan kesepakatan dan pengaturan pelayaran di selat tersebut.
Reuters melaporkan pada 17 Agustus bahwa Iran telah mengancam mengambil posisi militer yang lebih ofensif jika diplomasi gagal menghasilkan kesepakatan.
Sementara itu, pemerintahan Trump menolak memperpanjang pengaturan gencatan senjata dan menyatakan bahwa interpretasi Iran terhadap kesepakatan sebelumnya tidak sesuai dengan posisi Washington.
Baca juga: Konflik Memanas, Iran Dikabarkan Incar Aset AS di Eropa, NATO Pasang Badan
Ketegangan semakin meningkat setelah Trump pada Selasa (18/8) menyatakan bahwa tidak ada pembicaraan maupun komunikasi yang sedang berlangsung atau dijadwalkan dengan Iran.
Pernyataan tersebut mempersempit ruang diplomasi pada saat kedua pihak justru tengah menghadapi tekanan untuk mencegah konflik kembali meluas.
Di Teheran, situasi politik dan keamanan juga menunjukkan kecenderungan semakin keras. Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dilaporkan baru-baru ini menempatkan sejumlah tokoh garis keras pada posisi penting di sektor keamanan dan militer.
Perubahan tersebut dinilai mencerminkan kesiapan Teheran menghadapi kemungkinan konfrontasi baru.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga telah memberikan peringatan bahwa apabila perang berskala penuh kembali pecah, respons Iran tidak akan terbatas pada pola serangan sebelumnya terhadap aset dan infrastruktur AS di Timur Tengah.
Teheran mengisyaratkan bahwa negara atau fasilitas yang dianggap digunakan untuk mendukung operasi militer AS terhadap Iran dapat menjadi bagian dari perhitungan militernya.
Dengan demikian, ancaman terhadap aset AS di Eropa berpotensi menjadi perubahan besar dalam cakupan konflik.
Jika benar-benar dilaksanakan, serangan terhadap fasilitas yang berada di wilayah negara anggota NATO dapat membawa konsekuensi geopolitik yang jauh lebih luas dibandingkan serangan yang selama ini berlangsung di Timur Tengah.
Iran sebelumnya telah menunjukkan kemampuan dan kemauan untuk mencoba menyerang sasaran yang berada jauh dari wilayahnya.
Washington menuduh Iran meluncurkan sejumlah rudal ke arah Diego Garcia, pangkalan militer gabungan AS-Inggris di Samudra Hindia, pada fase awal perang. Namun, rudal-rudal tersebut tidak mencapai pangkalan yang berjarak lebih dari 4.000 kilometer dari Iran.
Iran juga dilaporkan telah menggunakan kemampuan serangan jarak jauh dalam konflik di kawasan Timur Tengah.
Perkembangan tersebut menjadi perhatian negara-negara Barat karena menunjukkan upaya Teheran untuk meningkatkan jangkauan dan ketepatan kemampuan serangannya.
Di sisi lain, Turki sebelumnya melaporkan bahwa sistem pertahanan udara NATO telah mencegat sejumlah rudal balistik Iran pada Maret.
Pada bulan yang sama, pangkalan Inggris di Siprus juga menjadi sasaran serangan drone. Namun, keterlibatan langsung Iran dalam serangan tersebut belum sepenuhnya dapat dipastikan dan sejumlah pejabat Barat menduga adanya keterlibatan kelompok proksi regional.
Laporan mengenai kemungkinan ancaman terhadap fasilitas militer AS di Eropa langsung mendapat respons dari Bulgaria.
Pemerintah Bulgaria mengatakan telah meningkatkan langkah-langkah keamanan di Pangkalan Udara Bezmer.
Menteri Dalam Negeri Bulgaria Ivan Demerdzhiev mengatakan pemerintah, bersama Kementerian Pertahanan, telah menerapkan berbagai langkah pencegahan dan terus memantau perkembangan situasi.
Menurut pemerintah Bulgaria, langkah tersebut dilakukan meskipun tingkat ancaman yang tersedia dari informasi intelijen saat ini belum menunjukkan adanya serangan yang segera terjadi.
Langkah itu menunjukkan bahwa laporan mengenai opsi serangan Iran mulai dipandang serius oleh negara-negara yang berpotensi terdampak.
Kemungkinan Iran menyerang aset AS di Eropa menjadi salah satu skenario paling mengkhawatirkan dalam perkembangan konflik saat ini.
Selama ini, sebagian besar serangan Iran terhadap kepentingan AS berpusat di Timur Tengah. Perluasan sasaran ke Eropa dapat meningkatkan risiko keterlibatan langsung negara-negara NATO dan membuka front konflik baru.
Namun, laporan mengenai pertimbangan serangan tersebut belum berarti Iran telah mengambil keputusan untuk melancarkannya. Informasi yang tersedia menunjukkan bahwa Teheran sedang mengevaluasi sejumlah opsi jika Washington kembali melakukan eskalasi militer.
Dengan negosiasi yang masih menemui jalan buntu, situasi di Selat Hormuz yang belum terselesaikan, serta meningkatnya retorika militer dari kedua pihak, ancaman perluasan konflik kini menjadi salah satu risiko utama yang dipantau oleh Amerika Serikat dan sekutunya.
Untuk saat ini, pertanyaan terbesar adalah apakah Washington dan Teheran masih memiliki ruang untuk kembali ke meja perundingan sebelum ancaman yang selama ini berada pada tahap perencanaan berubah menjadi aksi militer nyata.