Hendrik Lewerissa Minta Dukungan Perjuangkan Hak Masyarakat Adat Pegunungan Seram Utara
Mesya Marasabessy August 20, 2026 10:44 PM

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu

AMBON, TRIBUNAMBON.COM -  Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa meminta dukungan masyarakat dalam upayanya memperjuangkan persoalan masyarakat adat Pegunungan Seram Utara yang bersinggungan dengan kawasan Taman Nasional Manusela.

Permintaan itu disampaikan Hendrik setelah dirinya menerima langsung surat Raja Tanah Manusela, Sepnat Amanukuany, pada Rabu (19/8/2026).

Surat tersebut menjadi perhatian Hendrik karena berisi keluhan masyarakat adat terkait tanah adat dan ruang hidup mereka di kawasan Pegunungan Seram Utara.

Pesan itu sebelumnya dibawa lima pemuda adat yang tergabung dalam Aliansi Sou Upa Melawan.

Mereka membawa surat tersebut dalam sebuah bambu yang diikat kain merah saat perayaan HUT ke-81 RI di Lapangan Merdeka Ambon, pada Senin (17/8/2026) kemarin. 

Karena belum dapat bertemu langsung dengan gubernur, surat tersebut kemudian dititipkan kepada Juru Bicara Pemprov Maluku Kasrul Selang.

Hendrik akhirnya menerima surat tersebut dua hari kemudian, bertepatan dengan HUT ke-81 Provinsi Maluku.

Usai membuka bambu dan membaca surat Raja Tanah Manusela, Hendrik menyebut pesan tersebut sangat menyentuh dirinya.

Ia menilai persoalan masyarakat adat tidak boleh dikesampingkan hanya karena adanya sebuah program nasional.

"Tidak bisa satu program nasional mengorbankan hak-hak adat masyarakat," kata Hendrik.

Baca juga: Rudi Rumodar Soroti Kondisi RSUD Bula, Desak Penambahan Anggaran 

Baca juga: Aksi Adat di Kantor Gubernur, Vigel Faubun Tagih Bukti Janji Hendrik Lewerissa soal Manusela

Terlebih, kata dia, masyarakat adat Pegunungan Seram telah mendiami wilayah tersebut secara turun-temurun, jauh sebelum Indonesia berdiri.

Atas dasar itu, Hendrik menyatakan akan membawa persoalan tersebut kepada pemerintah pusat, termasuk badan, lembaga dan kementerian terkait dengan Taman Nasional Manusela.

Namun, Hendrik menyadari perjuangan tersebut tidak dapat dilakukan seorang diri.

Karena itu, ia secara terbuka meminta masyarakat untuk memberikan dukungan terhadap langkah yang akan ditempuhnya.

"Terima kasih, topang dan dukung saya. Itu yang saya bisa sampaikan kepada basudara semua," ujar Hendrik.

Saat ini Kamis 20 Agustus 2026 melalui Juru Bicara Pemerintah Provinsi Maluku, Kasrul Selang, disampaikan bahwa Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, direncanakan bertemu dengan Kementerian Kehutanan. 

"Beliau sekarang lagi di Kementerian Kehutanan, usaha untuk ketemu Pak Menteri. Karena kawasan Manusela itu di bawah Kementerian Kehutanan, beliau juga sementara mencari berbicara dengan Pak Menteri," ungkap Kasrul kepada rekan media,Kamis (20/8/2026).

Permintaan dukungan itu disampaikan di tengah keresahan masyarakat adat yang merasa ruang hidup mereka semakin terbatas.

Masyarakat sebelumnya menyuarakan keberatan terhadap aktivitas pemetaan, pengukuran hingga pematokan kawasan yang dinilai masuk semakin dekat dengan wilayah kelola adat.

Bagi masyarakat Pegunungan Seram Utara, hutan bukan sekadar kawasan konservasi.

Hutan menjadi sumber pangan dan penghidupan. 

Kayu, hasil hutan, kebun dan hewan buruan selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Karena itu, persoalan Taman Nasional Manusela tidak hanya berbicara mengenai batas kawasan, tetapi juga menyangkut bagaimana masyarakat adat tetap dapat menjalankan kehidupan mereka tanpa kehilangan ruang hidup yang diwariskan leluhur.

Kini, persoalan tersebut Hendrik menyatakan siap membawa suara masyarakat adat ke pemerintah pusat. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.