Limbah Plastik Bondowoso Diolah Jadi Gagang Alat Pertanian
Haorrahman August 21, 2026 03:57 AM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Bondowoso - Tumpukan tutup botol plastik beraneka warna tampak dijemur di atas para-para bambu di area kerja Sarka Space, Kabupaten Bondowoso. Limbah tersebut diolah menjadi gagang alat pertanian.

Melalui pendekatan ekonomi sirkular, komunitas Sarka Space berkolaborasi dengan tim pengabdian masyarakat Universitas Jember (Unej) mengembangkan gagang sabit, cangkul, hingga parang berbahan plastik daur ulang.

Produk tersebut tidak hanya dibuat sebagai prototipe. Gagang sabit dari plastik daur ulang telah diuji langsung oleh petani untuk mengetahui ketahanan, bobot, ukuran, serta kenyamanannya saat digunakan di lahan.

Abdul Wahab, petani asal Desa Suci, menjadi salah satu pengguna awal gagang sabit tersebut. Ia menilai produk berbahan plastik itu masih membutuhkan sejumlah penyesuaian, terutama pada dimensi dan bobot.

Baca juga: 3 Pendaki yang Tersesat di Gunung Krincing Bondowoso Berhasil Dievakuasi dengan Selamat

“Saya baru pertama kali lihat gagang celurit dari plastik seperti ini. Kalau dibandingkan dengan yang kayu, untuk sekarang saya masih pilih yang kayu karena yang ini masih terlalu panjang dan terasa lebih berat. Tapi kalau soal keawetan, menurut saya yang plastik ini lebih awet dan tidak mudah patah,” ujar Abdul Wahab.

Masukan dari petani tersebut menjadi bahan evaluasi bagi tim pengembang. Sebelum masuk tahap produksi lebih luas, bentuk, ukuran, bobot, dan kenyamanan gagang akan terus disempurnakan agar sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2025 yang dikutip dalam program tersebut, persentase sampah tidak terkelola di Kabupaten Bondowoso mencapai 99,87 persen.

Pendiri Sarka Space, Ahmad Quraisy, mengatakan gerakan pengolahan limbah itu berawal dari keresahan melihat banyaknya sampah yang menumpuk dan mencemari lingkungan.

“Berawal dari keresahan sekelompok individu yang melihat banyaknya sampah menumpuk dan mencemari lingkungan. Keresahan ini menyatukan kami dari latar belakang yang berbeda untuk memberikan perubahan, khususnya melalui pengelolaan sampah yang bijak dan bertanggung jawab,” jelas Ahmad Quraisy saat dikonfirmasi Kamis (20/8/2026).

Sebelum mengembangkan alat pertanian, Sarka Space telah mengolah limbah plastik menjadi berbagai produk, seperti papan plastik, tas, sampul buku, dan furnitur.

Pengembangan gagang alat pertanian menjadi langkah lanjutan untuk memperluas pemanfaatan limbah plastik sekaligus menghasilkan produk yang memiliki manfaat langsung bagi masyarakat.

Baca juga: Kebakaran di Lereng Gunung Ijen, Api Mengancam Kebun Kopi Warga Bondowoso

Universitas Jember

Pengembangan tersebut mendapat dukungan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Penguatan Hilirisasi Limbah Plastik Berbasis Ekonomi Sirkular pada Komunitas Sarka Space untuk Mewujudkan Zero Waste Pendukung Pertanian Perdesaan”.

Program ini didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Ditjen Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun anggaran 2026.

Dosen Universitas Jember Rizky Yanuarti yang menjadi ketua tim pengabdian bersama Laily Mutmainnah dan Lenny Luthfiyah mengatakan kolaborasi tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem pengolahan limbah yang dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Fokus kami bukan sekadar mengubah limbah plastik menjadi produk yang terlihat menarik, tetapi bagaimana limbah tersebut dapat diolah menjadi produk yang benar-benar digunakan dan memberi manfaat nyata,” tegas Rizky.

Dalam pendampingan tersebut, Sarka Space diperkuat melalui optimalisasi mesin pencacah, mesin CNC, teknologi press, penerapan sarana keselamatan dan kesehatan kerja (K3), standardisasi produksi, hingga strategi pemasaran digital.

Keberlanjutan produksi juga didukung oleh ketersediaan bahan baku. Sarka Space menjalin kemitraan dengan sejumlah bank sampah dan sekolah di Bondowoso untuk mengumpulkan limbah plastik sejak dari sumbernya.

Baca juga: Curi Uang Tetangga 14 Kali, Pria di Bondowoso Habiskan Hasilnya untuk Vapor dan Judi Online

Model tersebut diharapkan tidak hanya mengurangi limbah yang berakhir tanpa pengolahan, tetapi juga menciptakan rantai ekonomi baru di tingkat lokal.

Kolaborasi antara komunitas, perguruan tinggi, bank sampah, sekolah, dan petani diharapkan dapat membentuk rantai pengolahan sampah yang lebih berkelanjutan. Pada saat yang sama, produk hasil daur ulang dapat mendukung kebutuhan sektor pertanian di wilayah Jember dan Bondowoso.

 



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.