Menko Zulhas: Pengelolaan Sampah Banyuwangi Salah Satu yang Terbaik di Indonesia
Haorrahman August 21, 2026 03:57 AM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Pengelolaan sampah di Kabupaten Banyuwangi mendapat dukungan sarana dari NGO Uni Emirat Arab (UEA). Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan kepada Pemerintah Kabupaten Banyuwangi di TPS3R Balak, Kamis (20/8/2026).

Bantuan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat operasional pengelolaan sampah sekaligus mendukung program Banyuwangi Hijau.

Menko Zulkifli Hasan menilai Banyuwangi memiliki sistem pengelolaan sampah yang cukup baik sehingga mendapat dukungan dari sejumlah pihak internasional.

“Banyuwangi ini kabupaten salah satu yang terbaik. Oleh karena itu banyak bantuan-bantuan, termasuk ini dari UEA bahkan ada juga dari Norwegia, karena mengelola sampahnya termasuk yang bagus,” ujar Menko Zulhas.

Baca juga: Jagongan Bareng Petani Banyuwangi, Zulhas Siap Kawal Aspirasi Petani

Tambahan Armada

Dukungan dari UEA pada tahap pertama berupa 21 kendaraan roda tiga, 12 kendaraan pickup, dua truk armroll, dan lima kontainer armroll.

Penyerahan bantuan tersebut turut didampingi Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bayu Hadiyanto, serta sejumlah stakeholder terkait.

Mujiono mengatakan tambahan armada tersebut akan memperkuat layanan pengangkutan sampah, terutama di lapangan.

“Tambahan armada ini makin memperkuat operasional pengangkutan sampah di lapangan, sehingga layanan kebersihan masyarakat bisa berjalan makin cepat, merata, serta terintegrasi. Terima kasih Pak Menko dan UEA,” kata Mujiono.

Armada tersebut merupakan bantuan tahap pertama yang diarahkan untuk mendukung pelaksanaan program Banyuwangi Hijau.

TPS3R Balak  saat ini telah menjangkau sekitar 75 desa, dengan kapasitas pengolahan mencapai 100 ton sampah per hari.

Sampah yang masuk didominasi material organik. Di Songgon, sekitar 70 persen sampah merupakan sampah organik, sedangkan 30 persen lainnya berupa sampah anorganik.

Sebagian hasil pengolahan kemudian dimanfaatkan untuk memproduksi Refuse Derived Fuel (RDF) atau bahan bakar yang berasal dari sampah.

Baca juga: 17 Delegasi Nestle Asia Pasifik Belajar Pengelolaan Sampah Banyuwangi

“Di Songgon sekitar 70 persen berupa sampah organik dan 30 persen anorganik. Olahan Refuse Derived Fuel (RDF) diproduksi dengan rasio komposisi tiga banding satu untuk pasokan bahan bakar industri,” jelasnya.

Dinas Lingkungan Hidup mencatat timbulan sampah di Kabupaten Banyuwangi mencapai sekitar 900 ton per hari dari populasi sekitar 1,8 juta penduduk.

Pemkab Banyuwangi menargetkan seluruh wilayah dapat memperoleh layanan pengelolaan sampah secara penuh pada 2027. Untuk mencapai target tersebut, pelayanan akan dikembangkan melalui pembagian zona regional.

Pengelolaan sampah tidak hanya berhenti pada proses pengumpulan dan pengolahan. Hasil olahan juga mulai dimanfaatkan sektor industri sebagai bahan bakar alternatif.

Business Development Specialist PT Solusi Bangun Indonesia (SBI), Wahyu, mengatakan perusahaannya telah bekerja sama dengan Pemkab Banyuwangi dalam pembelian RDF yang dihasilkan dari pengolahan sampah daerah tersebut.

Kerja sama pemanfaatan RDF sebagai bahan bakar alternatif itu telah berjalan sejak November 2025. Pengiriman dilakukan secara berkala dengan rata-rata sekitar 20 ton dalam satu kali pengiriman untuk dimanfaatkan di pabrik semen.

“Kami di SBI sebagai offtaker RDF. Jadi, kami memanfaatkan RDF yang dibuat sama Pemkab Banyuwangi sebagai alternatif bahan bakar di pabrik semen,” ungkap Wahyu.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.