TRIBUNPRIANGAN.COM – Pesan untuk tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun adalah ajaran moral dan agama yang sangat mendalam.
Kita tidak tahu amal sederhana mana yang justru mendatangkan ridha Tuhan atau menjadi penolong keselamatan di akhirat.
Berbicara perihal Jumat hari ini, tepatnya di hari Jumat tanggal 21 Agustus 2026, kita selaku laki-laki beragama muslim akan melaksanakan ibadah Salat Jumat.
Hari Jumat yang merupakan Sayyidul Ayyam atau Penghulunya Hari pun diyakini oleh kaum muslimin sebagai hari yang penuh keberkahan.
Khusus untuk khutbah pada hari ini, berikut merupakan naskah khutbah Jumat tanggal 21 Agustus 2026 yang sudah TribunPriangan.com lansir dari berbagai sumber tentang "Jangan Meremehkan Kebaikan Sekecil Apapun".
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 21 Agustus 2026: Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
Khutbah 1
اَلْحَمْدُ لِلّٰه الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّاللَّهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَمَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَايَحْتَسِبُ، وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 21 Agustus 2026: Menahan Amarah Itu Wasiat Nabi
Para jamaah salat Jumat yang dimuliakan Allah..
Pertama-tama, marilah kita panjatkan puja dan puji kepada Allah yang telah memberikan banyak anugerah kepada kita, baik materi maupun imateri. Kedua, solawat dan salam semoga senantiasa kita haturkan bagi Baginda Nabi Muhammad dan keluarga serta para sahabatnya, yang telah memberikan tauladan kepada kita. Tauladan di sini bukan hanya dalam ibadah relasi antara mahluk dengan Tuhan, melainkan juga relasi antar sesama mahluk-Nya.
Dengan kata lain, takwa di tangan Nabi dan para sahabatnya tidak hanya terbatas meningkatkan ibadah personal saja, melainkan juga ibadah dan aktifitas sosial menjadi ajang untuk meningkatkan ketakwaan. Oleh karenanya, marilah kita meningkatkan ketakwaan dengan memperbaiki dan memperbagus kedua aspek ibadah tadi: personal dan sosial.
Rasulullah mengabarkan kepada kita semua bahwa keimanan itu memiliki tujuh puluh cabang atau bukti. Cabang yang tertinggi adalah kalimat tauhid, yaitu Lâilâhaillallâh, sedangkan bagian terendah adalah menyingkirkan duri di jalanan. Hal itu sejalan dengan sabdanya:
الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ، أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
Artinya, “Iman itu lebih dari 70 atau 60 cabang. Cabang paling utama adalah perkataan Lâ ilâha illallâh, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu itu termasuk cabang dari iman.” (HR Muslim)
Kaitan dengan cabang atau bukti iman yang terendah, Nabi saw. sudah mengisahkan, ada seorang pria yang dimasukkan Allah ke dalam surga-Nya karena telah menyingkirkan sebuah dahan berduri di jalan yang biasa dilalui banyak orang.
Hadits yang mengisahkannya adalah sebagai berikut:
بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ، فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ
Artinya: “Saat seorang pria sedang berjalan, tiba-tiba ia mendapati sebuah dahan berduri yang menghalangi jalan. Kemudian ia menyingkirkannya. Maka Allah bersyukur kepadanya dan mengampuni dosa-dosanya,” (HR. Ahmad).
Pada redaksi yang lain, disebutkan:
مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ طَرِيقٍ، فَقَالَ: وَاللهِ لَأُنَحِّيَنَّ هَذَا عَنِ الْمُسْلِمِينَ لَا يُؤْذِيهِمْ فَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ
Artinya, “Dikisahkan ada seorang pria melewati dahan sebuah pohon di badan jalan. Ia lantas berkata, ‘Demi Allah, aku akan menyingkirkan dahan ini agar tidak menghalangi kaum Muslimin. Berkat amal itu, ia dimasukkan ke surga,” (HR. Muslim).
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 21 Agustus 2026: Islam Agama yang Cinta Damai
Sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Dua hadits di atas mengisahkan kepada kita bahwa seorang pria mendapati dahan berduri di jalan yang menghalangi diri dan pengguna jalan lain. Ia kemudian segera memotong dahan tersebut dan menyingkirkannya dari badan jalan. Tujuannya agar tidak membahayakan orang-orang yang melintas, terutama sesama muslim. Maka Allah pun mengampuni dosa-dosanya dan memasukkannya ke dalam surga. Berkat amalnya itu, RasuluLlah saw. melihatnya sedang mendapatkan kenikmatan di dalam surga.
Dari kisah di atas, kita mengetahui bahwa pria itu hanya mengerjakan amal kecil, namun dibalas Allah dengan balasan besar nan istimewa. Sungguh besar dan luasnya rahmat serta karunia Allah. Pantas Rasululullah saw. selalu mengingatkan, “Singkirkanlah duri dari jalan kaum Muslimin.”
Di sisi lain, beliau juga memperingatkan kita agar jangan pernah mengganggu apalagi mencelakakan sesama muslim, sebagaimana yang terungkap dalam hadits berikut:
مَنْ ضَارَّ ، ضَارَّ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ شَاقَّ ، شَقَّ اللَّهُ عَلَيْهِ
Artinya, “Siapa saja yang membahayakan (orang lain), maka Allah akan menimpakan bahaya padanya. Siapa saja yang menyusahkan orang lain, maka Allah akan menimpakan kesusahan padanya.” (HR. Abu Dawud).
Dan masih banyak lagi kisah dan riwayat serupa yang berbicara soal ini, seperti halnya kisah yang dialami oleh Sahabat Umar bin Khathab yang meraih rida Allah karena melepaskan burung dari tangan anak-anak. Kemudian, kisah Imam al-Ghazali yang meraih rida Allah karena menyayangi seekor lalat yang menghisap tinta yang akan dituliskannya. Bahkan, ada pula kisah seorang wanita sundal yang berhasil mendapat ampunan Allah karena amalnya memberi minum kucing yang tengah kehausan. Dan masih banyak lagi kisah lainnya.
Intinya, semua menunjukkan betapa mulianya kaum Muslimin yang mengamalkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan selama didasari oleh keimanan kepada Allah. Sehingga sudah sepantasnya, kita selalu menebar kebaikan walaupun itu kecil. Ingatlah bahwa sekecil apa pun amal kebaikan kita, akan tampak terlihat kelak di hadapan Allah, sebagaimana termaktub dalam surat az-Zalzalah ayat 7-8.
Alih-alih mengganggu dan menyusahkan orang lain, kita sudah saatnya banyak mempermudah orang lain. Alih-alih mengotori dan merusak jalan, maka sebaiknya kita menjaga kebersihannya. Sebab, itulah yang diajarkan oleh Rasulullah saw.
Baca juga: Naskah Singkat Khutbah Jumat 21 Agustus 2026: Jangan Pernah Putus Asa dari Rahmat Allah Taala
Sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Dari uraian dan kisah hadits di atas dapat ditarik sejumlah pelajaran penting, antara lain adalah:
Bagian atau bukti tertinggi keimanan adalah mengikrarkan kalimat tauhid Lailahaillallah, sedangkan bagian terendah adalah menyingkirkan duri atau gangguan di jalan.
Betapa besarnya keutamaan amal baik walau hanya menyingkirkan sebuah duri di jalanan.
Betapa luasnya rahmat Allah. Betapa agungnya balasan dari-Nya. Dia telah memberikan balasan surga kepada seorang hamba-Nya yang takwa dan selalu berbuat kebaikan. Sekecil apapun amal kebaikan itu.
Orang yang kurang peduli dengan kebersihan jalan, bisa menjadi ciri lemahnya internalisasi dan implementasi nilai-nilai agama.
Pohon yang mengganggu boleh ditebang, dipotong, atau dirapikan. Sementara pohon yang memberikan manfaat, seperti pohon rindang dan menjadi pelindung, sebaiknya dipelihara.
Jangan bertindak semena-mena terhadap alam dan tumbuhan. Sebab, dampak buruknya akan kembali kepada manusia itu sendiri, seperti bencana longsor, banjir, dan susah air bersih di musim kemarau.
Orang yang semena-mena menebang pohon yang berguna juga diperingatkan Rasulullah saw. dalam haditsnya, “Orang yang memotong sebuah pohon, yang dengannya Allah melindungi kepalanya, maka ia akan berada dalam siksa api neraka.” (HR. al-Baihaqi).
Jangan pernah menyepelekan kebaikan, sekecil apa pun, baik kepada sesama muslim, sesama manusia, maupun sesama makhluk Allah. Sebab, Allah tidak melihat kecilnya seorang hamba selama amal yang dilakukannya didasari keimanan. Lagi pula, rida Allah itu dirahasiakan, bisa saja ada pada amal besar bisa juga amal kecil.
Lebih jelasnya, dapat dilihat kitab Al-Qashash an-Nabawi, karya Umar Sulaiman, Terbitan Darun-Nafais, halaman 241.
Demikian uraian khutbah ini. Semoga kita senantiasa diberi kemudahan untuk menunaikan amal yang dapat mengundang rida dan ampunan Allah swt. Amin ya robbal alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمُ
Baca juga: Naskah Singkat Khutbah Jumat 21 Agustus 2026: 3 Amalan Untuk Meraih Rumah di Surga
Khutbah 2
اَلْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر