TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Pemkab Batang mulai menyiapkan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas SDM agar semakin sesuai kebutuhan industri.
Satu di antaranya melalui kerja sama pendidikan dan industri yang membuka peluang beasiswa bagi generasi muda Batang untuk menempuh pendidikan di China.
Program tersebut dibahas dalam Forum Kemitraan Pendidikan dan Industri serta Sosialisasi Program Beasiswa China yang digelar di Ballroom Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Jumat (21/8/2026).
Wakil Bupati Batang, Suyono mengatakan, kerja sama tersebut perlu dikawal secara serius karena tidak hanya menyangkut pendidikan, tetapi juga transfer pengetahuan, teknologi, budaya kerja, dan kedisiplinan kepada generasi muda Batang.
Baca juga: Tak Cukup Punya Ijazah, Lulusan SMK Batang Dituntut Punya Karakter dan Siap Hadapi Industri
• Batang Jadi Pusat Pembinaan Pelatih Renang Nasional, 33 Pelatih Digembleng untuk Naik Kelas
“Kami kawal secara sungguh-sungguh agar fokus, ini sukses."
"Karena ini adalah kerja sama yang baik, yaitu transformasi knowledge, transformasi teknologi, juga akan menjadikan transformasi kedisiplinan,” kata Suyono, Jumat (21/8/2026).
Menurutnya, kesempatan belajar di China diharapkan mampu memberikan pengalaman baru kepada anak-anak Batang yang nantinya dapat dibawa pulang dan diterapkan ketika mereka memasuki dunia kerja.
Suyono menyebut, program tersebut merupakan inisiatif dari ITEA yang membuka akses bagi generasi muda Batang untuk mendapatkan pengalaman pendidikan di China sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi kebutuhan perusahaan yang beroperasi di Indonesia.
“Anak-anak ketika sudah mendapatkan edukasi di China, ini kerja sama yang jarang terjadi. Ini adalah inisiatif dari ITEA, Mr Lu, yang akan membantu anak-anak Kabupaten Batang mendapatkan ilmu baru di negeri China,” ujarnya.
Dia menambahkan, ilmu dan pengalaman yang diperoleh peserta diharapkan dapat ditransformasikan ketika mereka kembali ke Batang, terutama untuk mendukung kebutuhan tenaga kerja di perusahaan-perusahaan yang berasal dari berbagai negara, termasuk perusahaan asal China.
Untuk tahap awal, Pemkab Batang merencanakan 30 beasiswa bagi warga Batang pada 2027.
Suyono mengatakan, pembiayaan program tersebut akan ditanggung pemerintah daerah, termasuk kebutuhan tiket dan biaya pendidikan.
“Direncanakan dari Pemkab 2027 itu 30 beasiswa dari Kabupaten Batang. Baik tiketnya, baik biayanya nanti dari Pemkab,” jelasnya.
Program pendidikan tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperoleh ijazah, tetapi juga membentuk kesiapan peserta agar mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja dan kebutuhan industri.
Suyono mengatakan, masa pendidikan selama tiga hingga empat tahun akan memberikan kesempatan bagi peserta untuk mendapatkan pengetahuan, memahami budaya, serta membangun kedisiplinan yang dibutuhkan di dunia kerja.
“Culture, knowledge, kedisiplinannya itu semua akan didapat. Anak muda sekarang itu maunya perusahaan menyesuaikan dia."
"Nah ini akan membuat bahwa mereka menyesuaikan dengan perusahaan,” ungkapnya.
Terkait kemungkinan peserta terikat dengan perusahaan setelah menyelesaikan pendidikan, Suyono mengatakan, mekanisme kerja sama masih akan disusun lebih lanjut.
Menurut dia, kesepakatan nantinya dapat mencakup berbagai ketentuan, termasuk kemungkinan kontrak kerja.
“Tentunya akan dibuat kerja sama, bermacam-macam isinya. Ada kontrak kerjanya, ada hal-hal yang sifatnya kebersamaan itu apa,” ujarnya.
Sementara itu, Managing Director ICCCM, Loo Hui Ann mengatakan, peluang kerja sama pendidikan dengan institusi di China cukup luas.
Skema yang ditawarkan dapat disesuaikan mulai dari jenjang diploma hingga sarjana.
Dia menyebut, program tersebut juga memungkinkan adanya pilihan pendidikan selama satu tahun yang secara khusus diarahkan untuk memperkuat kemampuan bahasa Mandarin, terutama apabila kebutuhan industri terhadap tenaga kerja memiliki waktu persiapan yang lebih singkat.
“Kolaborasi ini memang akan kami optimalisasikan mulai dari level diploma hingga sarjana. Bahkan kami juga ada satu pilihan lain yaitu satu tahun untuk lebih belajar mengenai bahasa Mandarin,” kata Loo.
Baca juga: Manfaatkan Data IDSD untuk Tekan Pengangguran, Pemkab Batang Tembus Top 10 Jawa Tengah
• PPPK Paruh Waktu Batang Dievaluasi Tiap Tahun, Kinerja Jadi Penentu Perpanjangan Kontrak
Menurutnya, sistem pendidikan yang ditawarkan di China memiliki penekanan kuat pada pendidikan vokasi dan keterampilan praktis.
Hal tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan industri yang membutuhkan tenaga kerja terampil.
“Sistem pembelajaran di sana itu memang lebih kepada vokasi. Sehingga penekanan-penekanan skillful worker ini yang kami harapkan bisa menjembatani antara pihak government atau pemerintah dengan academic field, lalu berjalan beriringan dengan industrial field,” ujarnya.
Loo mengatakan, kebutuhan industri menjadi salah satu dasar dalam menentukan program pendidikan dan perguruan tinggi yang akan menjadi tujuan peserta.
Dengan demikian, peserta dari Batang dapat diarahkan ke bidang yang memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan perusahaan.
“Jadi sesuai kebutuhan bagaimana kami menyediakan skillful worker, bukan hanya level yang bawah, para pekerja yang level bawah,” ungkapnya.
Loo menyebut, ITEA saat ini memiliki kerja sama dengan sekira 400 perguruan tinggi di China, sehingga peserta dapat memiliki banyak pilihan berdasarkan bidang studi maupun kebutuhan industri.
“Sebaran kami saat ini sudah mempunyai 400 perguruan tinggi partner di China. Jadi saya kira ini sangat-sangat bervariasi, tidak ada masalah,” ujarnya.
Dia mengatakan, pihaknya siap membantu mencocokkan jurusan peserta dengan kebutuhan industri.
Penempatan ke perguruan tinggi nantinya dapat mempertimbangkan jurusan yang diminati peserta maupun bidang yang dibutuhkan perusahaan.
Selain program beasiswa, kolaborasi tersebut juga mencakup pengembangan training center dan service center. Kedua fasilitas tersebut disiapkan untuk menjembatani kebutuhan pengembangan SDM antara pemerintah, dunia pendidikan, dan industri.
“Sejalan dengan apa yang kami launching, ada dua program yaitu training center dan service center."
"Dua itu yang akan menjembatani kebutuhan-kebutuhan antara Human Index Development sejalan dengan kebutuhan industri dan pendidikan,” tuturnya.
Program kerja sama pendidikan dan industri tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan SDM lokal Batang agar dapat mengisi kebutuhan tenaga kerja yang tumbuh seiring perkembangan kawasan industri di daerah tersebut. (*)