TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN- Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga imunitas di tengah cuaca panas di Tarakan, Kalimantan Utara.
Kepala Dinkes Tarakan, dr Devi Ika Indriarti mengungkapkan, ISPA merupakan infeksi pada saluran pernapasan bagian atas. Gejala yang paling dominan antara lain demam, batuk dan pilek.
“Itu yang lebih dominan ya,” ucap dr Devi Ika Indrianti.
Menurut dr Devi Ika Indrianti, selain itu penderita ISPA dapat merasakan keluhan lain seperti sakit tulang maupun nyeri sendi.
“Tapi memang yang dominan adalah demam, batuk, pilek,” ujar dr Devi Ika Indrianti.
Baca juga: Pasca Karhutla, Dinkes Tarakan Belum Dapat Laporan Lonjakan Kasus ISPA, Malahan Turun
Ketika ditanya mengenai faktor komorbid yang memicu ISPA, Devi menjelaskan bahwa ISPA tidak berkaitan dengan komorbid tapi berkaitan dengan infeksi virus.
Ia kemudian menjelaskan kondisi cuaca ekstrem dan menurunnya daya tahan tubuh dapat membuat seseorang lebih mudah terpapar virus.
“Pemicunya biasanya ya cuaca yang terlalu ekstrem. Misalnya gini, cuacanya panas gitu ya, cuacanya sangat panas, terus kemudian kita minum langsung dingin. Kalau imunitasnya kita lagi turun, ya berarti kita cepat terpapar dengan virus tersebut, gitu," lanjutnya.
Untuk mencegah kondisi kesehatan menurun, Devi mengingatkan masyarakat menjaga pola hidup sehat, terutama ketika kondisi cuaca sedang ekstrem.
“Tapi kalau misalnya kita tetap menjaga kesehatan, misalnya istirahat yang cukup, tidurnya juga cukup. Kemudian makan makanan yang bergizi, dan juga minum air putih yang cukup, melakukan aktivitas fisik. Nah, itu bisa untuk meningkatkan imunitas kita,” tuturnya.
Devi kembali menegaskan, sampai laporan minggu ke-31 belum terlihat adanya peningkatan kasus ISPA yang berkaitan dengan kondisi udara saat ini. Ia menjelaskan, data kualitas udara yang menjadi perhatian tersebut masih relatif baru, sementara laporan Dinkes Tarakan yang digunakan untuk melihat tren ISPA merupakan data kunjungan pasien ke fasilitas kesehatan.
Terkait aktivitas masyarakat, Devi mengatakan penggunaan masker terutama penting ketika bepergian, termasuk bagi warga yang menggunakan sepeda motor.
Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan cuaca panas yang berlangsung beberapa hari dan minimnya hujan sehingga debu lebih mudah beterbangan.
Baca juga: Awal 2026, Pasien ISPA Dominasi Angka Rawat Inap pada Fasilitas Kesehatan di Malinau
Devi juga memastikan data yang digunakan dalam pembaruan kali ini berbeda dengan data yang sebelumnya disampaikan karena merupakan laporan mingguan.
Ia memaparkan data progres P2P ISPA Dinkes Tarakan tahun 2025 dan 2026. Target 2025, 640 yang dilaksanakan untuk program P2P ISPA dan capaiannya 776. Kemudian di tahun 2026, target tahunan 1.894 dan capaian hingga Juli 321 yang telah terealisasi untuk program P2P ISPA.
Dinkes Tarakan masih menunggu laporan surveilans berikutnya untuk melihat apakah terjadi perubahan jumlah kasus ISPA seiring kondisi udara dan cuaca di Tarakan serta perkembangan karhutla di sejumlah wilayah Kaltara.
Lebih lanjut dikatakan dr Devi, P2P ISPA adalah program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) untuk menangani Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Program ini sendiri secara resmi dilaksanakan di puskesmas dan Dinkes. Tujuannya menekan angka kesakitan serta kematian, terutama pada anak balita akibat pneumonia.
"Ketika ditemukan kasus maka dilakukan penanganan dengan pemberian pengobatan agar infeksi tak menjadi parah," pungkasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah