IBARAT makan buah simalakama.
Kondisi ini dihadapi para penjual makanan di seputaran Kampus Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Sulawesi Utara (Sulut).
Kenaikan harga bahan-bahan pokok seperti beras, tahu tempe, minyak goreng membuat pedagang dilematis.
Kenaikan harga menambah ongkos produksi para pelaku UMKM ini.
Kendati begitu, tidak otomatis mereka menaikkan harga.
Situasi ini dirasakan Kasti, penjual sate, gado-gado dan nasi goreng di Kelurahan Bahu lingkungan 3, Manado.
Kasti berjualan di seputaran Kampus Unsrat.
Gerobaknya mangkal di teras rumah warga.
Kasti melayani pelanggan sejak sore hingga jelang tengah malam.
Ia berkeluh kesah, sebagian besar bahan pokok pada naik.
Beras misalnya saat ini sudah hampir Rp 90 ribu untuk kemasan 5 kg.
Ia menyebut merek beras premium yang biasa digunakan untuk bahan nasi goreng dan lontong.
Belum lagi tahu tempe.
Harga memang tidak dinaikkan tapi potongannya jadi lebih kecil.
"Kacang tanah sudah duluan naik malahan. Saya pakai kacang banyak kan sambal kacang untuk sate, gado-gado dan ketoprak," ujarnya kepada Tribunmanado.co.id, awal pekan ini.
Pria yang telah berjualan lebih dari dua dekade serba salah.
"Saya tak naikkan harga karena sayang.
Kasihan langganan saya mas, mahasiswa," katanya lagi.
Ia mengungkapkan, musim kemarau dua bulan terakhir juta memberi pukulan.
Harga sayuran juga naik.
Sayur kol (kubis) jadi mahal.
"Sebonggol kecil, sepuluh ribu. Itu biasanya lima ribu. Timun makan juga naik. Sekarang lima ribu satu yang biasanya sepuluh ribu tiga," katanya lagi.
Kasti yang selalu ditemani sang istri berharap pemerintah bisa mengendalikan harga bahan pokok.
Dengan begitu tidak dilema.
"Jualan makanan harga naik pengaruhnya besar," katanya lagi.
Setali tiga uang, sejumlah pemilik warung makan di seputaran Bahu Mall juga terjepit di antara kenaikan harga bahan pokok.
"Awal tahun kami sudah naikkan sebagian harga. Menu daging sudah 20 ribu. Kalau naik lagi, pelanggan bisa lari," kata Syane, pemilik warung makan "selera Minahasa".
Untuk efisiensi, sebagian besar warung tak lagi meluaskan pelanggan ambil nasi sendiri.
Jika sebelumnya pelanggan ambil sendiri sesuka hati.
Kini porsi nasi diukur pelayan.
"Tapi kalau ada yang minta tambah, kami tetap layani. Kasihan juga kan, sama-sama dari hidup," kata Syane.
Katanya, sebagian besar pelanggannya adalah karyawan yang bekerja di FreshMart dan pusat bisnis Bahu Mal dan ojek online.
"Ya nasi 15 ribu pakai ikan laut yang paling banyak dibeli," katanya.
(Tribunmanado.co.id/Fernando Lumowa)
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK