Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Charles Abar
TRIBUNFLORES.COM, BAJAWA – Suasana haru menyelimuti tenda pengungsian warga Desa Lengkosambi, Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (20/8/2026).
Di tengah keterbatasan dan rasa takut yang belum sepenuhnya hilang, ratusan warga masih bertahan di tenda-tenda darurat. Sebagian mengungsi di halaman Kantor Desa Lengkosambi, sementara lainnya berada di tenda yang didirikan di atas bukit tak jauh dari kantor desa.
Sebagian warga memilih bertahan di tenda darurat yang dibangun secara mandiri di sekitar rumah masing-masing. Sudah beberapa hari mereka hidup dalam ketidakpastian. Setiap kali gempa susulan terjadi, rasa cemas kembali muncul, terutama bagi anak-anak dan warga yang rumahnya mengalami kerusakan.
Kondisi tersebut terlihat saat Ketua DPD IKAL Lemhannas NTT, Dr. Dr. RD. Rofinus Neto Wuli, S.Fil., M.Si. (Han), yang akrab disapa Romo Roni, mengunjungi langsung posko pengungsian di Kantor Desa Lengkosambi.
Baca juga: Warga Nitung Lea Palue Sikka Terisolasi Pascagempa, Stok Makanan Menipis Terpaksa Makan Ubi
Dalam kunjungan itu, IKAL Lemhannas NTT tidak hanya datang membawa bantuan, tetapi juga memberikan penguatan kepada warga yang masih diliputi trauma.
Bantuan yang disalurkan berupa 1,5 ton beras, lebih dari 200 paket sembako, terpal, tikar dan air minum. Bantuan tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dasar warga yang masih bertahan di pengungsian dan belum bisa kembali menjalani kehidupan normal.
Namun, bagi warga Lengkosambi, kehadiran Romo Roni dan rombongan bukan semata-mata soal bantuan logistik.
Ia duduk bersama warga, menyapa para lansia, ibu-ibu dan anak-anak, sekaligus mendengarkan cerita mereka selama berada di pengungsian.
Suasana yang semula dipenuhi kecemasan perlahan berubah ketika anak-anak diajak bernyanyi bersama. Tawa mereka terdengar di tengah suasana pengungsian yang selama beberapa hari diliputi ketakutan.
Meski demikian, di balik senyum dan tawa anak-anak, trauma akibat gempa masih terasa. Momen pertemuan tersebut bahkan membuat sejumlah warga meneteskan air mata.
Romo Roni mengatakan kecemasan yang dirasakan masyarakat Lengkosambi merupakan duka bersama sebagai sesama anak bangsa.
“Duka dan kecemasan masyarakat Lengkosambi, gempa-gempa susulan dan bayangan tsunami sesungguhnya adalah duka dan kecemasan kita, anak-anak Tuhan dan kita semua anak bangsa di Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Romo Roni.
Menurutnya, kehadiran di tengah masyarakat yang sedang menghadapi bencana merupakan bagian dari semangat kebangsaan yang terus dijaga IKAL Lemhannas.
Semangat kebangsaan, kata dia, bukan hanya tentang persatuan, tetapi juga bagaimana hadir dan saling menguatkan ketika masyarakat menghadapi kesulitan.
Bagi warga Lengkosambi, gempa tidak hanya meninggalkan kerusakan pada rumah dan fasilitas umum. Bencana tersebut juga meninggalkan rasa takut, terutama bagi anak-anak.
Marselina Sabe, salah seorang warga, mengatakan anak-anak di wilayah tersebut masih mengalami kecemasan dan kepanikan setelah gempa mengguncang Flores.
Ia sendiri mengaku masih trauma dengan kejadian tersebut. Saat gempa terjadi, Marselina bersama keluarganya berusaha menyelamatkan diri dari rumah yang mulai mengalami kerusakan.
“Saat kejadian, untung kami bisa menyelamatkan diri. Di antara tiang-tiang rumah sudah terbelah, sedangkan yang lain runtuh,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut membuat dirinya dan keluarga belum sepenuhnya merasa aman meski telah berada di lokasi pengungsian.
Kehadiran Romo Roni di tengah warga pun dinilai memberikan kekuatan tersendiri.
“Terima kasih Romo sudah memberi kekuatan bagi kami, di tengah gempa susulan yang terus terjadi,” katanya.
“Kami menyampaikan terima kasih karena masih ada yang mau peduli dengan kami. Kami belum kuat, masih trauma,” lanjutnya.
Marselina berharap pemerintah dan pihak terkait tidak hanya memperhatikan kebutuhan logistik pengungsi, tetapi juga kondisi psikologis mereka, terutama anak-anak dan remaja.
Menurutnya, anak-anak membutuhkan pendampingan agar mampu memahami dan menghadapi situasi bencana tanpa terus dihantui ketakutan.
“Kami berharap mungkin ada pembekalan bagi anak-anak kami, seperti anak SD dan SMP. Mereka mungkin belum siap menghadapi situasi seperti ini. Agar mereka berani menghadapi situasi seperti ini,” ujarnya.
Persoalan lain juga dirasakan warga lanjut usia. Ferdinandus Demu (60), warga setempat, menyampaikan apresiasi kepada IKAL Lemhannas yang telah menyalurkan bantuan kepada masyarakat.
Menurutnya, bantuan berupa beras, sembako, terpal, tikar dan air minum sangat berarti bagi warga yang masih bertahan di pengungsian.
Namun, ia berharap penyaluran bantuan ke depan dapat lebih memperhatikan warga yang paling membutuhkan, termasuk para lansia yang tidak mampu mendatangi pusat pengungsian.
“Banyak lansia yang tidak datang mengungsi di pusat karena ada sakit bawaannya,” katanya.
Sebagian warga lanjut usia memiliki penyakit bawaan sehingga kesulitan bergerak menuju posko utama. Kondisi tersebut membuat mereka berisiko tidak mendapatkan bantuan apabila distribusi hanya dipusatkan di satu lokasi.
Bagi warga Lengkosambi, bantuan logistik memang penting. Namun, di tengah trauma yang belum pulih, kehadiran orang yang mau datang, duduk bersama, mendengarkan cerita dan memberikan penguatan menjadi sesuatu yang tidak kalah berarti.
Sebab, pemulihan setelah gempa bukan hanya tentang membangun kembali rumah yang rusak. Lebih dari itu, warga juga sedang berusaha membangun kembali rasa aman yang hilang sejak bumi berguncang.
Lengkosambi merupakan salah satu desa di Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, NTT. Desa ini berada tak jauh dari pesisir pantai utara Flores.
Sebagian besar masyarakat Lengkosambi merupakan warga suku Flores dengan mata pencaharian utama sebagai petani. (cha)