Anak Main HP hingga 7 Jam Sehari, DPRD Jatim Minta Orang Tua Hadir Sebagai Pendamping
Dyan Rekohadi August 21, 2026 07:32 PM

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Maraknya fenomena ketergantungan gawai di kalangan anak-anak saat ini sudah berada di tingkat yang sangat mengancam dan membutuhkan perhatian serius.

Kondisi tersebut tidak lagi bisa dipandang sebelah mata tanpa adanya pengawasan ketat dari lingkungan keluarga, lembaga pendidikan, maupun masyarakat sekitar.

Keresahan mendalam ini diungkapkan secara langsung oleh Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Suli Da'im.

Baca juga: Ribuan Pekerja di Jawa Timur Terancam Terdampak PHK, PDIP DPRD Jatim Minta Pemprov Bergerak

 

Anak-Anak Jadikan Gadget Ruang Hidup Kedua

Mengutip data resmi WHO dan UNICEF, ia membeberkan bahwa durasi anak menatap layar gawai pasca pandemi Covid-19 rata-rata mencapai 5 sampai 7 jam per hari.

Angka tersebut menandakan bahwa hampir separuh dari aktivitas harian anak habis dieksploitasi di depan layar kaca.

"Kecanduan gadget pada anak saat ini sudah masuk tahap yang mengkhawatirkan. Karena apa? Karena gadget ini bukan sekadar lagi sebagai alat komunikasi atau media belajar, tetapi telah menjadi ruang hidup kedua," kata Suli saat hadir di Studio TribunJatim Network dalam serial Podcast Ngobrol Bareng Dewan.

Suli menilai situasi ini sangat gawat lantaran anak-anak masa kini justru lebih menikmati interaksi dengan gawai ketimbang bersosialisasi di dunia nyata.

Baca juga: DPRD Jatim Dorong Kesetaraan Hak Pendidikan Negeri dan Swasta dalam RUU Sisdiknas

 

Ancaman Gangguan Psikologis Behavioral Addiction

Persoalan ini dipandang sebagai tugas besar bersama yang tidak bisa diselesaikan dengan cara-cara yang sederhana.

Dilihat dari sudut pandang psikologi perkembangan, fenomena kecanduan gawai ini dikenal dengan istilah behavioral addiction.

Kondisi ketergantungan perilaku ini merangsang pelepasan hormon dopamin secara berlebihan di otak akibat paparan stimulasi digital yang terus-menerus.

Dampaknya sangat nyata terhadap kesehatan mental serta pola interaksi sosial anak di kehidupan sehari-hari.

"Kalau separuh dari kehidupan sehari-harinya digunakan untuk menggunakan gadget, kebutuhan belajarnya kebagian berapa, peningkatan kualitas dirinya kebagian berapa?," ujar Suli yang juga merupakan Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya ini.

Baca juga: DPRD Jatim Dukung Pembatasan Gadget di Sekolah, Tekankan Juknis Harus Aplikatif

 

Bukan Melarang, Tapi Mengarahkan Teknologi

Perkembangan teknologi informasi memang memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang bak mata uang.

Pemanfaatan gawai dapat membawa dampak positif jika dikelola secara optimal, namun akan menjadi ancaman merusak apabila digunakan secara berlebihan oleh anak.

Suli menekankan bahwa melarang penggunaan gawai secara total merupakan hal yang mustahil dilakukan di era digital saat ini.

"Apakah kita melarang? Tidak akan mungkin, karena gadget-nya ada dan eranya sudah berubah. Bukan era zaman saya dulu yang cukup gobak sodor atau apa sudah cukup hiburan kita. Kalau sekarang tidak seperti itu karena fasilitas melekat pada diri kita semua," jelasnya.

Baca juga: Jangan Cuma Melarang Gadget Ke Anak, Pakar Unair: Orang Tua Harus Hadir

 

Pentingnya Pendampingan Orang Tua dan Guru

Pemerintah sendiri telah berupaya membatasi penggunaan gawai di sekolah melalui Surat Edaran Nomor 18 Tahun 2026 yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Suli menyambut positif kebijakan tersebut, meski ia menegaskan bahwa aturan di atas kertas tidak akan berjalan efektif tanpa komitmen penuh dari para orang tua.

"Harus ada kesungguhan, bukan sekadar aturan administratif. Orang tua juga harus peduli," ucap politisi senior PAN ini.

Ia mengajak seluruh pihak untuk memosisikan teknologi bukan sebagai lawan, melainkan instrumen yang wajib dikendalikan secara bijaksana demi tumbuh kembang anak.

Kehadiran orang tua serta pendidik di sekolah diharapkan tidak sebatas menjadi pengawas yang rajin melempar larangan, melainkan hadir sebagai pendamping emosional.

"Kita tidak mungkin menjauhkan anak dari gadget, tapi bagaimana gadget menjadi irama yang melahirkan nada indah untuk mencapai harapan dan cita-cita anak. Jangan jadi pengawas yang selalu memunculkan kata larangan, tapi jadilah pendamping untuk melahirkan anak-anak yang bertanggung jawab," tandasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.